
Malam hari di kediaman Abraham....
Suasana di meja makan tampak ramai, ada si kembar Tio dan Rio, ada dua bocah kembar Abrian dan Aurel, Arin , Abraham dan sang bunda tentunya.
"Horeeee ayam goreng," seru Aurel bertepuk tangan dengan mata yang berbinar menatap ayam goreng kesukaan nya.
"Dasar bocil," celetuk Abrian mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku saudara perempuan nya yang selalu berisik.
"Biarin wleeek..." Aurel justru menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.
"Dasar bocil cerewet," kesal Abrian menatap Aurel.
"Aaaaa paling kak Abrian iri," sinis Aurel.
Abrian hanya mendelik sebal di buatnya.
"Hei kamu juga masih kecil," kata Rio mengacak rambut Abrian karena gemas.
"Om jangan buat rambutku berantakan," protes Abrian yang tak terima.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Tio tertawa melihat kelucuan di kembar.
Sedangkan Abraham hanya melirik dan melanjutkan makannya, kalau Arin mengelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya.
"Sudah jangan berisik nanti tersedak," peringatan dari sang Oma.
Suasana di meja makan tampak terasa hidup, celotehan Aurel menambah suasana di meja makan menjadi hangat. Abraham tersenyum saja menanggapi tingkah Aurel yang bercerita panjang lebar tentang liburan nya kemarin di pantai bersama Arin, Abraham, Abrian dan Andra. Ya liburan keluarga kecil mereka untuk menghilangkan rasa penat.
"Aurel sayang, kalau sudah selesai makan jangan lupa buku pelajaran untuk besok di masukkan ke dalam tas," pinta Arin.
"Siaap ma," jawab Aurel memberi hormat.
Arin ingin putrinya tidak manja dan membereskan sendiri peralatan sekolah nya, berbeda dengan Abrian yang sudah terbiasa mandiri, Abrian sering melakukan apapun sendiri tanpa meminta bantuan si mbak pengasuh nya.
Setelah semua selesai makan malam. Arin memilih ke kamar menemani Andra sedangkan, kedua bocah kembar itu berada di kamarnya masing-masing, bunda memilih untuk duduk di depan televisi.
Tio dan Abraham sudah berada di ruang kerja, sedangkan Rio memilih bermalas-malasan di ruang tengah menonton televisi sambil bermanja-manja dengan sang bunda.
"Nak kenapa kamu tidak ikut bekerja di perusahaan Kakak ipar mu?" Tanya bunda kepada Rio.
"Aku lebih suka mengurus toko kue kak Arin daripada kerja di kantor, nanti aku tak bisa naik gunung atau touring bersama dengan teman-teman ku," jawab Rio dengan jelas.
"Kamu tidak bosen apa naik gunung terus," jawab bunda dengan sewot melirik ke arah Rio.
"He he he he he he he he he, bunda kan tahu kalau jiwa ku adalah berpetualang," jawab Rio cengengesan.
"Nanti bagaimana kalau kamu sudah menikah, masa istrimu kamu kasih makan batu kalau kamu tidak bekerja," kata bunda di selingi candaan.
"Tenang Bun, meskipun aku bukan pegawai kantoran atau pemilik perusahaan tetapi aku punya 9 cabang toko kue," jawab Rio dengan nada sombong.
"Ha ...." Bunda di buat kaget karena selama ini yang bunda tahu Rio hanya suka keluyuran tak jelas karena hobi berpetualang nya itu.
"Masa bunda lupa kalau toko kue kak Arin di serahkan kepada ku," jawab Rio tersenyum menaik-turunkan alisnya cengengesan.
"Maklum bunda sudah tua jadi pelupa," jawab bunda menepuk keningnya pelan.
"Bunda nanti kalau Tio sudah menikah, suruh saja Tio bangun rumah di sekitar sini, terus nanti aku juga ingin bangun rumah di dekat sini jadi kalau bunda kangen kita, bunda tidak perlu jauh-jauh mengunjungi kita," kata Rio membayangkan.
"He he he he he he he he, belum Bun kan aku lagi berandai-andai," jawabnya cengengesan.
