
Andi pun mengajak Veli untuk masuk ke dalam rumah.
"Sayang ini sebenarnya rumah peninggalan orang tua ku," jelas Andi karena sedari tadi melihat Veli yang masih diam memindai semua tempat.
"Terus kenapa kamu tinggal di kontrakan kecil?" Tanya Veli penasaran.
Andi pun merebahkan tubuhnya di sofa, dia membuka jas miliknya dan membuka 2 kancing kemejanya. Dia menghela nafas panjang sebelum mulai bercerita meskipun berat untuk nya mengingat semua kenangan pahit itu, namun dia harus jujur kepada Veli.
"Aku kesepian, tinggal di sini seorang diri membuatku selalu teringat kenangan bersama kedua orang tuaku," jelas Andi.
Veli pun terdiam mengusap lengan sang suami untuk menguatkan.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa kenal tuan Abraham, Hendra bahkan dokter Rian?" Kata Andi dan Veli pun mengangguk.
"Sebenarnya kedua orang tua ku meninggal saat aku masih sekolah SMA, keduanya meninggal karena kecelakaan pesawat dan di sanalah aku bertemu dengan tuan Abraham, mulai dari itu aku akrab dengan dia meskipun perbedaan umur kita. Aku ingat saat itu tuan Abraham baru saja meneruskan perusahaan peninggalan orang tua nya," jelas Andi.
Veli masih terdiam menyimak penjelasan sang suami tanpa menyela ucapan nya satu pun.
"Aku juga bukan penyanyi maupun pengamen, aku adalah pemilik cafe itu karena dulu orang tuaku mempunyai beberapa bisnis kafe, hotel maupun restauran," jelas Andi.
Veli menutup mulutnya merasa di bohongi.
Seakan mengerti isi hati sang istri, Andi pun mengengam tangan sang istri.
"Aku bukan bermaksud membohongi mu, aku memang punya hobi bernyanyi jadi aku sering ikut teman ku menyanyi di mana pun, aku takut kamu meninggalkan ku karena tahu aku mempunyai semuanya. Aku sempat mendengar kamu berbicara kepada kak Dewi waktu itu," kata Andi membuat Veli mendongak menatap wajah Andi.
"Pembicaraan apa?" Tanya Veli.
"Waktu itu aku tahu ada seorang manager pemasaran di kantor yang di ujung jalan yang melamarmu," kata Andi sedikit cemburu.
"Ha..." Veli kaget ternyata Andi mengetahui semuanya.
"Awalnya aku cemburu, aku berfikir kalau aku kalah terlebih lagi usia dia yang matang dan berkarisma berbeda dengan ku, terlebih lagi dia juga menawarkan kemewahan untuk mu, tetapi aku mendengar kamu bilang lebih memilih ku karena kamu ingin hidup sederhana tak ingin mengulang kisah lama yang tersesat dalam kenikmatan yang bisa membuat orang berubah. Dari situlah aku memilih menyembunyikan semuanya," jelas Andi.
"Terimakasih mau memilihku," kata Andi terus memeluk sang istri sayang.
"Apakah kamu mau tinggal di sini?" Pinta Andi memelas.
Veli pun mengangguk karena dia yakin di sini pasti penuh dengan kenangan Andi bersama kedua orang tuanya. Ah Veli jadi teringat orang tuanya, dia begitu menyesal.
"Terimakasih sayang, mulai hari ini mari kita bangun keluarga kecil kita di sini," pinta Andi mengengam tangan sang istri.
Mulai hari Veli resmi menjadi istri Andi, keduanya akan mewarnai hari-hari indah mereka dengan warnah yang cerah.
Veli berjanji kepada dirinya sendiri, dia akan berusaha untuk membuat suaminya bahagia, dia tak ingin mengulang masa pahit dulu saat berumah tangga dengan Jo.
Andi pun berjanji akan berusaha mencari Jo dan mempertemukan dirinya dan anaknya yang di bawa Jo.
Satu bulan pun berlalu setelah pernikahan Veli...
Kandungan Arin sudah memasuki usia 9 bulan membuat Abraham memilih bekerja di rumah.
