
Arin dengan wajah di tekuk kembali ke ruang tengah.
"Cuma mau berenang saja tidak boleh," sungut Arin kesal kepada Abraham.
"Awas saja nanti malam, biar dia tidur di luar," grutu Arin.
Arin menggerutu tak jelas dengan suara kecil.
Tap tap tap tap...
Tanpa di duga Bimo dan Doni muncul, keduanya berjalan menuju ke arah Arin. Sampailah mereka di belakang Arin namun Arin tak menyadari nya.
"Ini mangga muda pesanan nyonya," kata Bimo menyerahkan mangga itu meskipun dengan wajah kikuk karena melihat wajah jutek nyonya mereka.
"Eh...." Arin tersentak kaget mendengar seseorang memanggilnya.
'Apa Doni dan Bimo tadi mendengar ucapan ku ya, ish buat malu saja,' batin Arin cemas.
"Nyonya, ini pesanan tadi pagi," Doni mengulang perkataan Bimo.
Arin mengerutkan keningnya saat melihat Bimo dan Doni sudah ada di depannya. Baju mereka yang biasanya rapi terlihat berantakan.
Bimo menyerahkan satu kantong kecil berisi mangga 3 biji yang itu ke arah Arin.
"Cuma 3?" Tanya Arin saat melihat isi dalam kantong plastik berukuran kecil.
"Iya nyonya," jawab Doni.
'Cuma 3 nyonya bilang, aduh nyonya kalau tahu tuh harga mangga bisa-bisa semua juragan mangga heboh banyak yang mau jual mangga ke sini,' batin Doni.
'Hiks hiks hiks hiks hiks jadi pengen nangis bombai, apa nyonya gak tahu perjuangan mendapatkan mangga itu harus ke kota sebelah, untung ada yang berbuah,' batin Bimo.
"Kalian kucel banget sih, tuh muka sampai begitu. Pasti kalian belum mandi," tebak Arin.
'Hadeh nyonya Arin, bukannya senang dapat mangga malah menilai penampilan kami berdua yang sudah seperti tak terurus begini,' batin Bimo.
Doni melirik kearah Bimo, Doni baru sadar penampilan mereka berdua mengenaskan.
Arin menutup hidungnya.
"He he he he he," keduanya malah cengengesan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Keduanya pun berbalik hendak pergi meninggalkan tempat ini menuju ke paviliun belakang.
"Eh kalian mau ke mana?" Tanya Arin kepada keduanya.
"Lho tadi nyonya nyuruh kita mandi," jawab Doni.
"Ini kalian bawa ke dapur sekalian, suruh Art yang lain buat potong kecil-kecil sama buatin bumbu rujak ya tetapi cabe harus warna hijau 5, cabe yang merah 4 ya," pinta Arin menyerahkan bungkus itu kepada Doni lagi.
"Em kalau ada bengkoang sama, timun dan belimbing pasti enak," guman Arin namun di dengar oleh Doni dan Bimo.
'Waduh gawat, baru saja mau mandi alamat tidak jadi lagi,' guman Doni di dalam hati.
'Kok perasaan ku mendadak gak enak gini ya, wah aku harus kabur dari sini secepatnya,' batin Bimo.
Bimo maupun Doni saling melirik memberi kode, keduanya berusaha berjalan cepat berpura-pura tak mendengar ucapan nyonya nya itu.
"Bim...." Panggil Arin.
Glek....
'Nasib nasib, hamil anak siapa kenapa aku harus repot begini,' batin Bimo.
Baru saja mau membayangkan empuknya kasur milik nya.
Sedangkan Doni dengan cepat kabur ke arah dapur, menghindari bumil yang permintaannya suka buat repot.
"Eh kenapa tuh Doni lari ke dapur," Arin kaget melihat Doni berlari ke arah dapur seperti di kejar sesuatu.
"He he he he he mungkin Doni haus," jawab Bimo.
B E R S A M B U N G...
LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE JUGA ๐