
Rio maupun Amanda sudah sampai di depan gerbang kampus.
"Cepat peluk aku mesra," perintah Rio dengan suara pelan namun masih di dengar oleh Amanda.
"Ha buat apa?" Tanyanya binggung.
"Ck dasar jomblo, biar semua yakin kalau kita pacaran. Kamu lupa rencana awal kita membuat saudara ku itu cemburu," jelas Rio kesal karena sahabatnya ini terlalu polos.
Rio mendukung Amanda dengan Tio secara penuh karena Amanda bukan cewek matre, Amanda polos, lugu , baik dan keluarga nya pun Rio sangat mengenal.
"Oh iya ya, he he he he maaf lupa," jawab Amanda cengengesan.
"Rio jujur aku grogi, apa aku pulang saja ya," Amanda terlihat begitu ragu.
"Hei kamu kenapa sih bicara begitu, gak menghargai aku banget," kesal Rio.
"Ha... Menghargai bagaimana? Aku gak ngerti," gadis cantik itu mengerutkan keningnya tak mengerti ucapan pria di depannya itu.
"Fyuuuuu," Rio menghela nafas panjang menghilangkan rasa kesal yang sedari tadi di dalam hati nya.
"Untung sahabat kalau tidak sudah ku tinggal di hutan," guman Rio dengan suara kecil, kata itu keluar karena luapan kesal Rio saat ini.
"Ha apa kamu bilang," tanya Amanda yang tak begitu jelas mendengar ucapan Rio tadi, karena Rio memang sengaja tak berbicara keras.
"Cepat peluk," Rio mengulangi ucapan nya sekali lagi.
"Tetapi aku tidak pernah peluk cowok," tolak Amanda.
"Anggap saja aku kakak kamu, lagian sebentar lagi kita akan menjadi saudara. Secara kamu dan Renata adalah saudara sepupu," rayu Rio karena dia ingin rencana nya berhasil.
Rio ingin saudaranya bisa jadian dengan Amanda terlebih lagi sampai menikah, Rio tak ingin Tio salah memilih wanita karena Rio sering kesal meskipun Tio cuek namun dia tak pernah sekalipun menolak perhatian dari wanita-wanita manja yang sering memberikan kado untuk saudara nya.
"Bismillah," guman Amanda pelan yang masih di dengar oleh Rio.
"Hei kamu mau perang ya," cibir Rio.
"He he he he he, biar rencana berhasil jadi berdoa dulu," jawab Amanda.
"Terserah kamu bilang,"
"Rio.... Emm... Emm... Aku pegang jaket kamu saja ya," tawar Amanda.
"Terserah, ayo buruan nanti bisa-bisa kita telat gara-gara ngurusi hal gak penting begini," kata Rio sambil melirik jam yang ada di tangan nya.
"He he he he he maaf,"
Amanda pun mengengam jaket Tio dan tak lupa membenarkan tampilan dirinya.
"Hei bagaimana sudah rapi apa belum," tanya Amanda.
"Hmmm..."
Motor melaju pelan ke arah parkiran.
"Senyum yang lebar," bisik Rio.
"Ish kalau lebar-lebar nanti kering gigi ku," protes Amanda.
"Ck terserah yang penting senyum,"
Suasana heboh seketika karena Rio berboncengan dengan wanita cantik.
"Cuit cuit cuit cuit...." Teman Rio yang tidak sengaja melihat itu pun tak henti-hentinya menggoda Rio.
Motor pun berhenti di parkiran, Amanda pun turun di susul Rio.
"Sayang rambut kamu berantakan," kata Rio berpura-pura membenarkan rambut Amanda.
Mendengar kata sayang dari sahabatnya itu membuat mata Amanda melotot seperti mau keluar.
Rio pun mengedipkan mata nya memberi kode pada wanita polos itu.
"Eh Rio siapa tuh?" Tanya Nino yang baru saja memarkirkan motornya.
"Dia kekasihku, Amanda..." Jawab Rio penuh keyakinan.
Rio maupun Amanda bersyukur karena Renata kuliah bukan di sini sehingga banyak yang tak tahu kalau Rio sudah punya kekasih. Rio pun bukan orang yang suka mengumbar kebucinan dia di kampus meskipun hanya melalui sambungan telepon.
