Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 118


Di dalam ruangan VIP Tio terbaring di atas ranjang, tak ada pergerakan dari pemuda tampan itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu mendesah kecewa menatap Tio yang tak kunjung sadar.


Rio pun sedari tadi memegang tangan sang kembaran dengan penuh tanya, sungguh dia tak sabar melihat Tio membuka matanya.


"Tio bangun, aku kangen ngobrol bareng sama kamu, main futsal bareng. Apa kamu tidak lelah ya tidur terus?" lirihnya dengan suara kecil menatap sendu wajah kembarannya yang masih pucat itu.


Tak terasa air mata mengalir di pipi Rio tanpa di sadari oleh nya, dia tak sanggup kehilangan saudaranya itu meskipun dia jarang bertemu dengan kembarannya itu karena Rio lebih banyak menghabiskan untuk mengurus toko dan bertemu dengan kekasihnya.


"Eeemmhhhh...." Tio mengeluh, tangannya bergerak menutup matanya karena cahaya lampu sedikit membuat pengelihatan nya buram.


Rio awalnya kaget saat melihat ada pergerakan, dengan cepat Rio mendongak menatap ke arah Tio, bibirnya tersenyum hatinya begitu senang melihat Tio sudah sadar.


Mendengar Tio bersuara dan bergerak sontak Bimo, Doni dan Abraham yang berada di sofa menatap ke arah ranjang.


"Alhamdulillah," Bimo memekik senang. Dia langsung berlari menghampiri Tio.


"Di mana aku?" tanya Tio sambil mengucek matanya mastikan dirinya berada saat ini.


"Di rumah sakit," jawab Rio.


"Akhirnya kamu sadar juga, bagaimana apa ada yang sakit? Tanya Abraham.


Tio berusaha bangun, dia masih belum menjawab pertanyaan kakak iparnya itu. Tio merasakan sakit di dadanya membuat pergerakan dia terhenti.


"Kamu jangan bangun dulu," Rio melarang saudaranya itu bangun.


"Akhirnya kamu sadar juga, kita semua di sini khawatir," kata Bimo saat sudah berada di dekat ranjang Tio.


"Bimo panggilkan dokter ke sini?" Perintah Abraham saat tahu Tio mengeluh sakit.


Bimo memencet tombol yang tersedia di sana, tak lama muncullah dokter dan perawat.


Tap tap tap tap tap...


Dokter langsung masuk, dia dengan cepat berjalan menuju ke arah Tio.


"Alhamdulillah anda sudah sadar, apa ada keluhan? Sakit atau apa?" tanya dokter saat memeriksa tubuh Tio tak lupa mengecek bekas jahitan yang ada di dadanya.


"Cuma ini saja dok, yang masih sakit," lirih Tio memegang luka bekas jahitan.


"Dokter bagaimana kondisi adik saya?" Tanya Abraham yang di landa kecemasan.


"Alhamdulillah secara keseluruhan kondisi pasien sudah baik, tinggal menunggu masa pemulihan. Kami bersyukur tidak ada masalah fatal lainnya karena jarak luka tembakan dan jantung cukup dekat namun ini adalah keajaiban buat pasien. Kalau ada keluhan segera beritahu dokter," jawab dokter.


Perawat juga memeriksa tensi dan lainnya, hasilnya bagus sesuai dengan ucapan dokter itu.


"Tinggal tunggu pemulihan saja dari pasien dan tolong jangan berisik biar tidak menganggu pasien beristirahat, kalau ada apa-apa silahkan kalian hubungi saya, permisi," kata dokter sambil tersenyum ramah.


Setelah itu dokter dan suster itu pergi meninggalkan ruangan Tio.


Sedangkan Hendra saat melihat Tio sadar dia bernafas lega, setelah itu pamit kepada Abraham karena kasihan sang istri yang tengah hamil muda sendirian di rumah.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks akhirnya kamu sadar juga, aku gak bisa bayangin kalau kamu pergi meninggalkan aku dan bunda," Isak tangis Rio karena melihat kondisi kembarannya, tak lupa memeluk Tio yang masih terbaring lemah dengan penuh kelegaan.


