
Amanda menoleh ke belakang melihat keberadaan Tio, Amanda pun hendak berlari lagi namun dia terbentur sesuatu yang keras.
Bruk....
"Aucchhh sakit," lirih Amanda memegang kepalanya yang tak sengaja berbenturan dengan temannya.
"Maaf maaf ya aku tak sengaja," lirih Amanda menunduk meminta maaf, sampai tak melihat siapa yang dia tabrak.
"Jalan pelan-pelan dong mbak," jawab wanita itu kesal.
"Lho Manda... Eh kamu Amanda kan? Kamu kenapa terburu-buru begitu lari seperti melihat hantu saja?" Canda Dhea yang tak lain teman di kampus meskipun tak begitu akrab.
"Iya muka kamu juga seperti pucat, mungkin kamu kelelahan," kata Indri teman Dhea.
"Tidak apa-apa, tadi aku lihat ada kecoak di sana jadi aku berlari karena takut," elak Amanda karena dia tak ingin berbicara jujur kalau dia bertemu dengan Tio.
"Oh kita kirain ada yang berniat jahat sama kamu, secara kamu kan cantik," goda Indri.
"He he he he he kalian apaan sih, maaf ya aku duluan bentar lagi kelas ku mulai," pamit Amanda. Dia bergegas pergi karena tak ingin bertemu dengan Tio.
***
Sedangkan di taman yang tak jauh dari toilet tadi.
Tio mengepalkan tangannya, dia begitu tak rela melihat Amanda tiba-tiba menjauhinya bahkan bersikap dingin seolah-olah tak mengenalinya. Tio benci itu ......
"Akan ku buat kamu kembali kepada ku meskipun aku harus merebut mu dari saudaraku, aku akan mengambil milikku kembali karena sedari dulu Amanda milik ku hanya milik ku," guman Tio setelah itu dia pergi menuju ke kantin untuk makan karena dia tadi belum sempat makan.
Berbeda dengan Amanda yang menggerutu kesal karena sikap Tio yang mengatakan dia plin-plan.
"Bisa-bisa nya dia ngatain aku plin-plan, bukannya dia yang plin-plan. Dulu saja cuek bebek, kalau aku kasih kue ataupun kado baju saja dia tolak mentah-mentah tetapi sekarang dia malah dekat-dekat aku padahal dia sendiri yang menyuruh aku jangan ganggu dia," guman Amanda lirih dengan berjalan cepat menuju ruang kelasnya.
"Ehemmm jangan ngomel-ngomel tak jelas nanti cepat keriput," ledek Rio yang tiba-tiba saja muncul di belakang nya.
"Eh ...." Amanda melonjak karena kaget mendengar Rio yang sudah di belakang nya.
"Kamu suka banget sih buat aku kaget, dasar kamu dari dulu suka muncul tiba-tiba. Emmm.... Seperti Mr. J datang tak di undang pulang tak diantar," kesal Amanda.
"Enak saja ngatain orang sembarangan," cebik Rio kesal.
"Salah sendiri kamu suka ngagetin orang," kesal Amanda.
"He he he he he he maaf, ayo kita ke kelas nanti ketinggalan kelas pak vino yang tampan itu," ledek Rio yang tahu kalau dosennya itu sering curi pandang ke arah Amanda.
Amanda memutar bola matanya malas, menanggapi sindiran dari sahabatnya itu.
Amanda pun mempercepat langkahnya meninggalkan Rio.
"Hei tunggu sayang, masa kekasihmu ini di tinggal sih," kata Rio menggoda Amanda.
"Ish..." Amanda menatap Rio sinis.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Rio tergelak melihat tingkah Amanda.
Seseorang dari kejauhan memperhatikan gerak-gerik keduanya, tangannya terkepal erat. Hatinya terasa nyeri melihat pemandangan itu, sakit namun tak berdarah.
Tio yang tadinya mau ke kantin namun langkahnya terhenti saat melihat saudaranya bersama Amanda terlihat mesra.
"Benar kata orang penyesalan itu datang nya di akhir, kalau di depan pendaftaran," sindir Nino yang berjalan menghampiri Tio.