"Ha Amanda?" Tanya Nino memastikan.
"Iya dia Amanda, masa sih lo gak tahu," jawab Rio tersenyum misterius.
'Binggo tepat sasaran,' batin Rio senang.
'Sebentar lagi umpan akan masuk sasaran,' batin Rio senang karena rencananya akan berhasil.
"Ha Lo beneran Amanda, beneran?" Kata Nino memastikan.
'Kaget kan Lo, lihat Amanda yang dulu sering kamu ledek berubah jadi cantik,' guman Rio di dalam hati.
"Iya," jawaban Amanda membuat lelaki manis di depannya itu kaget.
'Ha gila gila beneran itu Amanda, cantik banget tahu gitu dulu ku gaet. Eh bentar-bentar, aku harus hubungi Tio secepatnya biar dia nyesel. Ha ha ha ha ha ha...' batin Nino.
"Hei duluan ya," kata Rio yang melihat temannya itu melamun tak jelas.
"Eh iya ya," jawab Nino tergagap karena ketahuan melamun.
Rio tersenyum tipis melihat tingkah temannya itu. Rio pun mengandeng Amanda mesra meskipun tingkah keduanya tersenyum manis ke arah Nino namun tanpa semua orang tahu keduanya tengah melakukan aksi tarikan.
Amanda begitu risih saat banyak sepasang mata yang menatapnya.
"Hei apa penampilan ku aneh ya, kenapa semua nya melihat ke arah kita?" Tanya Amanda.
"Biarkan saja, mereka tuh sebenernya heran kenapa kamu bisa berubah cantik," jelas Rio.
"Tetapi aku malu," cicit Amanda.
"Sudah PD saja," Tio memberikan semangat kepada sahabatnya.
"Ayo," Rio mengandeng tangan Amanda seolah mereka berdua pasangan kekasih.
Pasti banyak perempuan yang terbawa perasaan melihat sikap romantis Rio itu.
"Hei kenapa pakai gandengan segala, kayak mau nyebrang saja," protes Amanda.
"Jangan bawel, noh di lihat Nino biar meyakinkan," kata Rio. Amanda maupun Rio menoleh ke belakang memastikan Nino.
"Iya tuh anak ngapain masih diam di sana," tanya Amanda.
"Bentar lagi tuh anak pasti ngasih tahu Tio, diam jangan protes karena aku mau rangkul kamu. Kamu tadi lihat kan dia mengarahkan ponselnya ke arah keduanya.
Sepeninggal Rio dan Amanda.
Cekrekkk....
"Ah mantap, pasti Tio nyesel tuh lihat Amanda sekarang," guman Nino.
Setelah itu dia mengirimkan foto dan pesan kepada Tio.
***
Sedangkan di mansion mewah, Tio sedang membujuk Aurel untuk makan, dia pun mengejar Aurel yang terus menghindar.
Trink...
Ponsel Tio yang ada di dalam saku celananya berbunyi.
"Ck siapa sih yang sudah menghubungi ku,"
Tio pun membuka ponselnya, dia mengerutkan keningnya karena heran tak biasanya Nino menghubungi dia jam segini.
Tio menganga tak percaya dengan apa yang dikirimkan temannya itu. Dia tak percaya yang sedang di gandeng Rio adalah di kutu buku.
"Dasar kutu buku," umpat Tio kesal, tiba-tiba hatinya merasa panas.
"Om Tio sendok Aurel kenapa di patahin?" tanya Aurel seperti ingin menangis melihat sendok kesayangan patah akibat di remas Tio.
"Ha...." Tio kaget, dia pun tanpa sadar merusaknya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks," tangis Aurel pun pecah.
"Cuppp cuppp sayang jangan menangis," bujuk Tio.
"Huaaaa sendok Aurel," tangis Aurel semakin kencang.
"Waduh bagaimana ini?" Tio di buat binggung, dia menggaruk-garuk kepalanya pusing.
"Nanti om belikan yang baru jadi Aurel diam ya," punya Tio.
"Beneran ya om," Aurel mengaitkan jari kelingking nya kepada Tio agar tak ingkar janji.
"Iya,"
"Beli sendok sama boneka ya om," pinta Aurel yang sudah berhenti menangis.
"Hmm...." Jawab Tio malas.
B E R S A M B U N G....