Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 91


"Dasar di suruh mengantarkan makanan begini saja tidak becus hah," bentar manager itu kepada pelayan wanita.


Pelayan itu hanya bisa menunduk merasa bersalah. Dia terdiam jujur untuk pertama kalinya dia di bentak orang di depan umum. Dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya.


"Hei kamu tahu tidak, gara-gara kamu kerja tak becus buat saya rugi," bentak bapak manager itu tak lupa tangannya menunjuk-nunjuk ke arah pelayan yang baru saja dia pekerjakan seminggu.


Pria itu mengomel tanpa henti membuat siapapun yang melihatnya pasti iba.


"Maaf Pak saya tidak sengaja , saya akan berhati-hati," pintanya menunduk.


"Selalu saja berkata seperti itu," sungutnya kesal.


"Karena ulah mu saya rugi, tahu begitu saya tidak akan memperkerjakan mu waktu itu. Jadi mangkok dan piring yang pecah ini ku potong dari gaji mu," setelah meluapkan emosi nya dia pun pergi meninggalkan restoran menuju ruangan nya.


"Cepat kamu bersihkan semua kekacauan ini," perintahnya.


Sedangkan wanita muda itu menunduk lesu, memunguti semua pecahan beling yang berserakan, kemudian memasukkan nya kedalam kantong plastik. Dia memastikan semuanya bersih tak ada yang terlewat.


Wanita itu sadar, dulu harusnya dia bersyukur namun dia bertindak sebaliknya selalu menghina orang yang bekerja untuknya, bahkan tak segan-segan membentak nya kalau melakukan kesalahan. Sekarang semua berbalik kepada nya.


Beberapa kali dia menyeka sudut matanya kala mengingat semua itu, tidak ada yang berniat membantu karena mereka takut terkena teguran dari manager restoran itu.


Dari kejauhan pemuda itu memperhatikan pelayan itu, dia merasa kasihan.


Pemuda itu berjalan menghampiri pelayan yang masih menunduk.


"Nih hapus air mata mu, jelek tau kalau kamu menangis begitu," kata pemuda tampan itu.


Wanita itu mendongak menatap pria yang sedang menyodorkan sapu tangan miliknya.


Deg ....


'Inikah pemuda yang dulu memberikan sapu tangannya kepada ku saat di rumah makan waktu itu, iya pas aku menangis karena kepergian Jo,' batin Veli.


"Terimakasih," lirihnya.


"Eh ternyata mbak yang dulu itu ya, yang nangis juga di depan rumah makan. Wah dunia sempit ya tidak menyangka kita bertemu lagi di sini," katanya dengan tersenyum.


"Iya," Veli masih menghapus pipinya yang basah.


"Saya bantu ya mbak," pintanya.


"Tidak mas, jangan ini semua tugas saya," lirih Veli menolak.


Setelah itu Veli bergegas kembali ke dapur, untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia baru seminggu ini bekerja sebagai pelayan, kehidupannya begitu sulit, dia sekarang tinggal di kos-kosan yang tak jauh dari sana.


Dia juga tak tahu kabar orang tuanya lagi, maupun Jonathan.


Veli pun berkali-kali berpindah pekerjaan karena dia selalu saja melakukan kesalahan sehingga sering di pecat, namun baru kali ini dia di omeli habis-habisan.


Veli bersyukur dia di terima disini, karena cuma di sini pelayan di gaji besar. Sebisanya dia harus bisa bertahan di sini meskipun baru seminggu, dia akan berusaha dengan baik, hidupnya serasa sebatang kara membuatnya harus tegar bahkan untuk makan saja dia harus berhemat berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu.


Sore hari.....


Veli bersiap-siap untuk pulang, restoran itu menggunakan 2 sip pagi dan sore. Kebetulan Veli kebagian pagi.


Veli pun berganti baju biasa, dia mengambil beberapa bungkus makanan jatah siang tadi tetapi dia tidak memakannya. Karena tiap siang Veli sengaja membawa roti untuk mengganjal perutnya.


Jatah makan siang, dia selalu membungkusnya untuk di makan sore hari.


