Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 134


Sesampainya di rumah Pak Rangga membuang jas dengan kesal ke sofa.


"Aagghhhh... Aku akan balas semua penghinaan ini," marah pak Rangga begitu memendam benci kepada Abraham dan pak Rendi.


"Awass saja kamu Rendi, aku sungguh membenci mu, hubungan persahabatan kita ternyata tidak membuat mu berpihak kepada ku," kesal pak Rangga meluapkan isi hatinya.


Pak Rangga tak menyangka rencana perjodohan yang akan menguntungkan dirinya harus gagal, dia sudah memimpikan putra semata wayangnya untuk menjalankan usaha milik pak Rendi.


Terlebih lagi melihat Denis yang juga tertarik dengan Amanda.


"Iya pa, Denis juga kesal sama si Tio itu. Bisa-bisanya dia datang saat kita di sana," grutu Denis yang tak menyangka Tio tiba-tiba hadir di sana.


"Iya pa, sepertinya mereka sengaja ke sana untuk mempermalukan kita ," bukannya meredam emosi anak dan suami nya justru Bu Rita semakin menyiram bensin di bara api.


"Denis, kamu cari tahu kapan acara pertunangan mereka akan di langsung kan. Aku ingin kamu culik Amanda dan hancurkan semuanya, ha ha ha ha ha ha," perintah pak Rangga kepada sang anak untuk menggagalkan semua nya dan mempermalukan mereka.


"Betul pa, kita buat si Rendi itu malu," sungut Bu Rita dengan berbinar berharap rencana jahat mereka berjalan lancar.


"Tenang pa, ma. Tanpa kalian suruh pun, aku akan merebut Amanda dari Tio. Aku akan menjadikan Amanda milikku, milik Denis seorang," kata Denis meyakinkan kedua orang tuanya. Wajah Denis tersenyum penuh misterius.


Ketiga orang itu tengah merencanakan rencana licik untuk merebut kebahagiaan Amanda dan Tio. Obsesi Denis untuk memiliki Amanda membuatnya menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai.


***


Berbeda tempat...


Sebelum pulang ke mansion, Abraham mengajak keluarga nya untuk mampir ke Restoran sekedar menikmati makan malam, tadi mereka tergesa-gesa sehingga belum sempat makan malam.


Setelah semua kenyang, mereka memutuskan pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.


Sesampainya di mansion....


Pintu di buka oleh pak nan, semuanya pun masuk ke dalam.


Tio tersenyum sendiri saat masuk ke dalam mansion milik Abraham.


"Ehemm... Senyum-senyum gak jelas nanti di sangka orang stres," kata Rio saat melihat kembarannya itu tersenyum sendiri sedari tadi.


Tio menoleh ke arah Rio, dia memutar bola matanya malas mendengar celotehan Rio yang seakan meledek dirinya.


Tio memilih diam tak menggubris perkataan kembaran nya itu.


"Kesambet?...." Tanya Rio menempelkan tangannya di kening Tio.


"Ish apaan sih," Tio menepis tangan saudaranya itu dengan kasar.


"Habisnya kamu senyum-senyum tak jelas dari tadi," Rio masih saja mengekor saudaranya itu.


Arin dan bunda memilih duduk di ruang tamu. Tio pun ikut duduk di sana karena sangat kesal melihat tingkah Rio yang mengekornya sedari tadi. Sedangkan Abraham memilih ke ruang kerja nya karena ada sesuatu yang harus dia urus terlebih dahulu.


"Rio.... Apa baby Andra sama si kembar sudah tidur?" Tanya Arin.


"Sudah kak dari tadi, tumben tuh bayi gak rewel. Pokoknya anak-anak kak Arin sudah aman, mereka sudah tidur nyenyak semua," jawab Rio terus terang karena sedari tadi baby Andra tak menangis atau rewel. Sedangkan si kembar harus melewati drama dulu baru mereka mau tidur.


