Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 153


Tio dengan cepat menyambar kunci mobil milik nya yang di berikan oleh Rio tadi.


"Aku balik duluan," kata Tio singkat dan segera berdiri dan berlalu menjauh meninggalkan mereka semua.


"Eh Amanda bagaimana nanti?" Kata Rio sedikit berteriak karena Tio sudah berjalan menjauh dari mereka, Rio saat ini teringat sahabatnya yang tak lain adalah Amanda saat ini masih ada kelas.


"Nanti biar ku kirim pesan saja sama dia," sahut Tio berlalu dengan cepat.


Karena pikiran Tio hari ini yang tidak baik jadi dia memilih pergi menuju ke perusahaan.


"Ck dasar," grutu yang lainnya berdecak kesal kelakuan Tio yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka semua.


"Kemana tuh anak?" Tanya Bram kepada Rio.


"Entahlah," jawab Rio dengan cuek karena dirinya juga tak tahu kemana Tio pergi saat ini.


"Masa kamu tidak tahu," grutu Nino menatap Rio seolah Rio tengah berbohong.


"Meskipun kami kembar tetapi pikiran kita berbeda, jadi aku tidak bisa menebak pikiran Tio," sahut Rio menatap sinis ke arah semua temannya yang ada di sana.


"He he he he he he, benar juga ya," kata Nino binggung dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kirain kamu tahu," sahut Bram berfikir seperti itu karena mereka berdua kembar.


"Masa aku harus ngintilin Tio kemana-mana, aku juga punya urusan sendiri," sinis Rio ke arah semuanya.


He he he he he he....


Semua terkekeh melihat wajah Rio yang sudah masam.


"Ya elaaaah gitu saja ngambek, santuy bro," sahut Reza terkekeh lucu melihat raut wajah Rio yang masih masam saja karena ucapan mereka.


"Eh aku pergi duluan, aku lupa kalau sebentar lagi ada kelas Pak Gio," Bram berdiri dengan cepat, dia langsung berlari meninggalkan mereka semua.


"Ck kebiasaan tuh anak," Reza mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Bram yang suka lupa sesuatu yang penting.


"Kamu juga begitu," sindir Rio melirik ke Reza.


Sedangkan yang di lirik diam saja masih asyik menyeruput teh hangat, seolah bukan dirinya yang di sindir.


****


Tio berjalan cepat menuju mobil nya berada, tak di sangka dirinya berpapasan dengan kedua laki-laki yang sudah membuat mood nya memburuk tadi, ya dua laki-laki yang sudah lancang berbicara aneh-aneh tentang kekasih nya.


Tio menatap tajam keduanya seolah ingin memukul wajah mereka berdua, namun Tio berusaha menahan emosi nya tetap saja semua itu tak bisa menutupi rasa marahnya. Ya terbukti dengan tangan Tio yang sudah mengepal kuat dan tatapan mata bak elang yang bersiap berburu mangsa.


Kedua tak berani menatap Tio, kedua nya lebih memilih menunduk karena takut dengan tatapan Tio yang begitu menusuk. Keduanya sadar mereka bukan apa-apa di bandingkan Tio, mereka berdua tak berani macam-macam karena mereka tahu keluarga mereka sebagai taruhannya kalau mereka berani melawan Tio.


Keduanya berlari cepat untuk menghindari Tio.


"Ck dasar pengecut berani nya mereka cuma bacot doang," sinis Tio menatap kepergian kedua nya.


Tio pun melangkahkan kakinya sedikit cepat. Akhirnya Tio pun sampai di parkiran di mana mobilnya terparkir rapi di sana.


Tit....


Ceklek...


Tio membuka pintu mobilnya sebelum itu dia menoleh ke kanan dan kiri memastikan kalau tidak ada orang yang akan mengikuti dirinya.


Brakk...


Setelah menutup pintu mobil, Tio pun melajukan mobil kesayangan nya meninggalkan kampus dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Namun saat di tengah jalan tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Tring...


