Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 181


Dua hari saja kejadian itu Abraham sudah pulang ke kediamannya, hari ini mereka semua berkumpul di rumah Abraham.


Entahlah apa yang sedang di urus oleh Abraham, Tio pun takut untuk bertanya mengingat sifat sang kakak yang jarang berbicara kalau tidak penting.


Rio pun juga ada di sana namun wajahnya tak seperti biasa, ya biasanya Rio begitu cerewet namun hari ini wajahnya berubah menjadi murung. Tio yang mengetahui saudaranya murung itu pun paham dan berpikir kalau saat ini Rio sedang patah hati karena diduakan oleh pacarnya Rio. Rio sempat beberapa kali curhat dengan nya.


Tio memilih diam tidak ingin ikut campur, Tio akan bersuara kalau saudara kembarnya itu meminta tolong ataupun pendapat nya. Jujur Tio tidak ingin memihak siapapun karena Tio berada di tengah-tengah, meskipun mantan pacar Rio adalah sepupu Amanda. Tio tak ingin ikut campur dalam masalah ini.


Berbeda dengan Abraham saat ini, sejak kepulauan dari mana, entahlah Tio tidak tahu namun Abraham hanya bilang kalau dia pergi untuk menyelesaikan urusannya. Abraham lebih diam namun Tio semakin di buat penasaran.


Contoh nya saat ini, mereka semua sedang berkumpul di meja makan. Biasanya meja ini akan ramai dengan canda tawa namun hari ini begitu senyap tak berisik.


Sedangkan Arin yang melihat semua itu sudah gatal ingin bertanya.


"Tumben nih meja sunyi biasanya banyak rame ngalahin pasar," kata Arin menatap ke dua adiknya.


Tio menatap sang kakak dan mendelikkan bahunya tanda tak tahu. Sedangkan Rio memilih menunduk terdiam, di pikirannya begitu banyak beban yang dia tanggung saat ini.


Arin melirik ke arah sang suami, Arin berfikir suaminya pasti tahu karena Arin hafal betul sifat sang suami.


Glekk.


'Kenapa istriku sekarang selalu garang, padahal dulu dia lembut manis-manis seperti kucing, ck setelah punya anak terlihat seperti singa. Untung sayang...' Batin Abraham menatap sang istri.


Abraham pun ikut mendelikkan bahu nya seperti Tio, dia mencari cara teraman saat ini. Dia dalam di lema untuk jujur atau berbohong.


"Om Rio sariawan atau sakit gigi? Tumben tidak cerewet dan gangguin Aurel?" Tanya Aurel dengan polosnya di sela-sela mengunyah makanan.


Rio menoleh menatap Aurel dengan kening mengkerut, sedangkan Tio sudah cekikikan menahan tawa melihat tingkah lucu Aurel.


"Pffffttt... Ha ha ha ha ha ha, om Rio memang sedang sariawan sayang," kata Tio membuat Rio mendelik sebal.


"Benar nak kamu sakit?" Tanya sang bunda khawatir.


"Eh .... Tidak Bun, mana ada? Tuh Tio saja yang ngarang, Rio sehat kok cuma lagi banyak pikiran saja. Banyak kerjaan," kata Rio mencoba meyakinkan sang bunda agar tidak khawatir.


"Oh... Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, jangan terlalu bekerja keras nanti kamu sakit," kata bunda tak lupa menasehati anaknya.


"Iya bunda," jawab Rio mencoba tersenyum.


"Rio saja Bun, Tio ngak?" Goda Tio.


"Sama saja," jawab bunda terkekeh melihat wajah putranya cemberut.


"Eh Rio? Mana KTP ku?" Tangan Tio menengadah ke arah Rio meminta KTP nya.


"Oh ya, he he he he he maaf kelupaan," jelasnya sedikit tak enak.


"Ck apa kamu pakai macam-macam nih KTP ku, misalnya merampok bank," kata Tio dengan iseng.


Glekkk ...


