
BUDAYAKAN SETELAH MEMBACA TEKAN LIKE ๐.
Masih di dalam kamar milik Abraham.
Srekkkkkk..... tiba-tiba resleting kebaya itu di tarik oleh Abraham membuat Arin kaget seketika.
"Pasti kamu sedang kegerahan, jadi aku bantu melepaskan kebaya ini," tanya Abraham seolah tanpa rasa bersalah dan jangan lihat bagaimana wajah Abraham saat ini di penuhi dengan senyuman mesum yang ingin menerkam Arin.
'Aduh bagaimana ini,' batin Arin.
Arin melihatnya pun sedikit ngeri.
'Benar-benar aku tidak bisa lari lagi dari lelaki mesum ini, aaahhh.......' Batin Arin kesal.
"Tidak, aku tidak gerah. Kenapa kamu melepaskannya tanpa meminta persetujuanku" protes Arin dengan cepat saat melihat kebaya itu meluncur bebas dan teronggok di lantai.
"Ck.... Terus ini apa?" Decak Abraham sambil mengelap bulir keringat yang ada di wajah Arin dengan tangan nya yang hangat.
"I-ini..." Jawab Arin, dengan cepat dia menepis tangan Abraham dan dengan cepat menyeka keringat di wajahnya dengan kedua tangannya.
"Emmm... Lepaskan aku, aku mau ma-ndi," kata Arin meskipun dengan gugup, dia berusaha untuk mencoba melepaskan tangan Abraham yang melingkar di tubuh Arin.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha.... Jangan takut sayangku, aku cuma ingin membantumu saja," kata Abraham dengan tawa yang begitu lepas.
Kebiasaan Abraham saat ini adalah menggoda Arin.
Abraham sungguh sangat senang menggoda Arin, dia begitu suka melihat wajah Arin yang ketakutan, tetapi justru terlihat begitu mengemaskan di mata Abraham.
Ya itulah cinta yang di lihat Abraham dari Arin.
Arin mendelik mendengar ucapan Abraham yang ingin membantunya, Arin semakin di buat takut memikirkan apa saja yang di lakukan Abraham kepada nya nanti.
'Haaaduhhh bagaimana ini caranya agar bisa lepas dari pria mesum ini malam ini,' batin Arin memikirkan berbagai cara di otaknya.
'Apa aku pura-pura sakit perut ya,' batin Arin memikirkan cara licik.
Arin tersenyum misterius, Abraham yang melihatnya pun curiga tetapi dia berpura-pura tidak mengerti.
'Apa yang saat ini sedang kamu rencanakan kucing nakal, hmmm... Aku ingin lihat apa yang akan kamu lakukan,' batin Abraham ikut tersenyum penuh makna.
"Aduuuhh ..... Aaaa... Sakit... Perutku sakit.... Hiks hiks hiks hiks ," Arin berpura-pura merintih memegang perutnya, Arin bernafas lega meskipun kebaya itu sudah teronggok di lantai tetapi dia masih menggunakan kaos dalaman yang sangat minim serta memperlihatkan lekuk tubuh Arin.
"Kenapa kamu sayang?" Tanya Abraham mengikuti kemauan Arin. Abraham berusaha menampilkan wajah cemas.
Sedangkan Arin berpura-pura memegang perutnya karena sakit, dia memejamkan mata nya sambil terus merintih kesakitan.
'Semoga saja dia percaya dengan sandiwara ku ini' batin Arin.
"Aaa... Sakit... Sakit sekali, Aduuuuh sepertinya aku datang bulan," kata Arin mendramatisir keadaan.
'Dasar kucing kecil nakal, bagus juga akting kamu, lihat saja bagaimana aku mengatasi kelicikan mu,' guman Abraham di dalam hatinya dengan senyum samar.
"Sebentar ku ambilkan obat untuk menghilangkan rasa sakit ini," kata Abraham berlalu pergi.
'Yes dasar pak tua mau saja ku bohongin, ha ha ha ha ha ha ha.... Padahal tadi ku kira dia tidak mudah percaya begitu saja,' batin Arin tersenyum senang.
Arin membuka sedikit mata nya untuk mengintip apa yang di lakukan oleh Abraham, Arin bernafas lega saat melihat Abraham menjauh darinya dan membuka sebuah lemari penyimpanan.
