
Saat Tio maupun Hendra sedang asyik membahas sesuatu muncullah Abraham tanpa di duga.
Tentunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung nyelonong masuk saja.
"Apa kamu sudah meminta bantuan pak Ferdian?" Kata Abraham dengan tegas.
Mendengar ada yang bertanya dengan suara tegas dan cukup keras membuat Hendra dan Tio kaget di buatnya.
Tio kaget sesaat namun dengan cepat mengendalikan diri nya sedangkan Hendra masih melotot di buatnya.
'Ha tuan Abraham selalu saja buat saja jantungan untung saja kalau tidak mungkin Warda sudah jadi janda,' batin Hendra menatap kesal ke arah Abraham.
"Jaga mata mu atau akan ku buat dia berpindah tempat saat ini," ancam Abraham saat melihat Hendra melotot ke arah nya saat ini.
Gleeekkk....
'Punya bos gini amat ya, serem nya tidak ilang ilang,' batin Hendra.
'He he he he he he he, kebiasaan kak Abraham suka datang tak di undang pulang takut ngusir kalau tidak pasti sudah di pecat tuh bang Hendra,' batin Tio menertawakan wajah Hendra yang sudah puas di buatnya.
"Apa kamu sudah meminta bantuan nya apa belum?" Kata Abraham penuh penekanan karena melihat Hendra masih terdiam membisu.
Glekkk....
'Aaahhh..... Sial,' batin Hendra mengumpat kesal.
'Kenapa aku bisa lupa,' batin Hendra merutuki kecerobohannya.
'Aduh bagaimana ini,' batin Hendra ketakutan.
Hendra terdiam melirik ke arah Tio seolah tatapan minta bantuan.
"Se-se...." Belum selesai berbicara Tio dengan cepat memotong ucapan dari Hendra.
"Saya sudah menghubungi nya kak," jawab Tio.
"Bagus," kata Abraham begitu senang.
'Alhamdulillah aku selamat hari kalau tidak bisa-bisa gaji ku di potong,' batin Hendra bersyukur.
'Syukurlah Tio cepat tanggap, jadi aku bisa selamat,' guman Hendra di dalam hati karena begitu senang.
"Mungkin hari ini pak Ferdian akan berkunjung ke sana," lanjut Tio dengan jelas, mata nya beralih menatap ke arah pergelangan tangan nya sambil memikirkan sesuatu.
Abraham tersenyum, dia menganggukkan kepalanya tanda puas dengan yang di dengarnya saat ini.
Kemudian Abraham berbalik menuju ke arah pintu keluar.
"Apa kamu sudah menjelaskan semuanya?" Tanya Abraham menoleh ke arah Tio memastikan semuanya terlebih dahulu.
"Beres kak, semua bukti juga sudah ku kirim ke pak Ferdian," jawab Tio percaya diri.
****
Di tempat berbeda....
Denis menatap ke arah pria yang duduk kursi yang di sediakan, jarak keduanya terhalang meja.
'Siapa dia? Apa aku mengenalnya? Dari penampilan nya seperti nya dia bukan orang biasa,' guman Denis di dalam hatinya bertanya-tanya tentang pria yang duduk di depan nya.
Melihat pria muda yang di depan saat ini sepertinya sedang bertanya-tanya dalam hati, Pak Ferdian dengan cepat tanggap langsung mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya pengacara yang di utus oleh tuan Abraham untuk menangani kasus ini," jelas pria paru baya bernama Ferdian menatap dengan tegas ke arah Denis.
"Terus apa mau anda pak Ferdian datang ke sini?" Denis tanpa basa-basi langsung ke intinya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, saya suka gaya anda berbicara langsung kepada tujuan anda tanpa berbelit-belit," kata pak Ferdian sambil terkekeh senang melihat sifat pria di depannya itu.
"Saya tidak ingin membuang waktu berharga anda," jawab Denis singkat tak lupa memutar bola matanya malas.