"Ck jangan sedih, aku tidak suka punya saudara cengeng. Lagian luka ini kecil," jawab Tio enteng seolah ini hal kecil bagi laki-laki.


Plukk...


Abraham memukul pelan pipi Tio dengan kesal.


"Kecil.... Kecil kamu bilang! Kalau ada apa-apa dengan kamu, apa yang harus ku bilang sama kakak mu hah. Pokoknya kalau ada masalah apapun kalian harus bilang kepada ku," bentak Abraham kesal karena keteledoran anak buahnya membuat nyawa adik iparnya melayang.


"Iya tidak apa-apa yang penting kamu sekarang baik-baik saja," kata Bimo mengacak rambut Tio.


"Abang berhutang nyawa kepada mu, jadi kalau butuh bantuan apa-apa silahkan minta Abang," kata Bimo tersenyum ke arah Tio.


"Ish Abang apaan sih, itu kan karena refleks aja aku tidak mau bang Bimo kenapa-kenapa," jawab Tio yang tak ingin Bimo merasa berhutang budi kepadanya.


"Kalau bang Bimo kenapa-kenapa, kasian dokter Esta nanti sama siapa?" Ledek Tio membuat semua orang di sana mengelengkan kepalanya melihat kejahilan Tio.


Ya Bimo berkata sungguh-sungguh berjanji dalam hati, dia akan melindungi Tio dan menganggapnya seperti adiknya sendiri.


Terdengar bunyi suara seperti lagu dangdut yang saat ini sedang populer di gandrungi saat ini.


"Eh ponsel siapa yang berbunyi?" Kata Rio saat dering ponsel berbunyi nyaring.


"Dih mana ada bunyi ponselku begitu," elak Doni.


Doni, Abraham dan Rio menatap ke arah Bimo sedangkan si pemilik ponsel hanya diam.


"Hei kenapa kalian melihat ke arahku," sungut Bimo seakan jadi tersangka pemilik ponsel itu.


"Benar-benar ya kalian semua, mentang-mentang bunyinya dari saku celanaku kalian menuduhku," sinis Bimo ke arah mereka semua.


"Nih ponselmu," kata Bimo menyerahkan ponsel milik Tio.


Semua menatap ke arah Tio membuat Tio menjadi tak enak sendiri.


"Perasaan tadi gak ada suara nya deh," guman Doni masih di dengar oleh yang lain.


"Ya aku nyalain tadi setengah jam yang lalu," jawab Bimo enteng.


"He he he he he makasih ya bang," kata Tio cengengesan.


"Ya sudah kalian jangan berisik, aku mau pulang dulu takutnya Arin sedang mencari ku," kata Abraham berpamitan kepada si kembar dan kedua bodyguard nya itu.


"Jaga Tio dengan baik kalau tidak ku potong gaji kalian," ancam Abraham ke arah Bimo dan Doni.


Glekkk...


"He he he he siap tuan," jawab Doni cengengesan.


"Baik tuan," Bimo mengangguk patuh.


"Tio, Rio, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku," pamit Abraham kepada kedua saudara iparnya itu.


Abraham pun meninggalkan ruang rawat inap milik Tio.


Tio mengerutkan keningnya saat membaca pesan beruntun yang di kirimkan oleh Amanda.


"Siapa?" Tanya Rio penasaran karena melihat ekspresi dari saudaranya itu.


"Amanda," jawab Tio singkat.


"Kenapa tuh anak?" Tanya Rio heran.


"Entahlah," jawab Tio acuh tak ingin membuka pesan dari Amanda karena ada Rio di sana.


Tio sering cemburu saat kembarannya itu menanyakan tentang Amanda, karena dulu Amanda selalu bersama-sama dengan Rio padahal keduanya tidak ada hubungan apa-apa cuma sebatas sahabat.


B E R S A M B U N G....