Bunda dan Rio keduanya terlibat obrolan yang begitu hangat berbeda dengan Tio dan Abraham.
Ruangan ini terada begitu panas meskipun udara dari AC sudah menerpa kulit keduanya namun masih tak bisa menyejukkan pikiran keduanya.
"Kak, pak Ferdian sudah datang tadi ke kantor ku," kata Tio.
"Apa yang orang itu katakan?" Tanya Abraham.
"Dia bilang, Denis meminta perlindungan untuk mama nya," jawab Tio menerawang pembicaraan nya dengan pak Ferdian tadi.
"Kenapa dia meminta kepada kita? Apa urusannya dengan kita?" Kening Abraham mengkerut karena dia tak mengira Denis justru meminta bantuan nya.
"Karena orang bernama Wilson mengancam akan menyakiti mama nya, padahal Denis tidak mengenal pria itu," jelas Tio.
"Wilson? Coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Denis selama dia di tahan," tanya Abraham, rasa penasarannya sudah memenuhi pikiran nya. Abraham merasa tak asing dengan nama Wilson, dia mencoba mengingat namun nihil.
Tio pun menjelaskan kalau Denis sudah berubah, Denis tidak ingin berurusan dengan Tio maupun Abraham karena itu Denis memilih berbicara jujur dengan pak Ferdian. Denis sadar kalau semua ini akibat kesalahan nya sendiri, Denis pun memberitahu kalau seseorang bernama Wilson datang kepadanya menawarkan bantuan untuk bebas namun dengan syarat denis harus membantu dia membalaskan dendam kepada Abraham. Orang bernama Wilson itu juga mengancam akan menyakiti Bu Rita.
Pak Ferdian juga berjanji akan meminta Abraham dan Tio untuk membantu menjaga Bu Rita.
"Siapa Wilson kak?" Tanya Tio.
"Entahlah kakak lupa," jawab Abraham.
"Perintahkan Bimo untuk menaruh beberapa bodyguard bayangan di rumah Bu Rita," perintah Abraham.
"Selidiki orang yang bernama Wilson, cari tahu sedetail mungkin informasi tentang orang itu,"
"Baik kak," jawab Tio.
"Apa kita perlu membebaskan Denis?" Tanya Tio dengan hati-hati.
"Sebaiknya jangan, kita bisa meminta keringanan untuk hukuman dia. Dia akan lebih aman berada di sana karena orang yang bernama Wilson itu tidak akan tinggal diam karena Denis sudah menolak bekerja sama dengan dia," jelas Abraham.
Tio mengangguk membenarkan ucapan dari Abraham, dia baru sadar akan kemungkinan tersebut.
'Ternyata kak Abraham berfikir sampai ke arah sana,' batin Tio begitu mengangumi sang kakak iparnya itu.
"Kamu juga harus berhati-hati, taruh semua bodyguard bayangan kita untuk, bunda, Arin, Rio dan Amanda juga. Sepertinya orang ini akan mengincar orang-orang di sekitar kita," kata Abraham begitu waspada, Abraham takut sesuatu terjadi dengan keluarga nya.
"Siap kak," jawab Tio patuh.
"Apa perlu ku tunda acara pernikahan ku?" Tanya Tio hati-hati.
"Tidak, ku rasa orang ini menargetkan ku bukan dirimu jadi kita hanya perlu memperketat penjagaan dan pengawasan kita," jelas Abraham menolak usulan Tio karena dia tahu acara ini begitu di tunggu-tunggu oleh adik ipar nya itu.
"Kembalilah ke kamar dan tidurlah lebih cepat," kata Abraham menatap Tio karena Abraham tahu watak adiknya itu. Abraham tahu Tio sudah bekerja keras untuk mengungkapkan semuanya namun pasti Tio tak bisa menemukan hasil karena Abraham yakin Wilson bukan pria sembarangan.
Setelah kepergian Tio.
"Wilson..... Hhhhmm kamu sudah berani mengusik hidup ku," guman Abraham mengingat nama itu.
B E R S A M B U N G....