
Tak terasa hari semakin siang, Amanda baru ingat kalau dia harus membelikan kue untuk sang bunda. Tadi pagi sebelum berangkat, sang bunda memesan kue nanas kesukaannya kepada Amanda, sang bunda sering membeli di toko roti langganan nya meskipun jarak dari rumah lumayan jauh, sang bunda juga sudah berpesan kepada Amanda tidak boleh pulang sore karena malam hari ada tamu penting. Jadi Amanda harus membantu sang bunda mempersiapkan diri.
Entahlah tamu siapa? Amanda juga binggung karena sang bunda begitu antusias, sedari pagi dia sudah pergi berbelanja berbagai macam sayuran dan daging.
"Tio aku harus pulang, sudah siang takutnya di cariin," kata Amanda berdiri, dia hendak mendekat ke arah Tio untuk berpamitan.
"Kenapa harus pulang, baru juga jam 1. Nanti sore saja ya," tawar Tio tak ingin Amanda pergi dengan cepat.
"Tadi bunda pesan kalau ada tamu jadi aku harus pulang cepat," jelas Amanda kepada Tio agar dia bisa di ijinkan pulang dengan cepat.
"Ck, nanti kalau aku kangen bagaimana?" Tanya Tio dengan nada manja membuat Amanda merona malu di buatnya.
Amanda pun kembali duduk, dia mengetikkan pesan kepada sang mama meminta waktu 30 menit lagi agar sampai di rumah untung saja jarak rumah dengan ruah sakit ini dekat tidak memakan waktu berjam-jam di jalan.
Entahlah Amanda tak ingin pergi dari sani, dia ingin lebih lama lagi menatap wajah tampan Tio saat ini, apalagi mulut Tio yang biasanya judes kini begitu manis seperti madu yang begitu lezat, membuat Amanda betah berlama-lama di sini untuk menjaga Tio.
"Kemana Tio yang biasanya cuek, dingin dan datar serta judes itu pergi," ejek Amanda kepada Tio.
"Ha ha ha ha ha ha ha...."
Perkataan Amanda itu justru membuat Tio terkekeh, apalagi kata sang kekasih itu terdengar lucu.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, tertawa saja terus, gak ada yang lucu," cebik Amanda kesal menirukan tertawa Tio.
"Cuma sama kamu doang honey," jawab Tio dengan manis.
Hari ini Tio bagai lebah yang menebarkan madu begitu manis untuk sang kekasih.
Lagi-lagi kata honey yang terucap dari mulut Tio membuat Amanda melayang di buatnya, sungguh Amanda tak pernah menyangka Tio akan memanggilnya seperti itu.
"Honey,,, honey! Kapan aku jadi pacar kamu," sinis Amanda berkata demikian untuk menggoda Tio.
"Ck apa kamu lupa, aku pernah mengatakan kalau kamu pacarku," sungut Tio.
"Kapan?" Amanda berpura-pura berfikir.
"Ck kalau kamu lupa, sini aku ingatkan pakai bibirku," kata Tio menyuruh Amanda mendekat.
"Tidak mau," Amanda justru menjauh karena takut.
"Sudah ... Ayo cepat ke sini," Tio melambaikan tangan meminta Amanda mendekat ke arahnya.
"No no no..." Tolak Amanda.
"Besok ku buat pengumuman di kampus dan di sini kalau kamu adalah kekasihku," kata Tio begitu enteng.
Mendengar ucapan Tio yang semakin ngelantur membuat Amanda membulatkan matanya, bisa-bisanya Tio berfikir demikian.
'Apa dia mau buat pengumuman, atau selebaran, atau poster,' batin Amanda tak percaya dengan yang di lakukan Tio.
"Aku tidak akan buat selebaran, poster atau pengumuman seperti di pikiran mu. Kamu lihat saja nanti," kata Tio penuh dengan teka-teki bagi Amanda.
'Ha apa dia bisa baca pikiran ku ya,' batin Amanda bertanya-tanya.
Amanda melotot mendengar perkataan Tio, tiba-tiba Amanda bergidik ngeri membayangkan btio mampu mendengar ucapannya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," tawa Tio menjengkelkan itu muncul lagi.
"Aku tidak bisa baca isi hati orang honey," kata Tio memberi penjelasan saat melihat Amanda sedikit ketakutan.
