
Tio pun melemparkan ciuman jauh untuk Amanda.
Amanda yang melihat itu pun melotot.
Tio justru terkekeh melihat Amanda yang begitu lucu, dia mengelengkan kepalanya saat Amanda justru mengejek nya dengan menjulurkan lidahnya.
Tio baru sadar ternyata wanita itu begitu mengemaskan di lihat, sungguh Tio benar-benar menyukai Amanda.
Amanda dulu begitu pendiam dan sering menunduk kala berhadapan dengan nya, sekarang Amanda terlihat berbeda apalagi dia tak canggung berbicara maupun meledek Tio, Tio baru mengetahui sifat asli Amanda.
"Dasar cowok aneh," kesal Amanda menoleh dan melihat Tio justru menertawakan diri nya saat ini.
"Jangan lari sayang nanti jatuh," teriak Tio menggoda Amanda.
"Cih...." Sinis Amanda dan terus berlari meninggalkan Tio, ingin cepat pergi karena dia takut akan tergoda oleh pria tampan itu.
"Huuu.... Untung tempat ini sepi jadi tak mendengar ucapan dia tadi," guman Amanda sambil mengelus dada karena merasa lega.
Untung keadaan di sana sepi jadi Amanda tak merasa malu karena tak akan ada yang mendengar teriakan Tio tadi.
"Bay bay sayang, hati-hati di jalan," Tio berteriak melambaikan tangan nya namun Amanda yang kesal tak merespon.
Trink.... Satu pesan masuk dari aplikasi, pesanan nya ternyata sudah menunggu di depan gerbang kampus.
Amanda tersenyum karena dia tak perlu menunggu lama lagi.
Amanda segera berlari menuju gerbang. Dia tersenyum saat mendapati mobil sudah menunggu di sana, dia pun menghampiri mobil itu.
"Dengan nona Amanda," tanya pria paru baya itu.
"Iya pak," jawab Amanda sopan.
Amanda tersenyum, dia langsung membuka pintu mobil itu.
"Sesuai yang di aplikasi ya non," jelas supir itu.
"Iya pak,"
Setelah itu mobil melaju meninggalkan kampus.
Sedangkan di kejauhan Tio begitu lega karena melihat Amanda tak di antar pulang siapa pun, entahlah dia tak rela melihat Amanda dekat dengan laki-laki manapun termasuk adiknya.
"Tunggulah Amanda, aku akan memperjuangkan hati mu lagi. Aku tak akan menyia-nyiakan mu seperti dulu. Ya dulu aku terlalu bodoh tak melihat ketulusan mu, sekarang aku menyesal kala kamu menjauh dariku," guman Tio.
****
Keesokan harinya.....
Arin sudah siap untuk pulang, dia sudah mengendong putranya yang masih terlelap. Sedangkan Abraham mengecek baju dan barang milik sang anak agar tak ada yang tertinggal. Dia tak ingin baju Arin di sentuh Bimo, Doni ataupun perawat.
Bunda Arin tengah sibuk di rumah menyiapkan semuanya, dia ingin menyambut kedatangan cucu, anak dan menantunya itu.
Aurel maupun Abrian pun ikut heboh, keduanya sedang menata kamar sang adik dengan berbagai mainan yang mereka beli.
"Aurel, adik kita tuh cowok masa di kasih bando pink begitu," protes Abrian.
"Ish kan ini lucu kalau di pakai adik Andra nanti," jawab Aurel berbinar membayangkan sang adik yang akan dia pakaikan bando maupun pita.
"Ck dasar keras kepala, masa cowok pakai bando," cibir Abrian.
"Tuh boneka perempuan juga jangan di taruh di sini, ini kamar cowok masa kamu gak ngerti-ngerti sih," sedari tadi Abrian terus protes yang di lakukan Aurel.
"Ishhhhh.... Kenapa sih kak Abrian cerewet banget, masa dari tadi Aurel salah terus," Aurel merajuk karena tidak pernah benar di depan sang kakak.
Keduanya berdebat masalah ini itu membuat bunda pusing memilih meninggalkan keduanya bersama sang pengasuh.
Bunda juga menyiapkan masakan kesukaan sang putri, serta buah maupun sayuran yang baik untuk melancarkan asi.
Dan benar saja, satu jam kemudian terdengar suara mobil dari depan pintu gerbang.