"Diam Lo, berisik," kesal Tio menjitak kepala Nino karena kesal.
"Ayo kita makan dulu, buat semangat melanjutkan hidup," ledek Nino berjalan menuju ke kantin.
"Ledek terus," kesal Tio.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Nino semakin tak tahan ingin tertawa melihat sahabatnya itu.
"Ayo kita makan, nanti ku kasih tahu caranya untuk meluluhkan hati Amanda lagi," kata Nino memberikan semangat kepada sahabatnya itu.
"Hmmm...." Tio pun mengangguk, dia segera mengikuti langkah kaki Nino.
****
Sedangkan di rumah sakit.
"Sayang kenapa Bimo belum balik-balik sih cuma beli popok saja lama nya minta ampun," kesal Abraham.
"He he he he he sabar sayang, mungkin antri atau macet," jawab Arin terkekeh lucu.
Bagaimana tidak karena Abraham mengomel tak jelas dari tadi karena terkena ompol sang anak.
"Nih anak punya dendam apa sih sama aku, sampai tiap ku gendong ngompol terus,"
"Kan tadi sudah ku bilang, setelah Andra ganti celana sebaiknya di taruh saja di boks bayi," jelas Arin membuat Abraham terdiam.
"Mungkin tadi Andra belum selesai jadi dia ngompol lagi, sabar ya sayang," kata Arin mengedipkan matanya.
"Jangan menggodaku sayang," lirih Abraham.
"Sayang tolong gantikan celana nya lagi ya," pinta Arin tersenyum manis membuat Abraham luluh. Dengan telaten hot Dady itu pun mengurus anaknya.
Awalnya Abraham takut sekedar mengendong sang anak, namun demi menebus kesalahannya di masa lalu Abraham pun berusaha menjadi papa yang baik.
Setelah itu Abraham memberikan baby Andra ke Arin untuk di susui.
"Sini..." Arin melambaikan tangan nya saat Abraham hendak menjauh setelah memberikan baby Andra di pangkuan nya.
"Cup..." Arin mengecup pipi Abraham dengan penuh cinta.
"Terimakasih sayang," kata Arin.
Senyum Abraham semakin mengembang.
Oeeek
Oeeek
Bayi itu menangis dengan keras membuat wajah Abraham kembali mendung nan suram kembali.
Baru saja dapat asupan dari sang istri sudah di ganggu dengan tangisan bocil.
"Nih anak sentimen banget sama aku, tidak suka banget lihat Papa nya senang," guman Abraham dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh sang istri.
Plak...
Arin memukul lengan Abraham karena kesal.
"Sabar, ini juga anak kamu," Arin mencoba membujuk sang suami agar wajahnya kembali cerah.
"Untung anakku kalau tidak..." Abraham tak meneruskan ucapannya, dia takut melihat tatapan sang istri yang siap memangsanya.
"He he he he he tidak sayang," Abraham mencari aman.
"Ayo sayang minum asi yang banyak biar cepat besar," Abraham mengelus kepala sang anak dengan lembut.
Abraham tersenyum memandang ke arah dua orang yang di cintai nya.
Baby Andra pun tertidur mungkin karena dia sudah kenyang, dengan telaten Abraham pun memindahkan bayi tampan ini ke boks bayi yang ada di samping ranjang Arin.
Tok tok tok tok tok tok...
"Siapa sayang?" Tanya Arin memastikan.
"Entahlah sayang, aku lihat dulu ya," Abraham pun berjalan menuju ke arah pintu.
Ceklek...
"Ini tuan pesanan anda, maaf tadi macet dan stok di sini sudah habis," jelas Bimo.
Abraham pun mengangguk, dia segera menutup pintu dan tak bertanya macam-macam.
Bimo membuang nafas lega.
"Untung saja tuan Abraham tak bertanya macam-macam, he he he he lumayan bisa balik lagi buat ketemu ayang beb," guman Bimo girang akhirnya dia bisa bertemu dengan pujaan hati nya.
B E R S A M B U N G.....