"Terus kamu tahu dari mana?" Tanya Amanda penasaran.
"Itu tertulis di kening mu," jawab usil Tio.
Dengan lugu nya Amanda berkali-kali mengusap keningnya karena takut benar ucapan Tio.
"Ish mama, gak ada," Amanda berkali-kali mengusap keningnya, dia begitu takut.
Trink.... Satu pesan masuk dari ponsel Amanda.
"Sayang kapan kamu pulang?" Tanya bunda begitu khawatir dengan putri semata wayangnya.
"Eh aku sampai lupa mau pulang, kamu sih godain aku terus," sungut Amanda kesal melirik jam di dinding ruangan itu.
Amanda berlari menuju pintu tak lupa melambaikan tangan nya ke arah Tio.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam wr wb," jawab Tio.
"Belajar dari mana dia kata-kata itu, sampai membuatku deg degan," gimana Tio tersenyum manis menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
Sedangkan di kediaman Abraham.....
Arin langsung masuk berjalan menuju kamar untuk mencari baby Andra, Rio pun menuju dapur untuk mengambil minuman.
"Lho bunda lagi buat apa?" Tanya Rio membuat bunda berjingkat kaget di buatnya.
"Kamu buat bunda kaget saja," bunda memukul pundak sang anak kesal.
"Lha siapa yang ngagetin, bunda saja yang asyik masak sampai gak lihat anaknya pulang," bibir Rio manyun seolah dia kecewa.
"Uluh uluh anak bunda ngambek ceritanya," goda bunda melihat wajah sang anak yang bibirnya sudah mengerucut beberapa senti.
"Bunda masak apa sih harum banget," Rio melihat ke arah wajah yang ada di atas kompor.
"Oh ini sup iga kesukaan Tio, entahlah kapan dia pulang bunda rindu padahal baru sehari tidak bertemu. Mungkin bunda terbiasa setiap hari lihat wajah tuh anak jadi sehari gak lihat sudah kangen," kata bunda dengan sendu.
Rio menunduk, dia merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran tentang Tio saat ini. Rio pun mengusap sudut matanya yang terasa berair setelah itu dia menatap sang bunda yang masih fokus mengaduk masakannya.
"Bunda pilih kasih, masa Tio baru sehari saja di cariin sedang aku berminggu-minggu tidak di cariin," Rajuk Rio kepada bunda mencoba mengurangi kesedihan sang bunda dengan mengalihkan perhatian nya.
Plukk....
Sekali lagi bunda memukul sang anak.
"Kamu sendiri yang bandel, suruh tinggal di sini saja tetapi kamu ngeyel mau di sana sendirian. Tiap hari juga bunda lihat wajah mu itu masih saja bilang bunda pilih kasih," sungut bunda kesal.
"He he he he he he, iya ya tiap hari bunda telepon aku. He he he he he.... Lupa Bun," jawab Rio nyengir.
"Kamu sudah makan?" Tanya bunda.
"Sudah tadi di rumah sa..." Dengan cepat Rio membekap mulutnya karena kelepasan berbicara.
"Rumah sa? Sa siapa?" Tanya bunda penasaran.
"Rumah sa-sa... Emmm rumah sandi bun," jawab Tio mencari alasan.
"Oh kirain rumah sari, janda kompleks sebelah," kata bunda membuat Rio melotot.
"Ish bunda, masa aku makan di rumah Mpok sari kan gak lucu," Tio membrengut kesal.
"Lha benar kan, Mpok sari kan jualan gado-gado," jawab bunda enteng.
"He he he he he..." Rio terkekeh dia baru ingat kalau Mpok sari itu jualan gado-gado.
"Hoaamm..." Rio menguap berkali-kali.
"Kamu ngantuk?" Tanya bunda.
"Iya Bun, tadi malam tidur gak nyenyak,"
"Kamu pasti abis bergadang main game?" Tanya bunda menatap horor.
'Gak mungkin ku bilang kalau aku tidak nyaman tidur di sofa rumah sakit,' batin Rio.
"Iya Bun," jawab Rio berbohong.
"Eh kamu gak kuliah?" Tanya bunda.
Rio mengeleng.
"Ya sudah kamu tidur sana," suruh bunda karena melihat wajah anaknya itu seperti kelelahan.
B E R S A M B U N G...