Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 94


"Terimakasih juga karena kamu telah menerima ku," jawab Andi.


"Kalau begitu boleh tidak ku panggil sayang," pinta Andi malu-malu.


Veli tersenyum, harusnya dia yang bahagia dan malu-malu bertatapan tetapi justru Andi yang terlihat antusias dan malu-malu kucing.


Veli mengangguk setuju, kemudian keduanya pun memesan makanan kesukaan mereka dan menikmati makanan dengan saling berpandangan.


Siapapun berhak bahagia, berhak di cintai begitu juga dengan Veli, masa lalu tak akan bisa berubah. Tetapi masa depan bisa berubah lebih baik kalau kita mau berusaha untuk merubahnya ke arah yang lebih baik lagi.


Kesempatan tidak hadir 2 kali begitupun dengan cinta tulus tidak akan hadir untuk kedua kalinya, hargailah cinta itu seperti engkau menghargai dirimu sendiri.


Itulah saat ini yang tengah Veli rasakan. Veli bertekad untuk mencintai Andi tulus dan menerima semuanya kekurangan maupun kelebihan yang ada di dalam diri Andi. Veli tak ingin cinta semu seperti cintanya dulu, Veli ingin cinta tulus dan itu dia dapatkan di mata Andi.


"Terimakasih karena mu aku bisa menemukan arti cinta sesungguhnya," lirih Veli mengengam tangan Andi.


Andi tersenyum mengusap tangan Veli dengan lembut.


"I love you," lirih Andi.


"I love you too," jawab Veli tersipu malu.


Veli menyapu seluruh tempat ini, mengingat nya dalam memory. Tempat dimana Andi melamar dirinya.


Deg....


"Arin ...." Guman Veli saat tak sengaja matanya menatap wanita hamil yang baru masuk ke sana.


Terpancar kerinduan sekaligus penyesalan di mata Veli.


"Siapa sayang apa kamu mengenalnya?" Tanya Andi karena dia melihat reaksi Veli yang langsung sendu, wajah cantik yang tadi tersenyum di depan nya berubah murung.


"Dia Arin sahabat baik yang telah ku bohongi, yang telah ku buat hidupnya menderita. Hiks hiks hiks hiks hiks, dia yang telah ku buat hidupnya hancur, aku adalah sahabat yang buruk, hiks hiks hiks hiks hiks," jawab Arin dengan sesenggukan menahan sesak di dada.


Andi pun berdiri, dia langsung mendekati Veli dan memeluknya.


"Stttt sayang, sudah jangan menyalahkan mu. Semua orang pasti punya masa lalu, sekarang kamu juga sudah berubah dan kamu pun saat ini sudah belajar untuk berbuat baik, jadi jangan sedih lagi," kata Andi menenangkan Veli.


"Hiks hiks hiks hiks tetapi aku masih di hantui rasa bersalah, apalagi gara-gara aku hidup dia menderita dan kehilangan ayah nya," jelas Veli.


Andi menghela nafas berat, dia sudah tahu semua masa lalu Veli yang begitu buruk itupun dari Veli sendiri, Veli sengaja memberitahukan tentang masa lalunya kepada Andi karena dia ingin semua di awali dengan kejujuran.


"Bagaimana kalau kita samperin mereka dan kamu meminta maaf langsung ke sahabat kamu," usul Andi mengengam tangan Veli yang tengah resmi menjadi calon istrinya itu.


Veli memandang Andi dengan ragu-ragu, apakah Arin mau memaafkan semua kesalahan nya.


Veli mengeleng pelan, dirinya takut Arin tak mau memaafkan dirinya. Begitu banyak keraguan di benak Veli saat ini mengingat semua perlakuan buruknya kepada Arin di masa lalu.


Veli mengeleng, dia belum siap bertemu dengan mantan sahabatnya itu.


"Ayo sayang, bagaimana kalau kita mencoba nya?" Bujuk Andi.


"Aku takut dia tidak mau memaafkan ku," lirih Veli menjelaskan perasaan takut di hatinya sedari tadi.


Veli meremas tangannya yang tiba-tiba terasa dingin, dia masih fokus ke Arin.


