Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 128


Sedangkan di lain tempat....


Abraham dengan tergesa-gesa berjalan menyusuri gan perumahan kecil, karena tak bisa di lalui mobil, Abraham pun terpaksa berjalan mengikuti langkah Danu sedangkan mang Udin dia harus menunggu di ujung jalan besar tadi.


"Apakah sudah dekat?" Tanya Abraham yang terlihat beberapa kaki mengelap kringat di wajahnya menggunakan sapu tangan.


Terpaan sinar matahari membuat dia tak sanggup menahan panas membuat bulir-bulir keringat mengalir.


"Tinggal satu gang lagi tuan," jawab Danu menunduk sedikit takut, apalagi melihat tuannya yang sudah letih.


Beberapa orang yang berlalu lalang memandang ke arah keduanya, pakaian Abraham terlihat mencolok di antara warga sekitar, sesaat orang yang melihat mereka berdua lewat pasti sudah bisa menebak kalau keduanya bukan orang sembarangan.


Abraham masih menggunakan jas lengkap, dia lupa melepasnya tadi di mobil. Sedangkan Danu memakai pakaian bodyguard.


"Ini tuan minumnya?" Danu menawarkan minuman saat melihat tuannya kepanasan.


Abraham pun menerima minuman itu, setelah itu dia melanjutkan lagi perjalanan mereka.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya sampailah keduanya.


"Ah itu tuan sudah kelihatan rumahnya," tunjuk Danu ke arah rumah sederhana bercat warna hijau.


"Apa benar ini tempatnya, kita tidak salah kan?" Tanya Abraham menatap tak percaya penampakan rumah di depan nya itu.


Rumah itu terlihat kecil, bahkan tidak ada halaman rumahnya, teras pun kecil. Melihat itu hati Abraham begitu miris.


"Mari tuan," ajak Danu.


Tok tok tok tok tok tok...


Berkali-kali pintu di ketuk namun tak ada sahutan dari pemilik rumah.


Tok tok tok tok tok...


"Orang nya ada di dalam pak, Bu Riska dan pak Gilang mereka pasti di belakang. Maklum mereka sudah tua dan pendengaran mereka sedikit terganggu," saut salah satu tetangga samping rumah.


"Silahkan bapak duduk di sana, saya mau panggilkan Bu Riska dulu," kata tetangga itu dengan sopan.


Sedangkan Abraham dan Dani mengangguk. Keduanya pun duduk di kursi plastik nampak usang itu.


'Apa kehidupan mama begitu miris, kenapa dia tega meninggalkan papa untuk hidup menderita begini,' lirih Abraham di dalam hati dengan bergetar.


Tak berselang lama muncullah sosok wanita tua yang masih cantik di usia nya.


"Silahkan masuk," ajak Bu Riska kepada keduanya tanpa melihat ke arah Abraham karena posisi Abraham duduk tertutup oleh Danu.


Keduanya pun masuk, Abraham tak henti-hentinya memindai semua barang atau pajangan yang ada di sini.


Lagi-lagi hatinya teriris, sang mama harus hidup menderita.


"Maaf dengan siapa dan ada perlu apa anda kemari?" Tanya lelaki tua yang sudah duduk di sana.


Pak Gilang bertanya dengan sopan kepada kedua lelaki di depan nya, melihat dari penampilan nya dapat pak Gilang tahu kalau mereka pasti punya urusan penting.


"Emm..." Danu saking melirik ke arah Abraham.


"Sebenarnya saya mengantarkan tuan Abraham ke sini untuk bertemu dengan Bu Riska," jelas Danu menjelaskan kepada pak Gilang.


"Abraham," bu Riska menyebut nama itu dengan bergetar.


"Apa ibu kenal?" Pertanyaan itu seolah di tunggu-tunggu jawabannya oleh Abraham dari mulut Bu Riska.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks," tangis itu keluar dari mulut Bu Riska.


"Tuan apa perlu saya keluar?" Tanya Danu tak ingin terlibat urusan mereka.


Abraham mengangguk, dengan cepat Danu pun menunggu di luar.


"Kamu Abraham?" Tanya keduanya.


"Apa Bu Riska mengenal saya," pertanyaan itu seolah jebakan yang keluar dari mulut Abraham.