"Anak-anak sepertinya mama dan adik kalian pulang," seru bunda Arin menghentikan perdebatan kakak beradik itu.
"Hore mama pulang," teriak Aurel begitu girang karena mendengar mama dan adik nya akan pulang.
"Ayo kak kita ke depan kak, cepat Aurel gak sabar mau lihat adik Andra,"
Aurel berteriak karena begitu senang, dia tak sabar dengan cepat berlari menuju ruang tamu.
"Hati-hati awas jatuh," peringatan Abrian karena takut sang adik terjatuh.
Di depan rumah, mobil mewah itu pun berhenti tepat di teras depan.
Bunda, Aurel, Abrian menyambut mereka di dengan antusias. Pak nan dan para pelayan, satpam dan semua bodyguard pun ikut senang menyambut kehadiran mereka.
"Bunda tolong gendong Andra," pinta Abraham kala pertama kali membuka pintu mobil.
Bunda tersenyum mengendong sang cucu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Bimo dan Doni mengambil tas yang ada di dalam mobil dan memasukkan nya ke dalam rumah.
"Sayang hati-hati," Abraham mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri turun.
"Awas kepalanya," Abraham melindungi kepala Arin dengan tangannya agar tak terbentur saat turun. Sungguh Abraham begitu memanjakan sang istri.
Mereka pun duduk di ruang keluarga, bunda tak henti-hentinya mencium gemas sang cucu. Aurel pun tak kalah antusias, dia sudah beberapa kali menoel pipi sang adik berbeda dengan Abrian yang terlihat cool namun sesekali mencuri pandang ke arah sang adik.
Tak berselang lama duduk, ternyata ada tamu yang datang mengunjungi mereka. Ya siapa lagi kalau bukan Hendra dan istrinya.
Hendra sudah menikah, namun Arin tak bisa hadir karena kondisi perutnya yang sudah besar dan sudah memasuki bulan kelahiran kala waktu itu.
Tap tap tap tap tap...
"Eh ada pengganti baru," ceplos bunda membuat Hendra dan sang istri merona malu.
"Maaf tuan, kami baru datang," lirih Hendra tak enak hati.
"Iya tidak apa-apa,"
"Kapan kalian pulang dari bulan madu?" Tanya Arin tersenyum.
"Baru kemarin nyonya, maaf saya baru bisa datang menjenguk," kata istri Hendra dengan sopan.
"Iya kami semua mengerti kok dan paham," jawab Arin mengedipkan mata nya.
Abraham mengeleng melihat tingkah jahil sang istri yang membuat pasangan pengantin baru itu sedikit malu.
Arin pun meminta pak nan menyajikan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Sayang, aku mau ke ruang kerja dulu ada sedikit pekerjaan yang harus ku bahas dengan Hendra," pamit Abraham tak lupa mengecup kening sang istri.
"Iya,"
Abraham mengajak Hendra ke ruang kerja, sedangkan istri Hendra pun mengobrol dengan Arin dan mengendong baby Andra.
Diruang kerja....
"Kenapa tuan meminta saya ke sini?" tanya Hendra karena setahu dirinya tidak ada pekerjaan yang harus di bahas. Meskipun dia cuti namun semuanya dia pantau melalui laptop miliknya.
"Tolong kamu suruh anak buah mu menyelidiki perempuan ini," pinta Abraham menyodorkan selembar foto wanita cantik.
Hendra mengerutkan keningnya, dia binggung pasalnya dia nampak tak asing dengan foto wanita itu namun dia juga tak ingat.
"Siapa dia tuan?" tanya Hendra.
"Ck.... Perhatikan mata nya pasti kamu akan ingat siapa dia," perintah Abraham.
Hendra pun menurut, dia memperhatikan dengan jeli foto itu.
Deg...
Hendra mengeleng.
"Tidak mungkin dia masih hidup," lirih Hendra.
"Di-mana anda menemukan nya?" tanya Hendra yang masih syok kehadiran wanita itu.
"Tanpa sengaja anak buah ku berpapasan dengan dia di pusat perbelanjaan," Tangan Abraham terkepal kuat.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha.... Dia mengelabui ku selama ini, sungguh naif diriku selama ini bersedih karena nya. Cih ternyata dia berpura-pura meninggal selama ini," lirih Abraham.
B E R S A M B U N G....
Nah loh siapa lagi?