Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 95


"Ah perutku kenyang ma," kata Abrian mengusap perutnya dengan puas.


"Ha ha ha ha perut kak Abrian tambah buncit," tawa Aurel pecah kala melihat perut Abrian yang terlihat membuncit.


Abrian melotot, kesal karena sang adik mengatainya buncit.


"Ma Aurel nakal," rengek Abrian ke arah sang mama.


Sedangkan Abraham tersenyum melihat keluarga kecilnya yang bahagia, terlebih lagi akan ada anggota keluarga baru saat melihat perut Arin yang besar. Abraham bersyukur karena takdir mempertemukan dengan Arin, wanita kuat, sabar, lembut dan baik hati.


"Husttt jangan ngomong gitu ya sayang kepada kak Abrian," pinta Arin kepada sang putri. Aurel pun mengangguk.


"Kak maafin Aurel ya," pintanya menyodorkan tangannya kepada Abrian.


"Iya," jawab Abrian menjabat tangan sang adik.


Pemandangan itu tak luput dari mata Veli.


'Aku bahagia melihat mu tersenyum, ternyata kesalahan ku tidak membuat mu menderita selamanya. Jujur aku masih ragu untuk berhadapan dengan mu. Ku lihat juga kamu tengah mengandung anak ketiga mu, semoga kau selalu bahagia sahabatku,' guman Veli di dalam hati.


Tanpa terasa ingatannya berputar ke masa sekolah dulu, meskipun Veli memanfaatkan Arin tetapi Veli begitu nyaman bersahabat dengan Arin, dia bisa jadi dirinya sendiri apa adanya tanpa harus menutupi semuanya.


Veli baru sadar ternyata pertemanannya dengan anak selevel dengan nya adalah pertemanan yang tak sehat. Mereka akan pamer baju baru, sepatu baru, tas baru maupun kendaraan baru. Ada juga teman yang selalu menunggu Veli di kantin hanya untuk meminta traktiran. Berbeda dengan Arin, dia bisa belajar, main game atau sekedar nonton.


Dalam keadaan terpuruk pun temannya semua pergi meninggalkan dia, sungguh kejam bahkan tidak ada yang sekedar menanyakan kabarnya.


Veli menyeka sudut matanya yang terasa berair.


Melihat sang kekasih hatinya yang tiba-tiba menangis membuat Andi bertanya-tanya.


"Kenapa sayang? Apa ada yang sakit," lirih Andi.


Veli mengeleng. "Aku hanya teringat dulu, dia teman yang tak pernah meminta ini itu, dia teman yang tulus," lirih Veli.


Arin beserta keluarga nya pun berdiri hendak meninggalkan tempat itu.


Veli pun menyusul berdiri. "Ayo kita ikuti mereka," pinta Veli membuat Andi tersenyum lebar.


Veli mengandeng tangan Andi mengikuti Abraham, untung saja Andi sudah membayar menu tadi sehingga mereka bisa mengikuti dan tak kehilangan jejaknya.


Sampailah mereka di lorong kecil menuju tempat parkir.


"Tunggu," 4 bodyguard menghadang Andi dan Veli. Ke empat orang itu sedari tadi merasa curiga saat Veli dan Andi mengikuti langkah tuannya.


"Kenapa?" Tanya Andi, sedangkan Veli sedang gusar takut kehilangan jejak Arin.


"Minggir aku mau bertemu Arin," Veli mencoba menerobos mereka yang menghalangi.


"Kenapa Andi mengikuti tuan Abraham, apa kalian berniat buruk," tanyanya penuh intimidasi.


"Arin.... Arin... Arin.." Veli berteriak menyebut nama Arin.


Keempat bodyguard itu menahan Veli.


"Hei lepaskan kami, kamu adalah teman Tuan Abraham," kata Andi mencoba meyakinkan.


Ke tiga bodyguard itu memandang ke arah Bimo, Bimo mengeleng pasalnya dia tak mengenal kedua nya.


"Arin Arin Arin ," Veli masih berteriak lebih kencang.


Merasa namanya di sebutkan, Arin pun menoleh menatap wanita bercelana jeans dan kemeja yang telah memanggilnya.


"Ayo sayang," Abraham merangkul Arin yang masih menatap ke belakang.


