Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 123


"Bagaimana sudah mendingan?" Tanya Arin mendekat ke arah ranjang.


"Lho kak Arin kok bisa tahu kalau Tio ada di sini?" Tanya Rio penasaran karena dia pikir Abraham tak akan memberitahu dirinya.


"Ya siapa lagi," jawab Arin, ekor mata nya melirik ke arah Abraham.


"Dasar kalian berdua anak nakal, terutama kamu tuh. Sudah tahu kalau Tio dapat musibah begini bukannya segera kabari kakak malah diam saja mana di hubungi sibuk terus tuh ponsel," ungkap Arin kesal tangannya sudah mendarat di telinga Tio dan menjewer telinga sampai memerah.


"Aduuuh..... Sakit kak," teriak Rio mengaduh kesakitan.


Abraham mengelengkan kepalanya melihat interaksi mereka, Abraham bersyukur mempunyai Arin dan dia bisa menikmati kehangatan keluarga, tidak hidup sendiri seperti dulu.


"Ha ha ha ha ha ha, terus kak jewer terus biar kapok," bukannya menolong justru Tio malah mengompori sang kakak untuk menjewer saudaranya itu.


"Tio tolongin aku, ampuuuun kak," Rio melirik ke arah saudaranya itu meminta pertolongan namun bukannya di tolong, Tio justru menyuruh sang kakak untuk untuk melanjutkan aksinya itu.


"Dasar kamu tiiiiooooo, bukannya menolong malah mengompori," sungut Rio kesal.


"Sudah sudah kalian berhenti, malu di dengar pasien yang lain, suster maupun dokter yang lewat," lerai Abraham tak ingin drama adik kakak berlanjut entah sampai kapan.


Namun tangan Arin masih menempel cantik di telinga sang adik.


"Iya kak benar kata kak Abraham, malu kak nanti di kira kira rebutan cewek loh, secara di sini yang paling cantik kan kakak," kata Rio dengan memelas, berusaha membujuk kakaknya dengan kata-kata yang dia sendiri tak paham karena terlintas di benaknya tadi.


"Sayang lepasin, biarkan mereka berdua sarapan kasihan pasti mereka sudah lapar," bujuk Abraham karena kasihan melihat telinga Rio yang sudah memerah.


"Iya kak lepaskan tetapi lain kali kalau ada apa-apa kalian harus menghubungi kakak," kata Rio.


"Ini juga buat kamu Tio, kalian berdua itu adik kakak kalau ada masalah harus segera hubungi kak Abraham atau kakak, jangan bertindak gegabah," nasihat Arin untuk ke dua adiknya.


Rio maupun Tio mengangguk, jelas tergambar kesedihan di wajah Arin.


"Maafkan aku kak telah membuat kak Arin khawatir," lirih Tio menunduk, dia benar menyesal karena sudah membuat sang kakak khawatir.


Saat melihat raut wajah adiknya sendu membuat Arin memeluk sang adik.


"Ayo kita makan," ajak Abraham yang sudah mengeluarkan makanan yang dia bawa langsung ke atas meja.


Arin pun mengajak Rio untuk makan, tak lupa dia juga mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Tio.


"Wah enak nih," Rio girang melihat banyak lauk yang terlihat mengiurkan dan begitu menggugah selera makannya.


"Ambil yang banyak," suruh Arin membuka wadah yang berisi lauk.


Arin sengaja memasak berbagai macam makanan untuk kedua adiknya, Arin tak ingin sang adik kelaparan karena Arin tahu pasti mereka berdua melewatkan makan malam.


Rio pun mengambil nasi yang begitu banyak tak lupa mengambil berbagai lauk sehingga membuat piring nya terlihat penuh.


"Astaghfirullah adikku seperti kelaparan tidak makan berhari-hari," sindir Arin melihat sang adik yang kalap makan.


"He he he he he, iya kak Arin tahu saja kalau aku lapar. Maklum kak dari semalam tidak makan," jawab Rio cengengesan.


