Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 87


Aurel dan Abrian tiba-tiba muncul dari belakang Abraham membuatnya terkejut.


"Pa tadi siapa yang nangis?" Tanya Aurel, wajah mungil itu memindai orang yang berada di sana satu persatu.


Tatapan Aurel terhenti saat mata polos itu melihat sang mama yang sedang menikmati buah di celupkan ke sesuatu yang seperti coklat. Arin cuek fokus kepada makanan di depan nya.


"Ma minta coklatnya dikit dong," pinta Aurel.


Abraham mengerutkan keningnya, sedangkan Abrian cuek memilih fokus kepada ponselnya. Abrian memilih fokus kepada permainan game yang ada di ponselnya.


"Mama tidak bawa coklat sayang," jawab Abraham.


Sedangkan Arin masih terdiam, dia mencari coklat di sekitarnya namun nihil tak menemukan sesuatu.


"Iya sayang, benar kata Papa kalau mama tidak bawa coklat," jelas Arin membuat Aurel tak percaya.


"Mama jangan bohong, itu yang buah yang mama makan tadi kan di celupkan ke coklat itu," kata Aurel menunjuk ke arah mangkuk kecil berisi bumbu rujak.


"Bukan sayang, ini bumbu rujak," jelas Arin.


Sedangkan Abraham geleng-geleng kepala mendengar ucapan polos sang putri.


Sedangkan Abrian menatap Aurel jengah, pasalnya sang adik itu suka makan tetapi tidak pernah memperhatikan nama makanan yang penting enak.


"Oh..." Aurel manggut-manggut.


"Aku boleh minta ma, pasti enak karena ku lihat mama makan dengan lahap sampai papa tidak di kasih," pinta Aurel dengan berbinar.


"Jangan sayang," tolak Abraham karena tak ingin anaknya memakan makanan pedas.


"Ish papa, aku minta mama bukan minta papa," protes Aurel.


Abraham memilih menepi, dia memilih duduk di dekat Abrian. Abraham lebih suka Abrian yang cuek dan tak banyak bicara.


"Ini pedas nak," jelas Arin membuat Aurel kecewa. Karena tak tega melihat sang anak sedih, Arin pun menawarkan yang lain.


"Sayang, bagaimana kalau Aurel makan buah yang ada di piring saja," tawar Arin membuat bibir kecil milik itu masih cemberut.


"Pak nan apa di lemari es ada coklat," tanya Arin kepada pak nan yang tak jauh dari sana.


"Sepertinya tidak ada nyonya," jawab pak nak.


'Punya anak yang satu seperti cuek dan dingin sedangkan yang satu cerewet selalu penasaran,' batin Abraham melihat anak kembar nya bergantian.


Abraham heran meskipun kembar tetapi sifat mereka bertolak belakang, tidak ada kemiripan cuma dari segi wajah saja yang mirip. Kalau sifat mereka berbanding terbalik.


Karena kasihan melihat putrinya Abraham pun menyela pembicaraan.


"Apa di lemari pendingin ada kue yang terbuat dari coklat," saut Abraham.


Pak nan berfikir, dia pun teringat kalau dia tadi sempat menyuruh koki membuat brownies untuk menu penutup makan malam nanti.


"Ada kue brownies, kalau nona Aurel mau nanti saya ambilkan," jawab pak nan.


"Bagaimana sayang, mau tidak," bujuk Abraham.


Aurel pun mengangguk setuju.


Tak lama pak nan datang membawa sepiring brownies untuk nona kecilnya. Arin pun memilih menyelesaikan makanya.


"Ah kenyang nya," lirih Arin sambil mengelap semuanya dengan bersih.


Abraham memandang ke arah buah yang ada di piring besar itu hanya tersisa separuh saja.


"Ya sudah biar ku suruh art bersihkan," Abraham pun hendak berdiri tetapi tangan Abraham di cekal oleh Arin.


"Jangan di buang sayang, biar nanti kamu yang habiskan," rengek Arin.


"Tetapi.... A-aku tidak bisa makan pedas," jelas Abraham.


Abraham seakan mati kutu di depan sang istri, biasanya dia yang terkenal arogan kini berubah jadi kucing manis di hadapan sang istri.


Sedangkan Bimo dan Doni kedua bodyguard kepercayaan Abraham itu pun cekikikan, melihat wajah Abraham yang sudah memelas.


"Ha ha ha ha ha lucu banget sih, lihat wajah tuan Abraham," bisik Bimo.


"Iya benar, jarang-jarang kan kita bisa lihat wajah tuan Abraham seperti itu," jawab Doni.


Abraham pun dengan terpaksa memakan makanan pedas itu, wajahnya memerah menahan rasa pedas yang membuat nya ingin menangis.


B E R S A M B U N G.....