Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 142


Sayang kenapa kamu belain dia terus," protes Abraham yang tak terima kalau istri tercinta nya itu membela Doni yang tak lain hanya seorang bodyguard.


Sedangkan Doni memutar bola matanya jengah, meskipun dia sudah ingin keluar namun mendengar ucapan sang tuannya yang posesif itu niat itu di urungkan.


"Maaf tuan, saya tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi," lirih Doni menunduk merasa bersalah.


"Iya kami maafkan, kamu bisa keluar," jawab Arin lembut. Namun berbeda dengan Abraham, dia mendelik menatap tak suka dengan perkataan sang istri yang terdengar lembut.


"Keluar kamu, tunggu di depan saja," Abraham menatap sinis bodyguard kepercayaan nya itu.


"Baik tuan," Dengan cepat Abraham berlari keluar.


"Fyuuuh.... Akhirnya," guman Doni bernafas lega.


Akhirnya Doni pun pamit undur diri meninggalkan drama tuannya yang posesif itu.


"Manis banget, kalau ngomong," cibir Abraham.


"Aku tidak belain dia kok sayang, aku cuma menjelaskan kalau Doni datang kesini, kan tadi kita sebelum masuk kamar bilang ke bang Doni minta di antar ke pantai jam 3 dan ini sudah jam 3 lebih," jelas Arin panjang lebar, dia tak ingin sang suami merajuk manja seperti putrinya.


Abraham memutar bola matanya malas.


"Sayang kamu bisa cium tidak, seperti bau-bau kebakaran," kata Arin wajahnya di buat serius. Hidungnya seolah-olah sedang mengendus ke kanan kiri.


Abraham menyergit saat melihat sang istri yang terlihat begitu serius.


"Ha mana ada," jawab Abraham, dia pun ikut mendengus.


"Hmm.... Tidak ada," katanya setelah memastikan.


"Ada kok, bau-bau hati yang terbakar. Ha ha ha ha ha ha ha...." Jawab Arin setelah itu berlari meninggalkan Abraham yang terpaku mencerna ucapan dari sang istri.


"Awas kamu ya..."


Abraham berlari mengejar sang istri.


"Ha ha ha ha ha, tangkap aku," dengan hati-hati Arin menuruni anak tangga.


"Sayang hati-hati," Abraham terlihat panik saat melihat sang istri menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Iya tenang saja," jawab Arin akhirnya sampai juga dia di ruang tamu.


"Nyonya..." Sapa Doni.


Arin pun menoleh saat mendapati Doni sudah siap di sana.


"Kamu siapkan mobil ya, kita mau berangkat," pinta Arin. Setelah itu Arin pun duduk santai menunggu suaminya turun.


"Hos hos hos hos hos...." Abraham mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ha ha ha ha ha, dasar tidak ingat umur. Sudah tahu sudah tua masih saja nekat berlari," Arin menertawakan sang suami yang terlihat lucu bagi nya.


Abraham yang mendengar itu pun mendelik sebal.


"Apa kamu bilang...." Belum selesai Abraham berbicara Arin sudah berdiri di dekat nya menempelkan telunjuk nya di bibir milik Abraham.


"Sttt.... Sudah jangan bicara, nih minum setelah itu kita ke mobil. Doni sudah menunggu, kasihan bunda juga takutnya Aurel buat ulah," jelas Arin tak lupa menyodorkan botol minuman kepada sang suami.


Abraham tak protes lagi, biarlah dia di katakan tua oleh sang istri karena kenyataan nya begitu.


'Tua tua begini juga bisa buat 3 anak,' batin Abraham menatap sang istri sedikit kesal.


Gluk gluk gluk... Ahhh segarnya....


Abraham dan Arin pun menuju mobil, di perjalanan menuju pantai Abraham mengambil ponselnya untuk mengecek laporan yang di kirim Hendra tadi.


Arin memilih diam tak ingin menganggu pekerjaan sang suami. Terlihat dari wajah Abraham yang begitu serius.