Arin menyergit aneh.
'Apa yang akan dia lakukan,' batin Arin binggung menebak apa yang Abraham lakukan.
Abraham membuka lemari, dia tersenyum licik. Dia memegang botol itu dengan senyum sekilas penuh kelicikan.
'Wanita polos seperti mu pasti tidak tahu apa yang tengah ku pegang saat ini,' batin Abraham.
'Sebenarnya aku juga penasaran ini minuman apa, awas saja kalau dokter mesum itu berani membohongiku katanya ini minuman untuk menambah semangat bagi pasangan suami istri, ah aku coba saja dulu ,' guman Abraham lebih lanjut di dalam hatinya.
Abraham pun kembali dengan membawa sebuah botol kecil.
"Nih coba kamu minum untuk menghilangkan rasa sakit," kata Abraham menyodorkan minuman di dalam botol kecil ke arah Arin.
"A-apa ini?" Tanya Arin membolak-balikkan botol yang tengah dia pegang.
"Ini untuk menghilangkan rasa sakit," kata Abraham meyakinkan Arin.
'Apa ini, ah jangan-jangan dia mau meracuniku,' batin Arin.
Tiba-tiba tubuhnya gemetar ketakutan.
"A-ku tidak mau meminumnya," kata Arin menolak keras.
"Oh ya sudah terserah kamu, apa kamu cuma berpura-pura?" Kata Abraham cuek tetapi tepat sasaran.
Glek....
Arin di buat mati kutu untuk ke sekian kalinya di hadapan pria bermata elang itu.
"Aku tidak menipu mu," Arin masih berusaha mengelak.
Ah Arin di buat dilema, antara meminum minuman yang terlihat aneh dan tak tahu dari efek minuman itu atau dia akan ketahuan berbohong.
'Hiks hiks hiks hiks hiks hiks.... Apa yang harus ku lakukan,' batin Arin menangis kesal.
Arin tak tahu harus memilih apa, dia terjebak sendiri dalam permainan yang dia baru mulai.
"Oh jadi kamu menipu aku," kaya Abraham memicingkan mata nya menatap Arin dengan begitu tajam.
Glekkk.....
"Siapa? Aku," tunjuk Arin pada dirinya sendiri.
"Ck siapa lagi kalau bukan kamu," kata Abraham berdecak kesal.
Keluar dari kandang harimau, masuk kandang singa itulah pribahasa ini yang cocok untuk Arin saat ini.
Abraham mendekat ke arah Arin.
"Kamu tahu yang akan terjadi kepada siapapun yang berani berbohong ke pada Abraham," kata Abraham penuh penekanan.
"T-tidak bukan, aku tak berniat menipu mu," jawab Arin dengan terbata.
"Ck dasar kucing nakal, kamu harus dapat hukuman dari ku," setelah mengucapkan kata itu Abraham menuju sofa.
Dengan santainya Abraham mengambil minuman kaleng setelah itu dia duduk di sofa, Abraham sesekali mulutnya menyesap minuman yang ada di tangannya dengan tenang sambil memandang ke arah Arin.
Arin masih diam seribu bahasa karena ketakutan.
"A-ku minta maaf," lirih Arin.
"Terus...." Jawab Abraham begitu santai.
"Tolong maafkan aku," cicit Arin.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk meyakinkan ku supaya menerima permintaan maaf dari ku," kata Abraham dengan tegas.
Glekkkk.......
'Aku harus bagaimana, otak cepat cari cara nya,' batin Arin binggung memikirkan cara nya.
"Cepat katakan..." Bentak Abraham.
"Apa mau mu?" Tanya Arin karena dia malas menebak.
"Aku mau.... KAMU," Arin melotot mendengar nya.
Arin gemetar dia takut tak tahu harus berbuat apa, Arin mundur ke belakang mencoba menghindari Abraham.
Arin melirik pintu kamar mandi, dengan cepat dia melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Hos hos hos hos hos hos....
"Akhirnya aku bisa lolos dari om tua mesum itu," kata Arin masih di balik pintu kamar mandi.
Sedangkan Abraham terkekeh melihat tingkah konyol Arin.
B E R S A M B U N G.....