Kehidupan mengajarkan Veli untuk mandiri, berhemat untuk mencukupi semua kebutuhan nya dalam sebulan.


"Chef , saya pulang ya," pamit Veli.


"Iya hati-hati, itu jatah makan kamu sudah ku siapin di sana," tunjuk chef kearah kantong plastik yang tergantung di sudut sana.


Veli pun mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas, dia bersyukur, mereka semua sangat baik meskipun manager di sini terlihat tegas dan tak mentolerir kesalahan apapun.


"Terimakasih chef,"


Setelah mengucapkan itu, Veli pun pulang. Dia pun pergi melalui pintu belakang restoran.


Veli pun bergegas, dia sudah tak sabar ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Uh lelahnya hari ini," guman Veli.


"Eh...." Veli menoleh kaget, lagi-lagi dia harus bertemu dengan pemuda itu.


"Kamu kenapa bisa di sini?" Tanya Veli penasaran.


"Oh aku biasa ngisi musik di cafe depan restoran mbak tadi," jelasnya.


"O...." Veli hanya ber o ria.


"Kenalin nama ku Andi, kalau mbak siapa?" Tanyanya dengan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Veli," jawab Veli singkat. Jujur Veli tak ingin berlama-lama dengan pemuda di depannya, dia tak ingin terlibat dengan namanya laki-laki.


Dia hanya ingin hidup damai.


"Oh ya kamu tinggal di mana?" Tanyanya.


"Di sana," tunjuk Veli ke arah masuk gang.


"Oh, kalau begitu ku antar yah," pinta pemuda itu. Veli mengeleng sebagai tanda tidak setuju.


"Ayolah mbak, kita kan sudah berteman," pemuda itu seolah tak putus asa mencoba dekat dengan wanita di depannya.


"Kenapa mbak? Apa mbak malu jalan bersama pengamen seperti ku," tanyanya menunduk mengamati penampilan nya.


"Tidak kenapa harus malu, lagian kamu bukan pengamen he he he he," jawab Veli tertawa mengurangi rasa canggung.


"Ya sama saja mbak aku juga pengamen yang nyanyi sambil bawa gitar," jelas Andi.


"Ha ha ha ha ha kamu ada-ada saja, lah dilihat dari manapun beda," jawab Veli.


Pemuda di depannya itupun tersenyum, dia baru kali ini melihat tawa wanita itu yang begitu cantik.


"Bedanya apa sih mbak," tanya nya, Andi berusaha mengakrabkan diri dengan wanita di depannya.


"Ya bedanya itu kamu nyanyi di cafe bukan di jalan," jelasnya.


"Ha ha ha ha ha ha mbak bisa saja,"


Andi mengamati wanita di depannya, wajahnya begitu muram seakan banyak kesedihan yang ada di sana.


"Bunga bunga bunga mawar untuk kekasihnya," teriak bocah laki-laki menjual bunga.


Veli memandang anak itu dengan sendu, dia pun teringat anaknya yang dia tinggalkan saat berumur satu tahun.


'Nak bagaimana kabar kamu, apakah bisa mama bertemu dengan mu lagi,' batin Veli.


Veli terdiam melamun, membuat Andi menatapnya heran karena baru saja wanita itu tertawa senang sekarang wajahnya berubah sendu.


Andi mengikuti arah pandangan Veli, menatap bocah penjual bunga.


"Dek sini," panggil Andi kepada bocah itu.


"Iya kak,"


"Berapa satu bunga?" Tanya nya.


'Mungkin dia mau membelikan kekasihnya,' batin Veli.


"10 ribu saja kak," jawab bocah laki-laki itu.


"Ini...." Andi menyodorkan uang ke bocah itu.


"Terimakasih kak," setelah itu bocah itu berlari pergi dengan senang karena bunganya laku meskipun hanya satu.


"Ini buatmu," kata Andi menyerahkan bunga untuk Veli.


"Eh...." Veli tak menyangka.


"Terimakasih," jawab Veli tersenyum.


B E R S A M B U N G....


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE