Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 40


Tio pun menceritakan semua nya dia tahu kepada Arin tanpa terlewat satu pun, bagaimana sikap si kembar saat bertemu dengan Abraham untuk pertama kalinya dan pembicaraan apa saja yang mereka bicarakan di dalam mobil tadi pagi.


"Kak mungkin karena selama ini setiap kali si kembar menanyakan tentang Papa nya, kita selalu bilang kalau papa mereka sedang bekerja mencari uang yang banyak untuk membangun istana untuk mereka, jadi si kembar bisa menerima Abraham," kata Tio mengingat pertama kali si kembar bertemu dengan Abraham dan langsung menerima kehadiran pria itu.


"Ketika si kembar bertanya kenapa dia baru datang, Tuan Abraham hanya bilang kalau dia sedang bekerja untuk membelikan mainan yang banyak untuk si kembar dan membuatkan istana, keduanya pun langsung percaya tak bertanya apapun. Mungkin mereka merindukan sosok Papa selama ini," terang Tio.


Arin pun berfikir, membenarkan semua ucapan adiknya selama ini, Arin tak berfikir ucapan bohong yang selalu dia katakan kepada ke dua anak nya pun menjadi kenyataan. Arin tak berfikir Abraham sekaya ini dan Arin juga tak mengira kalau orang itu mencarinya selama ini.


"Kakak juga awalnya kaget dengan semua ini Tio, kakak tak mengira dia menerima si kembar padahal dulu kakak berfikir dia akan mencari kakak dan menyuruh mengugurkan kandungan kak, kakak kira dia sudah bahagia bersama keluarganya dan kakak takut karena kejadian itu dia marah kepada kakak, pagi itu kakak memilih kabur karena kakak pikir dia itu pria beristri. Hiks hiks hiks hiks hiks......" Jelas Arin mengutarakan semua uneg-uneg yang dia pendam selama ini sendirian.


Tio pun memeluk sang kakak, Tio pun mengerti kenapa kakaknya memilih diam.


"Maaf kak, Tio tidak bisa menjaga kakak dengan baik," lirih Tio.


"Sudah jangan sedih, semua telah berlalu," hibur Arin mengelus punggung sang adik.


"Mmmmm..... Kak," Tio ingin berbicara tetapi dia ragu-ragu.


"Kamu ingin bicara apa? Kata kan saja," kata Arin menatap sang adik.


"Sebenarnya..... Kemarin tuan Abraham datang ke rumah dan berbicara dengan bunda....." Belum selesai Tio berbicara, karena kaget Arin memotong ucapan sang adik.


"Ha..... Dia datang kerumah menemui bunda? Dia mau apa? Cepat katakan, kamu jangan buat kakak penasaran," Arin belum percaya Abraham datang bertemu dengan sang bunda.


"Kebiasaan kakak, belum selesai berbicara selalu di potong," grutu Tio kesal.


"He he he he he maaf..... Ayo cepat katakan," pinta Arin.


"Dia datang ke rumah dan bilang kalau dia akan menikah dengan kak Arin dan dia juga bilang kalau kita semua harus datang, akan ada orang suruhan dia menjemput kita semua," jelas Tio membuat Arin membelalakkan matanya.


"Padahal kakak belum bilang iya, kenapa dia memutuskan sepihak," sewot Arin.


"Terus bagaimana sekarang, apa yang kakak akan lakukan. Menikah dengan tuan Abraham atau kakak memilih kak William?" Dengan hati-hati mengutarakan apa yang ada di pikirannya sedari tadi.


Deg.... Deg...


Ya William, Arin sempat melupakan sosok William. Arin mendesah berat, dia bimbang.... Dulu Arin meminta waktu untuk menerima ajakan William menikah, sekarang semuanya begitu membingungkan untuk dirinya.


"Entahlah, kakak bimbang antara menerima laki-laki itu sebagai suami dan Papa untuk si kembar atau memilih kak William yang selama ini ada untukku dan si kembar," lirih Arin.


"Kakak pikirkan baik-baik, apapun pilihan Kak Arin pasti Tio akan dukung," kata Tio menyemangati sang kakak.


Sedangkan di ruang kerjanya...


Abraham sedari tadi menyimak obrolan keduanya, bukan hal sulit untuk dia karena seluruh ruang di rumahnya di lengkapi dengan cctv terlebih lagi obrolan keduanya tanpa ada satu pun yang terlewat.


Abraham mendesah berat, pikirannya tertuju kepada omongan Arin yang terakhir tadi.


Ya Arin yang berada dalam kebimbangan untuk menerima dirinya karena sosok William.


Tut ...... Tut....


"Halo tuan ...." Jawab orang di sebrang sana.


"Hm.... "


"Kamu buat usaha William yang ada di negara B kacau, buat perusahaan itu diambang kebangkrutan, kalian buat dia sibuk di sana selama 2 bulan," titah Abraham kepada seseorang.


Kening orang yang di sebrang mengkerut, pasalnya dia tahu kalau William adalah temannya. Yang membuat orang itu penasaran adalah kenapa tuan nya itu menyuruh melakukan itu. Tetapi dia menepis semua pikirannya, karena itu bukan urusannya.


"Siap tuan, apa tidak ada perintah lagi buat kami?" Tanya nya memastikan.


"Tidak, itu saja. Ingat buat dia sibuk sampai acara pernikahanku selesai. Jangan sampai dia kembali atau kalian yang akan menanggung akibatnya," ancam Abraham.


"Baik tuan," jawabnya dengan nada sedikit ketakutan.


Orang itu pun paham alasan dia beri tugas seperti itu.


Tut.... Panggilan itu pun terputus.


"Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku," guman Abraham.


Ya apapun akan Abraham lakukan untuk memenuhi keinginannya, Abraham tak ingin kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan harus hilang.


Abraham memandang ke arah layar satunya, di sana terlihat ke dua anak nya bermain dengan gembira, Abrian yang sibuk bermain prosotan dan menaiki mobil-mobilan sedangkan Aurel bermain boneka bersama dengan pengasuhnya.


Inilah yang Abraham inginkan selama ini, dia ingin memiliki anak tetapi selama ini tidak ada wanita yang tulus mencintainya, semua nya hanya menginginkan harta yang di miliki olehnya.


"Setelah bertahun-tahun aku mencari mu sampai putus asa dan setelah itu kamu sendiri mengantarkan dirimu ke hadapan ku, kamu ingin pergi begitu saja, tidak.... Tidak... Jangan mimpi untuk bisa pergi setelah kamu masuk ke dalam hidupku,"


Abraham pun beranjak dari meja kerja nya, dia melepaskan jas yang masih membalut tubuhnya. Abraham menyingsingkan lengan kemejanya setelah itu dia berjalan menuju tempat si kembar.


Tap tap tap tap tap tap tap....


Dengan langkah tegas, Abraham menuju ruang bermain.


Ha ha ha ha ha ha ha ha.... Tawa si kembar saling bersautan. Tawa itu seolah memecah kesunyian yang selama ini menyelimuti rumah mewah itu.


Sudut bibir Abraham tertarik ke atas saat melihat ke dua bocah itu berlarian saling kejar-kejaran.


"Sayang....." Kedua bocah itu menoleh, jangan lupakan senyum mengembang menghiasi wajah ke dua bocah kecil itu.


Abraham memberi kode supaya mbak Tina pergi meninggalkan tempat ini.


"Papa....." Aurel berteriak, dia langsung berlari menuju Abraham untuk di gendong.


"Duh anak Papa berat nya," kata Abraham mengendong Aurel.


Sedangkan Abrian memeluk kaki Abraham.


"Abrian juga mau di gendong seperti Aurel," rengek Abrian.


Abraham pun mengendong ke dua anaknya, tawa canda muncul dari ketiganya.


Abrian yang biasanya cuek, terlihat begitu manja membuat Arin yang melihat dari kejauhan terharu.


Ya Arin ke atas ingin menghampiri sang anak tetapi dia tak sengaja melihat pemandangan mengharukan itu.


Arin menyeka sudut matanya yang berair.


"Maafkan mama, selama ini memisahkan kalian," lirih Arin.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G......


Kangen ya, 🤣 maaf ya belum bisa crazy up🤯