Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 80


Abraham pun melihat Arin yang masih betah mendiamkan nya, keduanya terdiam sampai di dalam mobil sampai mobil yang membawa mereka berdua sampai di depan mansion.


Baik Abraham maupun Arin kedua turun, memasuki mansion.


"Hore.... Mama dan papa pulang," teriak Aurel yang heboh saat melihat keduanya sudah memasuki ruang tamu.


"Sayang jangan teriak-teriak dan lari-lari," peringatan Abraham, dia tak ingin putri nya itu jatuh.


"Mana kak Abrian?" Tanya Arin saat tak melihat anak laki-lakinya.


"Oh Abrian lagi belajar ma di kamar," jawab Aurel sambil memakan coklat kesukaan nya.


"Oh..." Arin hanya ber o ria.


"Kenapa Aurel tidak belajar?" Tanya Abraham kepada sang putri.


"He he he he Aurel kan tidak ada PR Pa," jawab Aurel menampakkan deretan gigi susu nya.


"Ya sudah, mama tinggal mandi dulu ya," kata Arin pamit kepada anak nya.


"Papa sama Mama bersih-bersih dulu ya sayang, sekarang Aurel temani kak Abrian belajar gih," kata Abraham di angguki oleh sang anak.


Aurel pun mengangguk saat mendengar kata dari papa dan mama nya. Dia pun bergegas menuju kamar Abrian.


Di dalam kamar....


"Sayang apa kamu masih marah?" Tanya Abraham mendekati sang istri yang tengah duduk di ranjang.


"Hmm..." Jawab Arin singkat membuat Abraham menghela nafas berat.


"Bukan aku tak ingin kehadiran anak di dalam kandungan mu tetapi jujur aku ingin anak kembar, coba bayangkan kalau tiap kamu hamil anak kita kembar. Pasti ramai rumah kita, ah membayangkan saja rasanya aku tak sabar ingin membuat mu hamil lagi setelah anak kita lahir nanti. Aku ingin punya 5 atau 6 anak pasti seru," kata Abraham sambil membayangkan dia mempunyai 6 orang anak.


Sedangkan Arin yang mendengar nya melotot, rasanya tenggorokan nya tiba-tiba kering.


'Apa dia bilang 6 anak, memang dia pikir aku mesin pencetak anak,' batin Arin bersungut-sungut kesal.


"Bagaimana sayang?" kata Abraham memandang ke wajah Arin dengan semangat sambil tersenyum secerah matahari pagi.


"Aku sih mau saja," kata Arin membuat senyum Abraham semakin lebar.


"Benar sayang?" Tanya Abraham dengan berbinar memastikan apa yang dia dengar.


"Hmm.... Benar tetapi nanti yang hamil mas ya," kata Arin.


Arin pun berdiri, dia melangkah kaki nya menuju ke arah kamar mandi.


Abraham masih kaget mendengar jawaban dari sang istri.


"Hah mana ada lelaki hamil," guman Abraham. Dengan langkah pasti Abraham pun mengekor sang istri tetapi sangat di sayangkan Arin dengan cepat menutup pintu kamar mandi.


Tok tok tok tok tok....


"Sayang buka pintu nya, aku juga ingin mandi bareng," Abraham mengetuk pintu kamar mandi.


"Biarin saja dia di luar kalau dia masuk nanti aku tidak bisa mandi dengan tenang," cebik Arin memonyongkan bibirnya karena kesal.


Arin pun tak menghiraukan Abraham, dia tetap asyik melakukan ritual mandi nya. Arin pun berendam di bak kamar mandi untuk menghilangkan rasa lelah tubuhnya.


****


Di tempat jauh, tepatnya di sebuah gang tempat yang terkenal kumuh...


Veli berjalan terus berjalan, tak tahu kemana arah nya pergi.


Veli begitu kaget saat dia berada di daerah ini.


"Hah aku ada di mana?" Guman Veli tiba-tiba dia sedikit ketakutan.