"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba nya?" Andi terus membujuk Veli, dia masih kekeh ingin supaya wanita pujaan nya ini segera meminta maaf agak tak di hantui rasa bersalah tiap hari.


"Tetapi....." Belum sempat Veli berbicara, Andi sudah berteriak memanggil Abraham.


"Tuan Abraham... " Teriak Andi melambaikan tangan nya ke arah mereka.


Veli pun mengurungkan niatnya, matanya melotot tak percaya saat melihat Andi memanggil nama Abraham.


'Ha apakah Andi kenal dengan suami Arin,' batin Veli menatap lelaki tampan di depannya.


Abraham yang merasa di panggil namanya pun menoleh.


Mata nya yang sedari awal menyapu ke seluruh arah mencari orang yang memanggilnya, pun langsung berhenti saat orang itu melambaikan tangan ke pada Abraham.


Abraham menatap dengan mengerutkan keningnya.


"Entahlah," jawab Abraham cuek.


Pasalnya Abraham tak begitu jelas melihat Andi dari kejauhan karena terhalang oleh orang lain.


"Mungkin dia teman mas, atau rekan bisnis karena tak mungkin orang itu memanggil kalau tidak kenal," jelas Arin.


"Sayang mau makan apa?" Tanya Abraham kepada kedua bocah kembar.


"Ayam Kentucky ma," jawab Abrian.


"Kalau Aurel sayang mau pesan apa?" Tanya Arin mengusap lembut kepala sang anak.


"Aurel mau burger ma sama es krim ya ma," pintanya.


Arin mengelengkan kepalanya mendengar permintaan sang putri.


"Sayang jangan makan es krim ya, ingat gak pas sakit gigi kemarin," bujuk Arin.


"Ma Abrian mau tambah sate boleh," tanya Abrian berbinar. Arin mengangguk sebagai tanda boleh.


"Apa aku tidak di tanya sayang, mau makan apa?" Kata Abraham sedih. Bukannya merasa kasihan justru Arin tertawa renyah melihat wajah sang suami yang memelas terlihat lucu.


"Sayang kamu tidak cocok dengan wajah seperti itu," kata Arin terkekeh.


"Suamiku yang tampan ini mau makan apa?" Tanya Arin menggoda Abraham.


"Terserah, apapun yang istriku pilihkan pasti enak," rayu Abraham.


"Ck ingat umur," cibir Arin membuat keduanya terkekeh bersama.


Arin pun memesan berbagai makanan untuk dirinya sendiri, Abraham dan kedua anaknya.


Sedangkan di meja Veli dan Andi.....


Veli menahan tangan Andi agar Andi tak menghampiri mereka.


"Kenapa kamu mencegah ku sayang?" Tanya Andi.


"Lihatlah mereka begitu bahagia, aku tak ingin kehadiranku di sana membuat makan mereka terganggu," jelas Veli.


"Ayolah sayang kita ke sana, kesempatan ini tidak datang dua kali," bujuk Andi.


"Aku takut, lihatlah banyak orang di sini. Aku tak mereka tak memaafkan ku terus mempermalukan kita," lirih Veli.


Berbagai macam pikiran buruk ada di benaknya.


Andi menghela nafas panjang, susah sekali membujuk wanita cantik itu.


"Baiklah, bagaimana kalau kita tunggu mereka keluar atau tunggu tempat ini sepi," Andi pasrah tetapi dia masih membujuk sang kekasih.


Veli mengangguk setuju.


"Terimakasih mau memahami ku," kata Veli tersenyum ke arah Andi.


"Apa kamu ingin tambah lagi?" Tanya Andi.


Veli mengeleng. "Aku sudah kenyang," jawabnya.


"Oh ya kamu belum pernah coba es krim di sini enak, bagaimana kalau kita pesan 2," kata Andi.


"Ya sudah, aku mau rasa strawberry," pinta Veli.


'Aku akan berusaha memperbaiki masa depanmu sayang, aku ingin kamu bisa ceria tanpa beban. Aku tak ingin kamu terus menyesal,' batin Andi.


B E R S A M B U N G....


SETELAH MEMBACA LIKE YA BIAR SEMANGAT UPDATE