Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 86


"Oh haus, ku kira dia kabur karena gak mau ku suruh beli belimbing, bengkoang dan mentimun,"


"Jadi kamu saja yang beli semuanya," titah Arin, setelah itu dia pergi meninggalkan Bimo menuju kamar untuk merebahkan diri. Entah kenapa dia merasa mengantuk.


Sedangkan Bimo kakinya terasa lemas, seharian dia pergi mencari mangga sekarang dia harus mencari buah itu.


Bimo pun mengangguk setuju, setelah itu dia menghampiri Doni yang tengah meminum jus jeruk dingin.


"Enak banget kamu minum jus, sedangkan aku harus cari buah lagi," keluh Bimo dengan wajah lelahnya.


"Ya elah begitu saja pusing, suruh saja yang lain beli," jawab Doni enteng sambil mencomot kue bolu yang ada di meja makan.


"Iya ya, bener juga. Tumben otak mu encer," kata Bimo tersenyum sumringah.


"Dari dulu juga aku pintar kalau tidak mana bisa aku punya peternakan sapi," jawab Doni bangga.


"Ck di puji sedikit saja sudah sombong, nyesel aku puji kamu," cibir Bimo.


"Eh kamu," panggil Bimo saat bawahannya lewat dapur.


"Eh iya bang, ada apa?" Tanya Roy.


"Tolong belikan buah belimbing, mentimun sama bengkuang ya pokoknya tiap varian semuanya 2 kilo," kata Bimo menyuruh anak buahnya.


"Uang nya mana bang," ta ya Roy malu-malu.


"Minta saja sama pak nan, dia yang mengurus semua pengeluaran rumah tangga," jawab Bimo.


Roy pun mengangguk, dia berpamitan untuk pergi membeli buah pesanan Bimo.


Sedangkan para art di pantau oleh pak nan mempersiapkan potongan buah mangga dan bumbu rujak sesuai pesanan nyonya muda mereka.


Sedangkan Abraham menyuruh kedua anaknya untuk menyudahi berenang karena waktu sudah sore.


"Aurel, Abrian bagaimana kalau kita sudahi saja berenangnya karena hari sudah sore," pinta Abraham.


"Siap pa," jawab Abrian.


"Ish papa kenapa harus berhenti sih," Rajuk Aurel.


"Sudah sore sayang, nanti di marahi mama," bujuk Abraham.


Mendengar nama mamanya di ucapkan membuat Aurel setuju karena dia tak ingin di omeli sang mama.


Abrian dan Aurel pun membersihkan dirinya di bantu art, sedangkan Abraham memilih mandi di kamar mandi dekat sana, di sana juga tersedia semua kebutuhannya dan baju nya juga sudah tersedia di lemari khusus.


20 menit kemudian...


Abraham memasuki ruang tengah namun Arin tak kunjung terlihat, Abraham pun memilih naik menuju ke arah kamar nya.


Ceklek...


Abraham tersenyum kala melihat istri tercintanya sedang tidur dengan nyenyak.


Abraham membelai wajah cantik Arin, membuat pemilik wajah itu menggeliat karena merasakan ada yang menyentuh wajahnya.


Arin membuka matanya, dia menatap manik mata indah Abraham. Sama seperti Arin, Abraham pun tengah menatap nya dengan lembut.


"Sayang bangun susah sore," kata Abraham.


"Hoamm..." Arin menguap karena masih sedikit mengantuk.


"Emm.... Jam berapa?" Tanya Arin memastikan. Arin mengucek mata nya untuk mengurangi rasa kantuknya.


"Jam 4 sore, ayo mandi setelah itu kita makan rujak pesanan kamu," kata Abraham.


Arin pun turun ke bawah di temani sang suami.


Keduanya pun sampai di bawah, Abraham duduk di teras sedang Arin menuju ke arah dapur. Arin baru ingat tentang rujak yang dia pesan tadi ke Bimo.


"Pak nan bagaimana rujak pesanan saya tadi," lirih Arin.


Pak nan pun tersenyum, setelah itu dia menunjukkan potongan buah kecil-kecil dengan bumbu kepada Arin.


"Terimakasih pak nan," jawab Arin tersenyum manis. Arin pun memakan dengan lahap buah dengan cocolan bumbu rujak.


Abraham menyergit kala melihat banyaknya potongan buah, Abraham mengira kalau Arin hanya meminta mangga saja.


Karena melihat Arin yang lahap makan Abraham pun tergiur untuk mencoba.


Abraham pun mencomot buah bengkoang dan mencelupkan ke bumbu rujak yang warnanya begitu menggugah selera.


Hap... Craus... Craus...


Abraham mengunyah dengan pelan sambil menikmati rasa di lidahnya.


"Sttttt...... Aaaaaa..."


" Pedas pedas air air," teriak Abraham kalang kabut sedangkan Arin terdiam melihat aksi heboh sang suami.


Pak nan tergopoh-gopoh berlari, saat melihat menyerahkan minuman kepada Abraham. Arin cuek karena menurut dia ini tidak pedas bahkan biasa saja.


Bimo maupun Doni pun ikut berlari, mereka bernafas lega. Mereka mengira ada penyusup masuk.


"Ya elah ku kira apaan, dasar tuan Abraham lebay banget," guman Bimo dengan suara kecil dan hanya bisa di dengar oleh Doni seorang.


"Maklum saja Bim, kan tuan Abraham tidak suka makanan pedas," jelas Doni.


"Iya ya, aku baru ingat," kata Bimo.


Kembali ke Arin dan Abraham.


"Sayang jangan di makan," Abraham merebut sambal itu dari Arin.


"Apaan sih mas, aku mau makan. Kembalikan," protes Arin.


"Jangan nanti kasihan anakku dalam perut kamu kepedesan," tolak Abraham saat Arin meminta sambal rujak itu.


"Kembalikan, itu tidak pedas sama sekali mas," pinta Arin memelas.


"Sayang kembali kan atau aku nangis nih," ancam Arin.


Hiks hiks hiks hiks....


Tanpa di duga Abraham Arin pun benar-benar menangis, membuat Abraham mau tak mau harus mengembalikan bumbu rujak itu.


"Iya, tetapi jangan banyak-banyak," pinta Abraham. Arin mengangguk setuju.


"Ha ha ha ha ha bumil drama banget sih," bisik Bimo di telinga Doni.


"Baru 2 hari, moga nyonya Arin tidak ngidam aneh-aneh besoknya," guman Doni.


"Eh aku pulang ya, kangen istriku," kata Doni membuat Bimo melotot.


"Ck dasar,"


B E R S A M B U N G......