
Keesokan harinya...
Hari ini kedua anaknya tengah duduk di depan televisi menonton acara kesukaan nya
"Mama mana kue nya," teriak Aurel yang tengah fokus ke arah benda kotak itu.
"Sebentar sayang," jawab Arin berteriak dari arah dapur.
"Abrian juga ma, mau minus sup buah," teriak Abrian.
Abraham yang menyaksikan itu pun gemas, dia menghampiri kedua anaknya. Abraham berniat menyampaikan kabar kehamilan Arin kepada kedua anaknya, karena kemarin Abrian dan Aurel sedang berada di rumah Oma nya.
"Sayang..." Abraham berbicara menghampiri kedua anaknya.
"Ayo pa kita main game pa," ajak Abrian yang sedikit bosan melihat acara kartun kesukaan mereka.
"Emmm.... Papa ingin bicara," kata Abraham membuat kedua bocah itu menoleh lagi.
"Ada apa pa?" Tanya Aurel dengan kening mengkerut terlihat lucu untuk anak usia dirinya. Sedangkan Abrian terdiam menyimak.
"Ini pesanan tuan putri cantik dan pangeran tampan nya mama," tiba-tiba Arin datang membawa nampan berisi sup buah, kopi dan kue kesukaan Aurel.
"Ini buat mas," kata Arin menyerahkan kopi yang ada di nampan kepada Abraham.
"Terimakasih ma," jawab kedua kembar itu serempak.
"Terimakasih sayang," kata Abraham.
"Lho kenapa kok tegang mukanya?" Tanya Arin saat kedua bocah itu masih menatap Abraham.
Arin pun ikut menatap sang suami setelah mengamati wajah si kembar.
"Kenapa mas? Kok Aurel sama Abrian kok menatap mas seperti itu," tanya Arin.
"Aku ingin memberitahu mereka kalau sebentar lagi mereka akan mempunyai adik," tanpa di duga kata itu meluncur dari mulut Abraham.
"Ha adik," keduanya berbicara berbarengan karena kaget ataupun bahagia, entahlah hanya ke duanya yang tahu.
Arin maupun Abraham mengangguk, menunggu reaksi dari keduanya.
"Jadi kita beli adik pa?" Tanya Aurel dengan nada polos sedangkan ketiganya mendengar ucapan Aurel pun menepuk keningnya serempak.
"Mana ada toko jual adik, ini bukan mainan Aurel," cebik Abrian menatap Aurel kesal.
"Ya mana Aurel tahu kak," jawab Aurel cemberut.
"Adik itu nanti keluar dari perut mama," kata Abrian.
"Kok bisa bagaimana? Apa adik beli dulu terus di masukin perut mama," tanya Aurel.
Abrian mendengus kesal, dia memilih tutup mulut malas menjawab pertanyaan Aurel yang tak kunjung ada habisnya.
Abraham hanya menyimak sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah jangan berantem, biar mama jelaskan," lerai Abraham melemparkan jawaban untuk keduanya kepada Arin.
Arin mendelik sebal.
"He he he he he aku takut salah jelasinnya, apalagi tuh Aurel banyak tanya," bisik Abraham di telinga Arin.
"Terus mas ngapain?" Bisik Arin.
"Mas duduk manis menyesap manisnya kopi buatan istriku," jawab Abraham berbisik.
"Papa sama Mama curang bisik-bisik terus," kesal Aurel yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arin maupun Abraham.
Arin menghembuskan nafas kesal sebelum mulai berbicara.
"Begini ya sayang, di perut mama ada adik tetapi tidak beli di toko. Sekarang masih kecil masih seukuran biji nanti semakin lama semakin besar menyerupai kak Abrian atau Aurel masih bayi, nanti setelah 9 bulan baru adik lahir," jelas Arin membuat Aurel mengangguk.
"Ma...." Perkataan Aurel terpotong karena Arin berbicara.
"Itu lihat ada foto Abrian sama Aurel masih bayi," tunjuk Arin kepada foto 2 anak kembar baru berusia satu bulan.
Ya Arin sempat memindahkan beberapa foto kembar sewaktu bayi ke mansion ini.
"Nah Aurel ngerti kan," Aurel masih binggung tetapi dia mengangguk.
"Nanti adiknya seperti kak Abrian atau Aurel?" Tanya nya lagi membuat Abraham maupun Arin terdiam.
"Maunya seperti Aurel biar bisa di ajak bermain boneka," jawab Aurel.
"Abrian mau laki-laki ma biar gak cerewet seperti Aurel," tiba-tiba Abrian menyela.
"Ish cewek,"
"Cowok,"
"Cewek,"
"Cowok,"
Keduanya berdebat membuat Arin maupun Abraham pusing di buatnya.
"Stop..." Teriak Arin menggelegar.
"Sayang dengarkan mama, mau perempuan atau laki-laki tidak masalah kan yang penting kalian punya adik," jelas Arin.
Meskipun ada rasa tak terima tetapi keduanya mengangguk.
"Papa juga mau sepasang anak lagi, laki-laki dan perempuan tetapi mama cuma buat adik satu," celetuk Abraham membuat Arin melotot kesal.
"Ya sudah besok papa saja yang hamil," kesal Arin membuat Abraham tersenyum kikuk.
"Ya sudah ayo habiskan kopi nya, sup buah dan kue kalian," kata Arin keluar tanduknya.
"Iya kak aku mau adik laki-laki saja, kalau perempuan nanti galak seperti mama," kata Aurel dengan polosnya membuat Arin menganga tak percaya ucapan anak nya tadi.
"Sabar sayang, ingat anak kita yang ada di sini," bujuk Abraham mengelus perut rata Arin.
Arin pun menarik nafas panjang, menghembuskan pelan untuk menghilangkan kekesalannya.
B E R S A M B U N G