"Tolong jawab pertanyaan saya dengan benar karena ini semua akan saya laporkan langsung kepada tuan Abraham," jelas pak Ferdian.
Pak Ferdian pun menanyakan banyak hal, alasan sebenarnya dari Abraham bertanya dengan Denis adalah karena dia takut masalah nya dengan Denis bukan di awali dengan Amanda saat ini namun ada orang lain di belakang Denis, dengan kata lain kalau Denis sedang di perintah orang lain. Insting Abraham mengatakan kalau ada sesuatu yang membahayakan yang sedang mengancam keluarganya saat ini .
Denis terdiam, dia sedang dalam kebimbangan.
'Apa aku harus bercerita tentang laki-laki yang bernama Wilson yang menawarkan bantuan nya kepada ku,' batin Denis.
'Bismilah semoga langkah yang ku ambil bisa membuat ku melindungi mama,' batin Denis penuh tekad untuk berbicara jujur.
Denis pun bercerita kalau ada yang menemuinya ke sini, dia menceritakan pria yang bernama Wilson itu sudah 2 kali datang menemui dia dan tujuan Wilson datang menemui Denis juga Denis ungkapkan. Akhirnya cerita mengalir dari mulut Denis itu semua benar tanpa ada yang di tutupi olehnya, dia tak ingin berurusan dengan keluarga Abraham yang terkenal tak mengampuni musuhnya.
Denis juga tak lupa meminta bantuan untuk melindungi sang mama dari ancaman Wilson, pria yang tidak dia kenal. Denis juga meminta keringanan hukuman untuk dirinya, Denis tak ingin egois dia sadar ada sang mama yang butuh dirinya saat ini.
"Tolong lindungi mama saya, karena hanya dia yang saya punya saat ini," pinta Denis mengengam tangan pengacara itu dengan penuh permohonan.
"Iya saya akan sampaikan semuanya kepada tuan Abraham, agar dia membantu anda," jawab pak Ferdian dengan tulus.
Pengacara itu pun tersenyum mendengar kejujuran dari pria di depan nya saat ini.
"Saya salut karena anda bukan membencinya malah anda berbicara jujur dan seolah menerima semua nya dengan lapang dada dan berani mengakuinya serta meminta maaf," kata pak Ferdian kepada Denis.
"Awalnya saya membenci Tio dan tuan Abraham yang membuat keluarga saya hancur, namun di sini saya sadar karena seseorang telah memberikan saya nasihat-nasihat kebaikan. Saat itulah saya berfikir kalau tidak ada sebab maka tak ada akibat, jadi semua bermula dari saya sendiri," jawab Denis menerawang jauh.
"Semoga saja setelah ini akan ada kebahagiaan dan cinta tulus untuk mu," kata pak Ferdian menepuk pundak Denis.
Denis tersenyum di buatnya, senyum begitu tulus " Terimakasih,"
Pak Ferdian secara garis besarnya tahu, awal pria muda itu melakukan semua itu dan menyinggung keluarga Abraham.
"Saya akan menyampaikan semua nya, dan saya juga berharap kejujuran anda dapat mengurangi hukuman anda," kata pak Ferdian.
Pengacara itu berjanji akan menyampaikan semua nya dengan tuan Abraham nanti, pengacara itu kasihan dengan Denis yang sudah sepenuhnya menyesali kesalahannya.
Pengacara itu berfikir bahwa semua orang itu berhak mendapatkan kesempatan ke 2, kesempatan untuk berubah menjadi baik. Pengacara itu tersenyum saat Denis mengunakan kesempatan ini dengan baik.
Sebelum pak Ferdian itu pergi, dia sempat berbicara kepada Denis akan meminta tuan Abraham meringankan hukuman nya saat ini, dia juga berterima kasih karena Denis sudah mau berbicara jujur saat ini.
Setelah menyampaikan semua nya, pak Ferdian pun pamit undur diri.
B E R S A M B U N G .....