"Hebat kamu bisa bujuk si kembar tidur cepat," puji Arin kepada Tio.


"Jelas RIO," jawab Rio sombong membuat Tio berdecak melihat tingkah saudaranya yang kelewat narsis.


"Tio kapan kamu beli seserahan buat lamar Amanda?" Tanya Arin menatap ke pada sang adik.


"Terserah kak Arin saja, semua nya aku pasrahkan ke kakak saja," jawab Tio.


Mendengar itu Rio jadi heboh.


"Hus ngawur," tegur bunda pada sang anak.


"Hei main tuduh saja," grutu Tio tak terima atas ucapan Rio.


"He he he he he he, tadi kita semua baru dari rumah Amanda, untung mas Abraham kasih tahu tepat waktu kalau tidak..... Bbeehhhh sudah di tikung tuh Amanda sama cowok jelek tadi," kata Arin bersyukur punya suami yang bertindak cepat.


"Ha.... Maksudnya apa? Jelasin yang benar dong kak?" Protes Rio.


"Bunda ke atas dulu, mau tidur di kamar baby Andra," pamit bunda karena sudah mengantuk.


"Iya Bun, titip baby Andra," kata Arin.


"Jangan tidur terlalu malam kalian," peringatan sang bunda karena tak ingin melihat ketiga anak nya bergadang.


"Siap bunda," jawab ke tiganya serempak.


"Kak bagaimana yang tadi, jelaskan," pinta Rio yang masih penasaran.


"Kasih tahu gak ya..." Tio meledek sang adik.


"Ayolah Tio.." pinta Rio memelas.


"Kasih tahu saja tuh anak biar tidak mewek," kata Arin menatap Rio dengan tatapan meledek.


"Ck..." Rio berdecak kesal melihat kedua saudaranya itu kompak mempermainkan dia.


"Kamu kasih tahu saja Rio, kakak mau ke kamar," Arin beranjak menuju ke arah kamarnya.


"Iya, diam jangan bawel. Dengerin aku sampai selesai bicara dan jangan motong ucapan ku," jelas Tio karena sudah tahu kebiasaan sang adik yang suka memotong ucapan nya.


Rio mengangguk, setuju.


"Aku tadi dapat telepon dari kak Abraham, nah aku juga baru tahu di mobil saat perjalanan ke rumah Amanda, ya aku gak nyangka aja tiba-tiba papa Amanda berniat menjodohkan dia dengan anak pak Rangga. Untung kak Abraham dapat kabar itu cepat kalau tidak pasti Amanda sudah di paksa menerima perjodohan tadi. Nah di sana sudah ada pak Rangga beserta keluarga nya, kamu tahu tidak siapa anaknya?" Jelas Tio semakin membuat Rio penasaran.


Rio mengeleng karena dia tak bisa menebak siapa anak pak Rangga.


"Denis..." Jawab Tio singkat mampu mampu membuat mata Rio melotot.


"Ha si Denis anak sombong itu," Rio begitu terkejut mendengar ucapan Tio.


"Kamu harus berhati-hati, karena aku tahu pasti Denis tidak akan tinggal diam," Rio memperingatkan saudaranya untuk waspada.


"Hmmm..."


"Awas jangan sampai buat sahabatku menangis lagi," ancam Rio.


"Tenang saja, aku akan buat Amanda bahagia," jawab Tio meyakinkan.


Setelah itu Rio meninggalkan Tio sendiri di ruang tamu.


Tio pun mengambil ponselnya, dia mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mengawasi Amanda dari jarak jauh.


"Kalian awasi calon istriku, jaga dia dari jarah jauh agar tak di ketahui orang lain dan calon istriku tak risih,"


"Kalian cari tahu data lengkap pak Rangga dan jangan lupa cari juga kelemahan dia,"


Pesan itu langsung terkirim.


Tio tak ingin mengambil resiko.


B E R S A M B U N G....