
Tok tok tok tok tok tok....
"Pa..."
Terdengar suara orang berbicara dari luar.
"Sayang itu sepertinya suara Abrian deh," kata Arin menggoyang kan tubuh sang suami yang sudah terlelap karena rasa kantuk yang menyerang.
"Kenapa sih sulit sekali di bangunkan," grutu Arin yang sedari tadi kesal membangunkan sang suami namun tak kunjung bangun.
"Hoaam...." Abraham menguap sebentar, dia langsung melirik ke arah sang istri yang sedari dari tadi berusaha membangunkan tidurnya.
"Ada apa sayang?" kata abraham bertanya kepada Arin.
Melihat sang istri yang masih terdiam membuat Abraham mengulangi kata-kata nya lagi.
"Apa apa apa apa?" Tanya Abraham memastikan lagi.
"Coba dengar itu sepertinya suara abrian yang memanggil mu sayang?" Kata Arin menatap ke arah pintu.
"Sayang jam berapa sekarang?" Tanya Abraham yang masih mengantuk dengan sesekali mata masih terpejam.
"Baru jam 03.00, tumben mas sudah tertidur biasanya kan masih jam segini masih di kantor sibuk dengan tumpukan berkas," sambung Arin sambil menunjukkan ke arah jam yang ada di dinding kamarnya saat ini.
"Hah jam 03.00, hmmm.... Iya akhir-akhir ini aku sering bergadang karena itu tadi mungkin aku tanpa sadar ketiduran karena lelah," jelas Abraham yang masih terlihat kaget karena dirinya bisa tertidur di jam segini.
"Ah kenapa aku bisa ketiduran?" Gerutu Abraham merutuki dirinya yang tampak sengaja tertidur.
"Emang ada apa sih mas?" kata Arin seraya bertanya menatap kearah sang suami dengan tatapan bingung.
"Hehehe hehehe he..... Sebenarnya aku lupa kalau tadi ada janji dengan Abrian untuk mengajak dia ke kantor jam 2 tadi," kata Abraham menepuk keningnya pelan.
"Ha untuk apa tuh anak mau ke kantor," kata Arin dengan binggung.
"Entahlah apa yang dipikirkan anak itu sehingga dia meminta untuk datang ke kantor dengan alasan sekedar untuk melihat-lihat," jelas abraham menatap kearah sang istri.
"Oh ya sudah sana cepat buka pintunya takutnya anak itu nanti ngambek karena kita tidak segera membuka pintu kamar ini," suruh Arin.
"Tolong tolong sayang bukain pintunya aku mau mandi sebentar," pinta Abraham dengan wajah di buat semanis mungkin.
"Ck... Mas tuh tak pantas berwajah manis seperti itu," kata Arin mengelengkan kepalanya.
Abraham pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan memberi rasa segar agar rasa kantuk yang sedari tadi menderanya segera hilang.
Ceklek....
"Kenapa sayang?" Tanya Arin saat membuka pintu mendapati anaknya itu.
"Papa mana ma?" Tanya Abrian.
"Papa lagi mandi, tadi papa ketiduran jadi mandi dulu biar segar," jelas Arin takutnya bocah itu merajuk.
Abrian pun masuk ke dalam kamar Arin, dia duduk di sofa dengan kaki yang berayun-ayun secara sofa itu terlalu tinggi untuk tubuh mungil Abrian.
"Ma tolong buatin Abrian susu coklat ya nanti di bawa ke sini saja, Abrian lelah kalau harus turun ke bawah," pintanya dengan wajah memelas.
"Ya sudah kamu tunggu di sini, mama akan ambilkan," kata Arin tak lupa mencium pipi sang anak dengan gemas.
Arin pun pergi keluar menuju ke arah dapur....
Ceklek... setelah bepergian Arin muncullah Abraham di balik pintu kamar mandi.
"Heeeeiiiii boy," sapa Abraham saat melihat sang anak yang sudah duduk manis di atas sofa.
" apa papa lupa kalau ada janji dengan Abrian," kata bocah itu dengan wajah cemberut.
"He he he he he he he he, maaf papa lupa," kata Abraham kikuk.
"Ck padahal Abrian mau belajar bisnis seperti papa," ucapan Abrian itu membuat Abraham melotot tak percaya, bagaimana bocah yang baru SD ini mau belajar berbisnis.
Abraham menyugar rambutnya frustasi.
"Tunggu di sini, papa ganti baju dulu," pintanya kepada sang anak.
Abraham pun masuk ke dalam ruang ganti, setelah 5 menit Abraham pun kembali menghampiri sang putra.
"Papa tahu, putra papa ini pasti merencanakan sesuatu," kata Abraham penuh selidik.
"Aku hanya ingin seperti papa saja kalau sudah besar," elak Abrian.
Abraham tentu tak percaya omongan bocah di depan nya itu.
"Ayolah kata kan, rencana apa yang ada di otak kecil ini," kata Abraham mengetuk kening sang anak.
"Ish Papa tahu saja," Abrian di buat cemberut.
"Tentu karena kamu adalah anak papa," jelas Abraham.
"Sebenarnya aku ingin membuktikan sama om dokter kalau nanti setelah aku besar pasti dia akan menyesal, aku ingin nanti dia menarik kembali ucapannya dan memohon-mohon padaku," jawab Abrian menepuk dada nya dengan bangga.
"Hmm.... Terserah anak Papa saja, nanti kita main ke perusahaan papa untuk melihat-lihat saja karena kamu belum waktunya belajar bisnis mengerti...." Kata Abraham dengan lembut membuat Abrian mengangguk.
"Terus aku juga ingin belajar bela diri biar aku kalau sudah besar seperti papa, Abrian juga ingin punya perut kayak papa kotak-kotak," lanjut bocah kecil itu.
"Hmmm..... " Abraham menghela nafas panjang, saat mendengarkan ucapan dari anak nya itu.
"Biar nanti om Tio sama om Bimo yang akan mengajari kamu bela diri dan keterampilan lainnya," kata Abraham.
'Mungkin aku harus melatih anak ku mulai hari ini, dia harus bisa melindungi dirinya sendiri, akan ku minta Doni mengajarkan dia memanah, berkuda dan keterampilan lainnya. Mungkin Aurel juga harus mulai belajar apalagi dunia ku bukan dunia yang aman karena banyak orang yang serakah akan harta bisa menghalalkan segala cara,' guman Abraham berfikir di dalam hati nya.
B E R S A M B U N G....