"Hiks hiks hiks, maaf nak mama telah meninggalkannya mu dulu," kata Bu Riska sesenggukan.


"Jadi kamu itu Abraham," tanya pak Gilang seakan kaget.


"Kenapa mama tega memalsukan kematian mama?" Kilatan amarah terlihat di wajah Abraham.


Ingin rasanya Abraham menghancurkan barang yang ada di depannya, tangannya terkepal erat menahan emosi, urat-urat di leher menonjol seolah mengatakan kemarahan di dalam diri Abraham.


Bu Riska dan pak Gilang saling berpandangan.


Brakk.... Tangan kokoh itu mengebrak meja di depannya dengan kuat.


"Katakan...." Bentak Abraham.


"Aku yang mengajak dia pergi, untuk apa mengurusi anak yang bukan anak kandungnya," jawab pak Gilang.


Deg...


Tubuh Abraham merosot ke sofa.


'Bukan anak kandungnya,'


'Jadi dia bukan ibu ku,'


Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Abraham.


"Apa maksud anda?" Abraham meminta penjelasan.


Bu Riska pun mengingat semua kenangan yang sudah lama dia kubur, pengorbanan yang harus dia lakukan sampai harus menghilang demi bersatu dengan orang yang dia cintai.


"Sebenarnya kamu bukan anak kandung ku, kamu anak dari kakak ku yang tiada saat melahirkan mu. Aku di paksa menikah dengan Erlangga kakak ipar ku sendiri, melupakan cinta ku dengan Gilang saat itu dan harus mengurus mu bertahun-tahun, sampai kejadian naas itu terjadi. Aku memang mengalami kecelakaan pesawat namun nasib baik berpihak kepada ku, aku masih selamat dan di temukan warga setempat jauh dari lokasi. Aku memilih pergi mencari Gilang dan menikah dengan nya," kata Bu Riska menerawang jauh ke beberapa tahun silam.


"Kenapa kamu tak kembali?" Tanya Abraham.


"Kenapa aku kembali, toh di sana tidak ada lagi yang ku takuti. Aku bisa bebas pergi tanpa beban," jawab Bu Riska enteng.


"Ha ha ha ha ha ha," Abraham tertawa miris, dia adalah beban bagi mama nya, oh bukan tetapi tantenya sendiri.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu bukan ibu kandung ku saat aku telah lulus sma?" Tanya Abraham.


"Aku ingin memberitahu mu berkali-kali namun Erlangga tidak memperbolehkan ku, apalagi Ayah dan ibuku memaksa ku menjadi ibu sambung mu dan tak boleh memberitahu mu sampai kapan pun," jawab Bu Riska.


"Aku bersyukur bisa bebas dari orang kejam seperti Erlangga," sinis Bu Riska.


Dulu kehidupan keluarga Abraham masih sederhana, keluarganya mempunyai bisnis kecil di bidang otomotif. Apalagi sebelum kepergian pak Erlangga usaha itu memang hampir gulung tikar dan Bu Riska pun tahu.


"Katakan di mana makam ibu ku?" Tanya Abraham dengan sorot mata tajam.


"Apakah pak nan tahu semuanya," tanya Abraham, mungkin dia bisa bertanya dengan pak nan.


"Tak ada yang tahu kecuali aku, Erlangga, dan kedua orang tua ku," jawab Bu Riska karena Erlangga berasal dari panti asuhan.


"Kamu bisa ke kota B, disana pergilah ke alamat ini," tangan tua renta itu menulis di sebuah kertas dan di berikan kepada Abraham.


Abraham tak ingin bertanya apapun lagi tentang kehidupan bu Riska. Yang ingin dia tahu cuma makam sang mama yang tak pernah dia ketahui.


Setelah itu Abraham keluar dari rumah itu tanpa pamit, hari ini dia tahu kenyataan yang selama ini tersimpan rapi.


Abraham memasukkan kertas kecil itu ke dalam saku jas nya.


"Tuan kita ke mana?" Tanya Danu saat keduanya sudah berada di mobil.


"Aku ingin pulang," lirih Abraham dia merasa lelah. Dia ingin pulang dan memeluk sang istri agar dia merasa kuat.


B E R S A M B U N G....