Veli pun melangkah dengan pelan, kakinya terasa sakit karena terkena sedikit goresan saat dia sedang melarikan diri dari anak buah dokter Rian dan hendra.


Veli memandang ke seluruh arah. Veli di buat kaget kenapa dia bisa sampai di tempat seperti ini. Dia binggung harus kemana dan berbuat apa.


Tetapi Veli merasa tak nyaman tatapan mata dari beberapa orang yang lalu-lalang membuat Veli cukup ketakutan.


Ibu-ibu menatap sinis ke arah Veli karena pakaian Veli begitu menggoda, sedang pemuda maupun bapak-bapak menatapnya dengan berbeda.


Meski kaki nya sakit, dia terpaksa menyeret langkah nya dengan cepat mencari tempat perlindungan.


Tiba-tiba ada segerombolan pemuda yang biasanya nongkrong di depan gang menghampiri nya.


"Halo cantik mau kemana?" Tanyanya dengan mencolek dagu Veli.


Veli langsung mundur beberapa langkah, dia begitu ketakutan.


"Hei jangan kurang ajar, aku bisa teriak?" Veli mencoba mengancam orang di depannya.


"Ha ha ha ha ha ha...." Tawa dari mereka semua membuat Veli semakin ketakutan.


'Aku harus bagaimana?' batin Veli ketakutan, dia binggung harus berbuat apa.


"Coba kamu teriak sekencang mungkin, tidak akan ada yang menolong mu," kata pemuda berambut panjang dan berbadan kurus itu.


"Le-lepaskan saya," kata Veli dengan terbata karena ketakutan.


"Ha ha ha ha ha, jangan takut cantik kamu cuma mau kenalan saja," kata pria berkepala plontos.


"Jangan mendekat," kata Veli saat melihat 2 lelaki itu mencoba meraih tangan nya.


Veli pun mundur beberapa langkah ke belakang.


"Sini cantik, ikut Abang bersenang-senang yuk," kata pria gemuk merayu Veli.


"Tolong tolong tolong tolong," teriak Veli lantang.


Namun teriakan Veli tak membuahkan hasil. Veli pun menoleh ke kanan dan kiri ternyata tidak ada yang menolong dirinya. Dia semakin ketakutan.


Veli pun berbalik badan dan berlari kencang meninggalkan tempat itu, namun pria-pria itu justru mengejar Veli.


"Tunggu jangan lari cantik," teriak para pemuda itu.


'Hiks hiks hiks hiks hiks, siapapun tolong aku. Kalau ada yang menolongku aku janji akan bertaubat dan tidak akan menganggu Arin lagi,' batin Veli.


"Ha ha ha ha ha ha ha, jangan lari cantik,"


Mereka semua semakin bersemangat mengejar Veli.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, tolong tolong tolong ...." Veli menangis sambil berteriak dengan keras, namun semua orang yang melihatnya tak ada yang berniat untuk menolong.


Mereka semua berpura-pura tak melihat itu, mereka memilih mengabaikan Veli karena tak ingin berurusan dengan pemuda-pemuda itu.


Bug...


Tanpa di duga oleh Veli, dia menabrak seseorang pria yang tengah berjalan membawa barang belanjaannya.


"Maaf mas," kata Veli menunduk mencoba membantu memungut barang yang tercecer.


Sedangkan pria itu masih berdiri.


Veli tak melihat ke arah pria yang dia tabrak, dia sibuk memungut barang yang jatuh sesekali menoleh ke belakang memastikan orang yang mengejarnya.


"Veli..." Kata pria tadi saat memperhatikan wanita di depannya.


Veli mendengar nama nya di sebutkan pun mendongak, menatap lelaki tampan yang tengah memandang penuh tanya kepada nya.


Veli menutup mulutnya tak percaya, melihat lelaki itu. Veli pun merasa malu saat pria itu tengah menatap nya dengan iba.


Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat Veli yang sekarang. Pria itu mengamati penampilan Veli yang terlihat menyedihkan di mata nya.


B E R S A M B U N G.....


Nah loh siapa tuh....


Like ya, komen juga soalnya lagi gak ada ide🤭