Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 117


Derap langkah terdengar menggema di lorong rumah sakit, Abraham berjalan cepat dengan langkah penuh wibawa menyusuri lorong melewati ruangan demi ruangan.


Beberapa orang yang lewat memandang segan, wajah dingin itu memperlihatkan aura kejam tak bersahabat. Siapapun tak berani menegur meskipun mengenal dirinya, tak ada yang berani menjilat karena mereka tahu sedang berhadapan dengan orang yang tidak biasa.


Dari kejauhan Abraham bisa melihat Bimo, Hendra, Doni , dokter Rian sedang duduk di depan ruangan operasi.


"Bagaimana?? Apa operasi nya sudah selesai," Abraham terlihat begitu khawatir bertanya kepada Bimo.


Bimo hanya menggeleng, dia tak bisa berkata apapun. Lidahnya terasa keluh hanya bisa menatap sendu pintu ruangan operasi itu.


"Aaaa..... Kalau terjadi apa-apa dengan Tio, aku harus bilang apa dengan Arin dan bunda," keluh Abraham mengusap wajahnya kasar.


"Tuan kita sebaiknya berdoa supaya Tio baik-baik saja," Hendra mengingatkan tuannya itu untuk tak berfikir macam-macam.


"Hei dokter mesum, cepat lihat kondisi adik iparku saat ini," bentak Abraham kesal karena dia melihat dokter Rian ikut duduk menunggu dengan cepat.


'Hei apa dia bilang? Aku dokter jantung bukan dokter mesum seperti yang dia bilang, huuu seeenaknya saja dia bilang begitu. Untung saja teman kalau tidak sudah ku suntik tuh muka mu biar tuh muka tidak menjengkelkan lagi,' sungut dokter Rian menahan kesal dalam hatinya.


"Sabar kita tunggu pasti sebentar lagi selesai," kata dokter Rian dengan bijak sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Dokter Rian sudah terbiasa menghadapi keluarga pasien yang bertindak seenaknya, dia sudah kebal bahkan ada yang lebih dari cuma sekedar itu.


Tap tap tap tap tap.... Langkah kaki begitu menggema di sepanjang lorong.


Mendengar langkah kaki orang seperti berlari menuju ke arah mereka. Semua orang menoleh menatap penasaran, ternyata Rio sedang berlari dengan tergesa-gesa kearah mereka.


"Di mana Tio?" Tanya Rio yang tak sabar ingin melihat keadaan saudaranya. Tanpa basa-basi Rio langsung bertanya karena sedari tadi hatinya tak tenang.


Semua diam tak ada yang berani bersuara, mereka semua menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat.


Rio menatap nanar melihat semua bungkam tak ada yang bersuara. Rio mengikuti pandangan mereka semua yang tengah menatap ke arah pintu ruang operasi.


Rio ikut menatap ke pintu itu dengan berjuta harapan untuk sang kembaran, Rio begitu berharap dia bisa dilihat Tio sembuh dan tertawa bersama.


'Semoga kamu baik-baik saja, aku tak bisa bayangkan jika sesuatu terjadi kepada mu,' batin Rio sedih.


Ting...


Lampu depan ruang operasi padam, menandakan bahwa operasi sudah selesai.


Dokter keluar memandang ke arah semuanya, dia sedikit kaget melihat Abraham ada di sana.


'Sebenarnya siapa yang ada di dalam? Kenapa ada tuan Abraham dan tadi juga dokter Rian menyuruh kita menyiapkan operasi secepatnya. Ah sudahlah aku tak perlu tahu karena ini bukan urusanku,' batin dokter itu.


Rio dengan cepat menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana keadaan saudara ku? Apakah dia baik-baik saja dokter?" Tio memberondong dokter muda itu dengan berbagai pertanyaan.


"Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan lancar, peluru tidak sampai terkena organ dalam yang sangat penting. Kalian bisa melihatnya nanti setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat. Saat ini kondisi pasien belum sadarkan diri, masih lemah dan butuh istirahat jadi tolong anda semua mengerti dan tidak menemuinya terlebih dahulu, jangan berisik atau menganggu pasien," jelas dokter panjang lebar meminta pengertian dari semua nya setelah itu dokter meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.


Semua yang mendengar itu pun ikut senang apalagi Bimo begitu lega terasa beban yang menghimpit sedari tadi hilang. Sungguh Bimo langsung memasang wajah antusias, diri nya sudah tak begitu sabar untuk bertemu dengan tio dan melihat kondisi nya saat ini.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa lega dan bahagia karena Tio akan baik-baik saja," kata Rio sedikit merasa lega.


Satu jam kemudian, Tio di dorong keluar dari ruangan operasi itu. Semua mengikuti di belakang.


Abraham merangkul pundak Rio, dia tahu adik iparnya itu begitu terpukul jadi Abraham berusaha memberikan semangat.


"Tio pasti baik-baik saja, dia orang yang kuat," lirih Abraham meskipun dia juga tak begitu yakin.


Sedangkan di tempat Arin.


"Lho bunda kenapa belum makan?" tanya Arin saat melihat sang bunda masih duduk di ruang tamu seperti memikirkan sesuatu.


"Entahlah nak, pikiran bunda hari ini tiba-tiba tidak enak seperti ada sesuatu yang membuat bunda khawatir," kata bunda menjelaskan kalau dia sedang risau.


"Sama pikiran Arin juga begitu Bun, apalagi tadi Rio menghubungi ku menanyakan keberadaan Tio," jawab Arin ikut mendudukkan bokongnya di sofa panjang itu.


"Di mana Tio? bunda juga belum melihatnya sedari tadi?" tanya bunda teringat anaknya itu biasanya jam segini sedang bercanda di kamar cucunya.


"Kata suamiku tadi, kalau Tio sedang bersama Bimo dan Doni. Entahlah Bun.... Aku juga tak tahu," jawab Arin apa adanya karena dia juga tak tahu pasti nya di mana adiknya berada saat ini.


"Bunda ayo kita makan, jangan banyak pikiran ingat kesehatan bunda dan di manapun Tio berada saat ini kita doakan saja semoga anak itu baik-baik saja," pinta Arin sambil berusaha membujuk Bundanya itu.


Arin tak ingin ibunya itu sakit karena hanya bunda satu-satunya yang dia miliki saat ini.


"Mama mana om Tio?" Aurel tiba-tiba muncul di hadapan mereka merengek mencari Tio.


Si kembar sedari kecil sudah begitu lengket dengan Tio.


"Om Tio tidak ada di rumah sayang, mungkin om Tio lagi ada urusan penting," kata Arin menjelaskan kepada anaknya itu.


"Emm .... Bisanya jam.segini om Tio bantuin Aurel buat pr," kata Aurel merajuk.


"Ya sudah nanti sama mama saja," bujuk Arin tidak ingin melihat wajah sedih anaknya.


"Horeeeee...." teriak Aurel senang setelah itu dia pergi meninggalkan ruang tamu.


"Kamu cepat kesana biar bunda yang temani baby Andra," punya bunda.


"Nanti saja, Arin ingin lihat bunda makan dulu," tolak Arin.


Bunda tersenyum melihat putri nya yang begitu perhatian dengan nya.


"Nak bunda nanti makan, kamu kesana saja mumpung baby Andra tidur," kata bunda membujuk putrinya itu.


Arin mengeleng sebagai tanda tidak setuju, dia takut bundanya itu tidak makan namun menunggu baby Andra.


"Tidak," tolak Arin.


Setelah itu Arin menarik lembut tangan bundanya menuju meja makan, Arin tak lupa mengambil kan lauk. beserta nasi untuk sang bunda.


B E R S A M B U N G...