
SETELAH BACA LIKE YA
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"Sayang...." Abraham datang kepada Arin, membawa ponsel mahal miliknya.
"Ya..." Jawab Arin dengan pipi bersemu merah.
Arin di buat kaget karena melihat Abraham tengah bertelanjang dada, hanya menggunakan celana pendek, ya Abraham ingin ikut berenang bersama kedua anaknya.
Meskipun sudah pernah melihat tubuh Abraham, Arin masih malu.
Abraham tersenyum melihat pipi Arin yang memerah karena melihat dirinya.
Tanpa di duga Arin, Abraham mendekat dan...
Cup.... Cup.. Abraham mengecup pipi Arin sekilas membuat Arin melotot kaget karena mendapat perlakuan dari Abraham.
"Ish malu di lihat anak-anak," Arin membrengut kesal mendorong tubuh Abraham.
"Padahal itu baru pipi, belum bibir," jawab Abraham terkekeh.
"Ishh... Dasar mesum," Arin berusaha menahan degup jantungnya yang berdebar kencang.
Abraham memeluk Arin dari belakang.
"Sayang bagaimana kalau kita buat adik buat Aurel dan Abrian nanti malam, kita bisa sewa kamar sebelah," bisik Abraham di telinga Arin.
Arin di buat merinding oleh Abraham, pelukan itu bukan sekedar pelukan, namun Abraham mengigit luber putih itu dan menyesapnya beberapa kali, tubuh Arin maupun Abraham pun menegang.
"Mama ....." Teriakan Aurel membuat keduanya tersadar.
Arin dengan cepat melepaskan pelukan Abraham dengan kasar.
"Ke-kenapa sayang," teriak Arin sedikit gugup takut aksi Abraham tadi kepergok sang putri.
"Aurel haus," jawab Aurel.
"Abrian juga ma...." Saut Abrian.
"Pa sini cepat, kita berenang bersama," teriak Abrian mengajak Abraham.
"Sudah sana, tuh di panggil Abrian," Arin mendorong tubuh gagah itu.
"Baru saja mau menikmati manis bibirmu sudah ada yang menganggu," grutu Abraham menuju ke arah bocah tampan itu.
"Oh ya, ini kamu pilih baju untuk kamu dan anak-anak. Jangan lupa untukku juga setelah itu kirimkan kepada hendra," kata Abraham menyodorkan ponsel mahalnya ke pada Arin.
Arin pun mengotak-atik ponsel Abraham, memilih semua pakaian untuk mereka nantinya dan tak lupa mengirimkan kepada Hendra.
Kedua anaknya sibuk bermain air, sedangkan Abraham berendam air hangat di kolam sebelahnya.
Arin tersenyum memperhatikan mereka semua.
Arin menelpon pihak hotel untuk mengirimkan minuman beserta camilan maupun kue ke kamar mereka.
Matahari pun telah bersembunyi, berganti bulan menerangi bumi. Pertanda malam pun datang....
Semuanya tengah berada di restauran untuk makan malam.
Setelah makan malam mereka semua pun kembali ke kamar.
Aurel maupun Abrian tengah sibuk melihat film kartun.
Arin merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk itu.
Sedangkan Abraham tengah menatap laptop miliknya. Abraham melirik Arin yang tengah merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit kamar itu, sedangkan kedua bocah itu berkali-kali menguap.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Abraham.
"Aku sedang mengingat masa lalu," lirih Arin.
"Maafkan aku, karena perbuatan ku sehingga menorehkan luka di hidupmu," lirih Abraham.
"Itu bukan sepenuhnya salahmu, ini juga salahku. Andai aku tak datang di pesta itu semuanya tidak akan terjadi......" Arin menjeda ucapannya, dia menatap lurus ke atas.
Deg.... Abraham terdiam.
'Kalau kamu tak datang ke sana, tentu hidupku tak akan bisa bahagia seperti sekarang. Apakah kamu menyesalinya?,' ingin Abraham mengucapkan kata-kata itu, tetapi lidah nya terasa keluh untuk berbicara.
"Kalaupun waktu bisa di ulang, aku tetap akan memilih seperti ini, karena kalau malam itu tak terjadi tentu aku tidak akan bisa memiliki mereka berdua," lirih Arin.
"Terimakasih karena kamu sudah membesarkan mereka berdua sehingga menjadi anak yang pintar dan begitu mengemaskan," kata Abraham dengan tulus.
Abraham menutup laptopnya, matanya melihat ke arah anak-anak nya berada. Melihat kedua anaknya tertidur Abraham pun menyuruh Arin memindahkan Aurel sedangkan dia memindahkan Abrian.
Kedua anak itu pun terlelap dalam mimpi indahnya.
"Sekarang giliran aku yang ingin di manjakan oleh mu sayang," bisik Abraham.
Cup.... Abraham mengecup bibir Arin dengan sangat lembut.
Arin mencubit gemas perut Abraham, suaminya itu begitu mesum tidak mengenal situasi.
"Nanti mereka bangun," lirih Arin.
"Bagaimana kalau aku pesankan kamar di sebelah," bisik Abraham.
"Tetapi bagaimana dengan mereka," lirih Arin.
"Ssttt.... Mereka sudah tertidur,"
"Tetapi...." Arin tak melanjutkan ucapannya karena tak tega melihat tampang memelas Abraham.
Arin pun mengangguk setuju.
"Yes...." Abraham begitu senang.
Abraham pun menghubungi pihak hotel untuk memesan kamar lagi.
Abraham pun membopong Arin menuju kamar yang di sebelah nya.
Abraham menutup rapat pintu dan menurunkan Arin di ranjang empuk itu.
****
Hari-hari terus berlalu...
Seminggu sudah sejak kejadian itu, sikap mbak Tina berubah tidak seperti biasanya.
Mbak Tina sering memperhatikan Abraham di mana pun kapan pun.
Seperti pagi ini....
Melihat Abraham yang hendak menuruni tangga, Arin tersenyum tetapi pandangan itu berubah murung saat mbak Tina dengan intens memperhatikan sang suami.
Kesal dan cemburu itulah yang Arin rasakan dengan sigap Arin berfikir untuk menjauhkan mbak Tina.
'Ini rumah tangga ku, aku harus bertindak. Aku baru merasakan kebahagiaan tak kan ku biarkan orang lain merebut nya, terlebih lagi aku sudah mencintai nya,' batin Arin.
"Mbak tolong siapkan bekal buat anak-anak biar saya gantikan menyuapi mereka," perintah Arin dengan tatapan tajam, sedangkan mbak Tina cuek berpura-pura tak memperhatikan.
Sedangkan di meja makan sudah ada bunda, Tio, Tio dan nek Ijah hanya menyimak saja, mereka belum menyadari sesuatu.
Abraham sudah berada di dekat anak-anak, dia tersenyum ke arah Arin. Abraham mengusap lembut rambut Aurel yang sedang di suapi mbak Tina.
'Bolehkah aku bermimpi,' batin mbak Tina masih terpesona dengan wajah tampan Abraham, sehingga dia mengabaikan Arin maupun Aurel.
Abraham pun duduk di samping Arin sedangkan mbak Tina masih memperhatikan Abraham.
Arin pun melayani Abraham makan, mengambilkan nasi dan lauk.
"Terima kasih sayang," bisik Abraham di telinga Arin, membuat wajah Arin merona.
"Aaaaa...." Kata Aurel yang sedari tadi membuka mulutnya tetapi tak di hiraukan mbak Tina.
Arin mendengus kesal saat mbak Tina lebih fokus ke arah Abraham dari pada ke anaknya.
"Mbak tolong siapkan bekal anak-anak," teriak Arin mengulang kata-kata nya tadi.
Mbak Tina menerjab kaget, semua melirik ke arah Arin.
"I-ya Bu," mbak Tina kaget mendengar bentakan Arin.
Setelah itu dengan cepat mbak Tina pergi meninggalkan tatapan kesal ke arah Arin, mbak Tina menuju dapur.
'Andai aku yang selalu berada di sisnya pasti aku akan begitu bahagia tak akan ku sia-siakan dia," batin mbak Tina.
Setelah kepergian mbak Tina.
"Nak kenapa kamu tadi membentak mbak Tina," kata bunda.
"Aaa.... Ma," kata Aurel membuka mulutnya lebar-lebar.
"Tidak kok bun, perasaan bunda saja. Tadi aku menyuruh mbak Tina karena takut bekal anak-anak kelupaan," jawab Arin sambil menyuapi Aurel.
"Oh tadi bunda kita kamu marah," kata bunda.
"Tidak Bun, kenapa harus marah," lirih Arin.
"Bunda, kak Arin, Tuan Abraham...... Rio mau pamit berangkat," kata Rio berpamitan kepada semua yang ada di meja makan.
Sedangkan nek Ijah sudah pergi sedari tadi karena dia merasa pegal-pegal duduk terlalu lama.
Saat Rio berdiri hendak berpamitan, Tio pun mencegahnya.
"Tunggu.... Kita bareng," kata Tio.
Keduanya pun berangkat menuju kampus bersama-sama.
"Sayang aku juga pamit ya," kata Abraham hendak berdiri sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
"Bunda saya pergi duluan, maaf tidak bisa menemani kalian makan," kaya Abraham merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa nak," jawab bunda.
Setelah Abraham kini giliran anak-anak berangkat sekolah di antar supir dan di temani mbak Tina.
Kini Arin maupun bunda tengah menikmati segarnya udara di taman belakang.
"Nak bunda ingin bicara sesuatu," bunda berbicara dengan hati-hati.
"Bicara apa Bun?" Tanya Arin.
"Akhir-akhir ini seperti nya tiba sedikit berubah atau perasaan bunda," jelas bunda.
'Ternyata bukan cuma aku saja yang menyadari ternyata bunda juga,' batin Arin.
"Apa kamu adalah masalah dengan nya," tanya bunda memastikan.
"Entahlah Bun, Arin juga tak mengerti," jawab Arin.
"Bunda ingin kembali ke rumah kita dulu, bersama Tio, Rio dan nek Ijah," kata bunda.
Mendengar itu pun Arin menatap bunda dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
"Bunda ingin hidup sederhana," seakan mengerti pemikiran sang anak.
"Tetapi Arin bagaimana, nanti siapa yang akan menjaga bunda," lirih Arin.
"Tenang saja nak, ada Tio dan Rio," jawab bunda.
'Apakah ini kesempatan untuk menyuruh mbak Tina pergi dari sini dengan alasan menjaga nek Ijah,' batin Arin.
Arin berfikir demikian karena dia tak mungkin memecat mbak Tina karena dia sudah lama ikut dengan nya, dan selama ini tidak pernah ada masalah sehingga Arin tak punya alsan memecat mbak Tina.
"Bagaimana kalau mbak Tina iku bunda, untuk menjaga nek Ijah," kata Arin pelan takut bunda menolak sarannya.
"Terus Aurel dan Abrian bagaimana?" Tanya bunda.
"Sekarang Arin sudah tak bekerja jadi punya banyak waktu itu keduanya, untuk urusan toko biar di urus oleh Tio dan Rio," jelas Arin.
B E R S A M B U N G....