Sedangkan Hendra yang di sibukkan bolak-balik dari kantor ke mansion untuk memberikan berkas penting.
Sedari pagi Arin bolak-balik ke kamar mandi, dia berkali-kali buang air kecil. Perutnya juga mules.
Deg ...
"Apa aku akan melahirkan?"
Arin pun mengingat dulu saat kelahiran si kembar, dia pun mengalami hal yang sama.
"Sayaaaang tolong...." Teriak Arin kencang, dia sudah tak tahan rasa mulas akibat kontraksi yang dialami nya.
Abraham yang mendengar itu pun langsung berlari menuju kamarnya karena jarak ruang kerjanya bersebelahan.
Abraham kaget melihat Arin yang sudah duduk di lantai memegang perutnya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya nya kaget melihat keadaan sang istri.
"Seperti nya aku mau melahirkan," teriak Arin membuat Abraham tegang.
"Ha melahirkan," Abraham di buat kaget dan binggung harus melakukan apa.
"Ssttt sayang sakit,"
"Aku harus apa," tanya Abraham yang tak tahu harus berbuat apa.
Bukannya membantu justru Abraham panik sendiri, dia mondar-mandir tak jelas semakin membuat sang istri pusing.
"Papah aku ke mobil," pinta Arin kesal melihat sang suami yang mondar-mandir tak jelas.
Abraham pun mengikuti perintah Arin, dengan cepat dia memapah Arin sampai ke mobil.
"Bik tolong ambil tas yang ada di depan lemari," pinta Arin kepada salah satu art nya.
"Iya nyonya," dia pun bergegas ke dalam kamar.
Ya Arin sudah menyiapkan semuanya.
"Kenapa dengan nyonya Arin tuan," tanya Bimo kaget melihat Arin kesakitan.
"Cepat bawa mobil ke sini, istriku mau melahirkan,"
Dengan sigap Bimo pun mengeluarkan mobil dari garasi.
"Sabar ya sayang," bujuk Abraham.
"Mama kenapa?" Tanya dua anak kembar itu.
"Adik bayi mau lahir sayang, jadi Aurel sama Abrian di rumah ya sama om Doni," kata Abraham.
"Doni , pak nan tolong jaga si kembar,"perintah Abraham.
Doni maupun pak nan mengangguk, semua cemas melihat Arin yang kesakitan.
"Ayo mas cepat," kata Arin mencengkeram erat tangan Abraham.
Abraham pun masuk ke dalam mobil, dia mengelus perut Arin karena melihat Arin meringis menahan kontraksi.
"Sabar ya sayang sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit, jangan buat mama sakit ya," Abraham membisikkan kata itu di perut Arin.
"Bimo cepat," teriak Abraham.
"Mas sakittttt...." Arin semakin kuat mencengkram tangan Abraham.
"CEPATTTT...." Abraham berteriak.
"Sayang tarik nafas keluarkan," perintah Abraham.
Arin pun menurut, dia mengikuti perkataan dari Abraham.
"Hu hu hu hu...." Arin mengatur nafasnya.
"Ssttt sakit,"
"Bimo cepat,"
Baik Abraham maupun Bimo begitu panik mendengar teriakan Arin yang kesakitan.
Bimo pun ikut panik, dia pun meminta pengawal mengawal semuanya. Bimo juga dengan sigap memberitahu kekasihnya dokter Esta kalau Arin mau melahirkan.
Ya Bimo sudah pendekatan dengan dokter Esta selama 2 bulan ini, dan dia sudah meminta kesempatan untuk menjadi kekasih nya.
Bimo memanfaatkan patah hati dokter Esta untuk mendekatinya, Bimo beruntung karena awalnya dokter Esta sempat menjauhinya namun tak pernah sekalipun dokter Esta memaki maupun mengatai dan menolak nya dengan kasar.
Bimo tersenyum membayangkan dia akan bertemu dengan pujaan hatinya.
"Cepat Bim, jangan senyum-senyum," bentak Abraham.
Mobil pun berbelok menuju ke rumah sakit.
B E R S A M B U N G.....