"Pantes rakus," ledek Tio, disambut Rio dengan mendelik sebal.


"Sudah jangan mulai ribut lagi, malu di dengar orang apalagi di depan tadi ada cewek cantik lewat," kata Arin membuat keduanya terdiam.


Tok tok tok tok tok tok....


"Siapa?" Tanya Tio kepada kembarannya.


Rio mendelikkan bahu nya karena dia juga tidak tahu siapa yang mengetuk pintu.


"Siapa Rio? Lihat gih. Tumben ada yang ketuk pintu biasanya bang Bimo dan Doni langsung nyelonong saja, kalau dokter sama suster mah ketuk bentar terus ngomong," jelas Tio panjang lebar.


Abraham hari ini memilih tidak ke perusahaan, dia akan menemani sang istri dan semua pekerjaan akan dia handle dari rumah nanti.


Arin pun berjalan menuju pintu.


Ceklek.....


"Lho kamu masih di sini?" Tanya Arin kepada wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Em emmm mmm kak , em apa benar ini kamar rawat Tio?" Tanya Amanda dengan hati-hati.


Amanda merasa gugup karena melihat wanita muda di depannya itu terlihat begitu cantik dan elegan.


"Iya benar, Tio ada di dalam," jawab Arin sambil melirik wanita itu dari atas ke bawah.


'Wanita ini terlihat sopan, cantik. Apa dia pacarnya Tio ya? Ah pintarnya adikku cari pacar. He he he he he....' batin Arin bertanya-tanya sambil terkekeh dalam hatinya.


"Saya Amanda teman nya Tio," kata Amanda memperkenalkan diri.


"Ayo silahkan masuk," ajak Arin tersenyum manis mengandeng tangan Amanda memasuki ruang rawat itu.


"Sa-saya di sini saja," Amanda sedikit takut apalagi mendengar di dalam sepertinya ada banyak orang.


"Sudah jangan malu, ayooo....." Arin menarik tangan Amanda untuk masuk ke dalam.


"Eh...." Amanda tersentak kaget saat melihat tangannya di tarik wanita itu.


'Siapa nih perempuan, apa dia kekasih Tio. Tetapi apa mungkin secara dia terlihat lebih dewasa namun wajahnya begitu cantik dan dia kelihatannya juga baik,' batin Amanda bertanya-tanya.


Namun dia akui kalau Arin terlihat seperti baik dan tulus kepada nya.


Ketiga lelaki di dalam mengerutkan keningnya kala melihat Arin mengandeng tangan seseorang, saat kepala Amanda muncul di balik pintu membuat Tio kaget sekaligus senang.


Rio membulatkan matanya menatap sahabatnya itu yang tiba-tiba muncul di sini.


"Hei Rio, kamu pasti yang kasih tahu Amanda kalau aku ada di sini y" tanya Tio berbisik tak lupa menatap horor ke arah saudaranya itu.


"Bu-bukan aku," jawab Rio karena dia sama sekali tak memberitahu Amanda kalau Tio berada di rumah sakit.


"Ya siapa lagi kalau bukan kamu," ucap Tio.


"Sueer Tio, aku saja kaget melihat tuh anak sudah muncul di sini," jawab Rio.


"Eh silahkan duduk di sana," tunjuk Amanda ke arah kursi di dekat ranjang Tio.


"Rio belikan Amanda minum gih, tadi kakak lupa bawa," perintah Arin.


"Ya elah kak, baru saja selesai makan sudah di suruh-suruh," bibir Tio mencebik kesal tak lupa mulutnya terlihat mengemaskan.


"Cepat," titah Arin mengedipkan matanya.


"Hei kak, mata nya kenapa? Kelilipan ya," kata Rio.


"Rioooo...." Arin melotot menatap Rio horor.


Arin pun menghampiri Rio dan menarik tangannya untuk keluar.


"Sayang ayo," Arin memanggil Abraham untuk dia ajak keluar juga karena Arin ingin memberi Tio dan Amanda kebebasan untuk berbicara.


B E R S A M B U N G...