"Sayang sudah sampai, ayo turun," ajak Arin saat mobil sudah sampai di pantai.


Abraham pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Dia pun turun bersama sang istri.


Arin menatap sekeliling untuk mencari keberadaan keluarganya.


"Apa mereka lagi main film kejar-kejaran," kata Abraham mengelengkan kepalanya.


"Ck mereka harus segera di nikahkan, buat orang iri saja," guman Arin saat tanpa sengaja menatap Tio dan Amanda yang berlari kejar-kejaran.


"Aku bisa kok lebih romantis dari mereka," kata Abraham menatap sang istri dengan tatapan genit.


Abraham langsung cemberut di buatnya.


"Doni carikan aku obat awet muda," kata Abraham kepada Doni.


"I-ya Tuan," jawab Doni dengan ragu.


Setelah itu Abraham mengikuti Arin yang sudah berjalan menuju ke arah si kembar.


Sedangkan Doni binggung, dia mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Cari di mana? Memang nya ada ya," guman Doni dengan suara kecil.


"Bimo siapkan tempat kita duduk, semua minuman dan cemilan yang ada di mobil kamu bawa ke sini," titah Abraham saat melihat Bimo yang menghampiri dirinya.


"Siap tuan," jawab Bimo setelah itu dengan cepat dia melaksanakan tugas nya.


"Mama..."


"Papa..."


Teriak kedua bocah kembar itu saat melihat Arin dan Abraham menghampiri mereka.


Aurel langsung minta gendong ke arah Abraham sedangkan Abrian memeluk sang mama.


"Ayo duduk," ajak Arin saat semua sudah terpasang rapi sesuai permintaan Abraham.


Semua pun akhirnya duduk di sana. Tio dan Amanda pun menghampiri mereka.


"Tio, apa Rio tidak menghubungi kamu?" Tanya Arin karena kemarin Rio sudah berjanji akan bertemu dengan mereka di vila.


"Tidak kak, biar nanti ku hubungi sendiri. Mungkin dia masih sibuk," jawab Tio sambil mencomot kue yang sudah tersaji di depan nya.


Mereka pun menikmati cemilan serta minuman yang ada di depannya sambil menikmati indahnya senja di tepi pantai.


"Sayang lihatlah itu, sungguh indah," bisik Tio menunjukkan ke arah di mana matahari mulai terbenam kepada sang kekasih.


"Iya, kita beruntung bisa melihatnya," lirih Amanda.


Tio pun mengengam tangan sang kekasih. Dia pun bangkit tak lupa menarik tangan sang kekasih agar ikut berdiri.


"Bang Bimo tolong foto kita berdua ya," pinta Tio menyodorkan ponsel miliknya ke arah Bimo.


Awalnya Bimo masih terdiam, dia cuma melirik Tio dengan malas.


"Ayolah bang, please...." Tio menangkup kedua tangannya. Jangan lupakan tatapan memelas dirinya.


"Heemmm..." Bimo pun mengangguk setuju. Bimo pun ikut berdiri mengambil ponsel Tio.


Tio pun tersenyum mengembang, dia dengan cepat merangkul pundak sang kekasih.


"Ihh... Malu di lihat banyak orang," bisik Amanda wajah nya pun merona menahan malu.


"Ayolah sayang, biar terlihat romantis," pinta Tio.


"Cepat....! Buat foto saja lama banget," grutu Bimo menatap pasangan bucin itu dengan jengkel karena sedari tadi keduanya sibuk berbisik.


"He he he he he he he, iya bang maklum lagi cari pose yang bagus," jawab Rio cengengesan.


"Cepat...." Bentak Bimo kesal, dia sudah lelah ingin duduk bersantai menikmati kopi di tepi pantai dengan di terpa semilir hembusan angin pantai.


"Iya..."


Cekrek....


Cekrek....


Cekrek...


Cekrek...


4 foto sudah di ambil oleh Bimo.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, semuanya pun beberes untuk kembali ke vila.


B E R S A M B U N G....