Tenggorokan Rio terasa kering, dia sungguh tak dapat menampik omongan saudara kembarnya, meskipun yang di bilang salah namun tak sepenuhnya salah. Entahlah Rio langsung pucat di buatnya.


"Ck aku hanya bercanda," kata Tio saat melihat wajah Rio yang sudah pucat.


Arin memukul jari Tio dengan sendok miliknya.


"Aduuh kak sakiiit ,"


Tio mengusap tangannya yang sakit akibat sendok sang kakak.


"Bundaaa, nih kak Arin sudah kdrt sama adiknya," Tio mengaduh ke bunda.


Sedangkan Abraham mengelengkan kepalanya.


'Semoga kehangatan ini tak akan hilang,' batin Abraham saat ini.


"Rasain, salah sendiri nuduh Rio macam-macam, Rio itu adik mbak yang paling manis," kata Arin menatap sinis Tio.


"Ck iya-iya, cuma Rio saja adiknya sedangkan aku adik pungut," cibir Tio kesal.


Ha ha ha ha ha ha ha ha.


Bunda, Arin dan Rio terkekeh mendengar itu sedangkan Abraham hanya tersenyum tipis.


"Oh om Tio itu mungut di tong sampah ya Oma, seperti sinetron yang sering di lihat Oma ya?" Tanya Abrian ke arah sang bunda membuat Tio menganga tak percaya.


"Ck dasar, anak sama emak 11 12," sinis Tio.


"Masih kecil suka nonton begituan, mending nonton kartun biar tetap lucu terus," sinis Tio menatap ke arah dua bocah kembar itu.


Arin melotot ke arah Tio. Sedangkan Tio yang mendapat plototan dari sang kakak hanya bisa menghela nafas berat.


'Ck nasib jadi adik selalu salah,' batin Tio.


"Ha ha ha ha ha, tidak sayang. Om Tio hanya bercanda, om Rio, mama sama om Tio itu anak oma, lahir dari perut Oma semua," jelas bunda kepada cucu nya.


"Oh..." Kedua bocah kecil itu hanya mengangguk mengerti.


"Ayo makan, jangan berisik,"


Suara bariton itu membuat semua yang ada di meja makan tertunduk patuh langsung menatap makanan yang ada di meja dengan hikmat, diam teratur. Ya siapa lagi yang mampu membuat semua orang di sana patuh tak membantah ataupun protes, kalau bukan Abraham.


Setelah selesai makan, Abraham berkumpul bersama keluarga kecilnya bermain di halaman samping yang di sulap jadi taman bermain anak namun terlihat adem karena di sana juga ada bunga, dan pohon untuk menambah kesan sejuk dan tenang. Abraham juga mendekor tempat itu sedemikan rupa sehingga aman untuk di kecil bermain, lantai bukan keramik marmer atau cor namun di sana adalah rumput yang sengaja Abraham pesan dengan harga yang lumayan untuk keamanan buah hatinya agar kalau terjatuh tidak lecet.


Sedangkan Tio sudah pamit untuk menjemput sang kekasih hati yang tak lain adalah Amanda, sekedar jalan berdua.


Berbeda dengan Tio yang sedang bahagia, Rio justru terdiam di kamarnya meratapi nasib jelek yang mampir ke arahnya.


Rio jujur masih belum bisa percaya, jalinan kasih nya harus kandas di tengah jalan, padahal Rio sudah berfikir untuk melamar kekasihnya tahun depan, namun nasi sudah menjadi bubur itulah yang Rio sesali.


Andai dia dulu ikut sang kekasih untuk kuliah di tempat yang sama dan tidak memilih pacaran jarak jauh, mungkin hari ini dia dan kekasihnya itu akan baik-baik saja.


"Kenapa sesakit ini," lirih Rio memegang dadanya yang terasa sesak.


"Ayo Rio bangkit, kamu harus cari wanita itu," kata Rio menguatkan dirinya sendiri agar tidak terpuruk terus menerus.


B E R S A M B U N G....