Bunyi itu menandakan ada satu pesan masuk ke dalam ponsel mahal miliknya, Tio pun menepikan mobil ke samping untuk keamanan dirinya dan penguna jalan lainnya, Tio dengan cepat meraih ponselnya yang berada di dalam tas dan melihat siapa yang sudah mengirimkan pesan untuk nya saat ini.


Tio mengerutkan keningnya kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Kenapa kak Abraham mengirimkan pesan, tumben. Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Tio kepada dirinya sendiri.


Karena begitu penasaran, Tio pun menggulir tangan nya dengan lincah.


Saat Tio membuka pesan dari Abraham dirinya di buat kaget melihat tulisan yang berjejer rapi tertera di sana.


Tio mengelengkan kepalanya melihat betapa marahnya sang kakak ipar terlihat dari kata-kata yang menandakan pengirim nya sedang dalam kondisi penuh emosi.


"Besok pastikan semua saham perusahaan milik keluarga Pak tua Rangga itu turun dan tak ada nilainya, aku ingin melihat perusahaan itu hancur secepatnya. Pastikan semua orang menanam modal di sana untuk segera mencabut modal milik mereka. Bagi mereka yang membangkang katakan kepada mereka semua akan berhadapan langsung dengan ku dan bersiap menyusul kehancuran dirinya sendiri,"


Tio bertanya-tanya dalam hati, apakah kak iparnya itu tahu kejadian yang di buat Denis hari ini kepada nya?


Tio mengelengkan kepalanya, tak mungkin sang kakak ipar tahu karena kejadian itu baru beberapa jam yang lalu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" guman Tio.


Antara ragu dan penasaran Tio pun mengetik pesan kepada Abraham.


"Apa yang membuat kak Abraham ingin melenyapkan perusahaan itu dalam waktu sehari?"


Setelah pesan itu terkirim, Tanpa menunggu balasan dari kakak iparnya, Tio pun melajukan mobilnya kembali. Tio melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Abraham untuk meminta penjelasan.


Ponsel miliknya masih senyap sedari tadi tidak berdering sama sekali, menandakan kalau kakak iparnya itu tak membalas pesan miliknya.


"Mungkin kak Abraham sedang emosi," grutu Tio mengingat tempramen sang kakak ipar yang tak suka di usik.


"Ck mungkin tuh pak tua bangkotan sudah berbuat salah sama kak Abraham," monolog Tio saat ini mengingat tingkat laku pak Rangga yang begitu terkenal dengan kegenitannya.


Mobil milik Tio akhirnya sampai di depan gedung tinggi nan kokoh itu. Tio melajukan mobilnya masuk kedalam parkiran khusus untuk dia dan Abraham.


Brak


Tit tit...


Setelah turun dari mobil itu, Tio berjalan cepat menuju ruangan milik Abraham.


Tap tap tap tap tap....


Langkah kakinya terdengar menggema di lorong-lorong itu.


Tio menghela nafas panjang, sebelum mengetuk pintu itu. Ya Tio sudah sampai di depan ruangan milik Abraham.


Tok tok tok tok tok...


"Masuk," terdengar sahutan dari dalam membuat Tio dengan cepat membuka pintu itu.


Ceklek...


"Oh kamu sudah datang," kata Abraham hendak berdiri menghampiri Tio.


Tio pun mendudukkan dirinya di sofa panjang berwarna abu-abu itu tanpa bertanya.


"Kamu pasti bertanya-tanya apa yang membuat ku murka," Abraham berbicara terus terang, dia paham pasti Tio saat ini bertanya-tanya dalam hati.


"Aku tahu dia membuat ulah tadi pagi dengan mu dan Amanda," kata Abraham.


Deg...


Tio menatap sang kakak ipar heran namun Tio mencoba tersenyum pasalnya kabar yang baru saja terjadi begitu cepat sudah sampai di telinga sang kakak ipar.


Tio sering melupakan betapa hebatnya sang kakak ipar.


"Apa karena itu kak Abraham ingin menghancurkan perusahaan milik orang tua nya itu?" Tanya Tio terus terang.


Abraham mengelengkan kepalanya, dia mendudukkan dirinya di depan Tio saat ini.


B E R S A M B U N G.....