"Sepertinya ada yang memanggil nama ku," kata Arin.


"Tidak ada sayang, mungkin kamu salah dengar," jawab Abraham.


Veli maupun Andi tertutup oleh 4 bodyguard itu, membuat tubuh mereka tak terlihat.


"Arinnnnn...." Veli berteriak lebih kencang kala melihat Arin berhenti.


Deg ....


'Sepertinya aku mengenal suara itu,' batin Arin.


"Arin Arin...."


Abraham menyipit mencari sumber suara.


Abraham pun memanggil Bimo melalui ponsel nya.


"Ada orang yang mengaku kenal Bu Arin dan tuan," jawab Bimo.


"Suruh mereka ke sini, tetapi tugas kalian terus awasi keduanya karena kalian tahu kan istri saya sedang hamil," jelas Abraham.


Tut ... Panggilan pun terputus.


Para bodyguard itu melepaskan Veli dan Andi atas perintah Abraham.


Veli berlari kencang menuju Arin, di susul Andi yang berlari pelan di belakang Veli.


"Arin hiks hiks hiks hiks hiks," Veli menangis saat dia berhadapan dengan Arin.


Deg


Arin tersentak kaget, ternyata orang yang sedari tadi memanggilnya adalah Veli, mantan sahabatnya dulu.


Abraham memberi kode kepada Bimo untuk membawa kedua anaknya ke dalam mobil.


"Cepat katakan, waktu ku tak banyak," Abraham dengan tegas menatap Veli tajam.


Sebenarnya Abraham ingin langsung mengusir Veli takut Arin kenapa-kenapa, namun dia penasaran melihat wajah Veli yang sedih.


"Veli," hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Arin.


Brukkk


Tanpa di duga oleh Arin, Veli berlutut di kakinya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks maafkan aku," Veli hanya mampu mengucapkan kata maaf.


"Maafkan atas semua kesalahanku, aku sadar aku tak pantas meminta maaf kepada mu. Aku sadar aku sahabat yang jahat, hiks hiks hiks hiks hiks, maafkan aku,"


Arin memandang tampilan Veli terlihat lebih sopan, berbeda dari Veli yang sebelumnya.


Arin menghela nafas panjang.


"Aku sudah memaafkan mu, berdirilah," lirih Arin.


"Terimakasih," Veli pun mengusap sudut matanya dan berdiri.


"Sayang," Andi baru sampai di depan ke tiganya.


Abraham kaget melihat Andi, sedangkan Arin menatap Andi dengan selidik.


'Bukankah Veli menikah dengan Jo,' batin Arin.


"Bagaimana kalau kita mencari tempat duduk, kasihan istri anda yang sedang hamil. Kalian pasti bertanya-tanya kan apa yang terjadi," jelas Andi.


"Maaf sepertinya kita harus segera kembali, kasihan anak-anak lama menunggu," jelas Abraham.


"Apa lain kali kita bisa mengobrol berempat," pinta Andi.


Abraham diam menatap Arin seolah meminta jawaban dari istrinya itu.


"Iya lain kali saja karena kita masih ada urusan lain," jawab Arin.


"Dan kau," Tunjuk Abraham ke arah Andi.


"Aku ingin penjelasan lebih lanjut darimu," jelas Abraham menatap tajam ke arah Andi. Sedangkan Andi meringis mendengar ucapan Abraham.


Belu mengerutkan keningnya mendengar kata Abraham.


'Apa mereka saling kenal, ada hubungan apa suami Arin dengan Andi? Mereka kelihatan seperti sudah akrab,' batin Veli bertanya-tanya.


'Pasti Veli penasaran kenapa aku bisa bicara santai seperti tadi dan apalagi nih Abraham pake nunjuk mukaku segala,' batin Andi kesal.


'Apa suamiku mengenal pria yang tadi, sepertinya pria itu akrab dengan Veli,' batin Arin.


"Terimakasih sekali lagi Arin," lirih Veli saat Arin hendak pergi. Arin mengangguk meninggalkan keduanya.


Abraham mengusap pundak Arin.


"Apa kamu tidak apa-apa sayang," tanya Abraham khawatir, sedangkan Arin mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.


B E R S A M B U N G....


SETELAH MEMBACA LIKE YA BIAR SEMANGAT UPDATE