Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 113


Sesampainya di rumah....


Tio bersenandung kecil, dia begitu bahagia mengingat kejadian tadi bersama dengan Amanda.


Dengan langkah pelan namun santai Tio berjalan menuju ke dalam mansion mewah itu.


Rumah dalam keadaan sepi mungkin mereka semua berada di kamar baby Andra, apalagi si kembar yang tak bisa lepas dari sang adik.


Puk... Tepukan di punggung menyadarkan Tio, dia menoleh ternyata kakak iparnya menatapnya dengan senyum kecilnya.


"Ehemmm... Hei bagaimana saranku?" Tanya Abraham.


"Lancar kak," jawab Tio mengacungkan jempol nya.


"Bagus lah,"


"Kamu ikut aku ke ruang kerja," perintah Abraham.


Tio tahu pasti ada yang harus mereka bicarakan, jadi Tio pun mengikuti langkah Abraham menuju ruang kerja.


"Tutup pintu, nyalakan peredam suara," titah Abraham, Tio pun menurut karena Tio tahu pasti ada sesuatu yang penting.


Abraham tak ingin pembicaraan di ruang kerja itu terdengar oleh siapapun, karena Abraham takut akan ada orang yang berkhianat di sisinya. Abraham tak ingin kejadian dulu terulang lagi.


"Bagaimana dengan perusahaan milik pak Reyhan, apakah sudah kamu selidiki?" Tanya Abraham.


"He he he he he he, informasi yang ku dapatkan baru 50% kak," jawab Tio cengengesan.


"Terus apa yang kamu dapat?" Tanya Abraham.


" Ternyata pak Reyhan cukup pintar menyembunyikan masalah pribadinya, selama ini yang ku dapat semua hanya hal-hal yang baik saja tidak ada hal buruk dari dia, bahkan rumah tangga nya juga terlihat harmonis," jelas Tio.


"Pokoknya aku ingin dalam sekejap perusahaan milik nya hancur, karena dia telah berani mengusik perusahaan cabang kita yang ada di Kalimantan," kata Abraham tersenyum licik.


"Siap kak,"


"Aku juga sudah menemukan siapa saja penyusup yang ada di sana, mau kita apakan mereka?" Tanya Tio mengingat beberapa waktu lalu anak buahnya di sana mengirimkan beberapa foto para petinggi perusahaan yang berkhianat.


Ya Tio belajar banyak bisnis dari Abraham, termasuk keahlian bela diri. Tugas Tio pun sama dengan Hendra, keduanya berkolaborasi memajukan perusahaan. Tio juga memiliki beberapa orang anak buah maupun mata-mata.


Namun tidak ada yang tahu, karena selama ini Tio jarang ke perusahaan karena semua tugas sering dia lakukan di rumah, beruntung Tio pernah memiliki teman yang pintar dalam bidang hacker, jadi dia sedikit tahu tentang dunia itu.


Dia mempergunakan keahlian itu untuk mengamankan data milik perusahaan Abraham.


Berbeda dengan Rio yang lebih memilih memajukan toko kue milik Arin, dia tak ingin terlibat urusan perusahaan, Rio tak tertarik untuk bekerja maupun membantu di perusahaan milik kakak ipar nya itu.


"Kak...." Tio binggung harus mengucapkan apa.


"Hmm.... Katakan jangan ragu," pinta Abraham.


"Atas perintah bang Hendra, aku sudah menemukan wanita itu melalui anak buah kita yang di sana,"


Abraham terdiam, antara sedih , senang dan juga takut. Entahlah...


"Aku sudah menyelidiki tentang foto wanita itu dan semua data nya ada di sini," kata Tio menyerahkan amplop coklat yang berisi data wanita yang di cari Abraham.


Seakan mengerti kalau kakak iparnya itu membutuhkan waktu untuk sendiri, Tio pun pamit undur diri.


"Emm.... Aku mau mandi dan ganti baju dulu," pamit Tio.


Abraham pun menatap amplop itu, tangannya terulur mengambil dan membuka isinya.


Bulir-bulir bening meluncur dari sudut mata nya.


" Hiks hiks hiks hiks hiks hiks," Abraham menangis dalam diam, Abraham berusaha tegar di depan semua orang, dia tak ingin terlihat lemah.


Abraham megambil ponselnya dan menghubungi dokter Rian.


Tut...


"Halo..." terdengar suara dari sebrang sana, menandakan kalau si penerima mengangkat panggilan itu.


"Mereka baik-baik saja," jawab Abraham singkat.


Dokter Rian terdiam, dia menyadari aura yang di keluarkan Abraham terdengar sangat dingin.


"Ada tugas untuk mu, kamu suruh orang untuk membongkar makam mama dan pastikan apakah itu benar mama atau orang lain," jelas Abraham membuat dokter Rian kaget dan terdiam sesaat.


"Ok nanti aku akan menyuruh orang-orang terbaik ku untuk memastikan nya," jawab dokter Rian.


Meski di penuhi berbagai pertanyaan namun dia tak berani bertanya karena terdengar dari suaranya Abraham begitu dingin.


Klik.... Panggilan itu pun terputus.


Di rumah sakit tempat dokter Rian...


"Apa yang membuat Abraham curiga dan menyuruhku melakukan semua itu. Mungkinkah ada orang yang merekayasa waktu itu, apalagi dulu Abraham masih muda. Dia masih polos tak sekuat sekarang," guman dokter Rian.


Sedangkan Abraham di ruang kerjanya.


Abraham menyandarkan tubuhnya di kursi, dia menerawang jauh saat dia masih kuliah. Dia harus kehilangan kedua orang tua nya akibat kecelakaan.


Sedangkan Tio...


Tio melemparkan tas nya ke atas ranjang, dia langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lelah.


Tio menyunggingkan senyum nya kala mengingat bunda Amanda begitu antusias menyambut kedatangannya.


"Besok kan kebetulan hari libur, aku harus datang kerumahnya untuk mengajak dia pergi jalan-jalan, sekalian mengajak Aurel dan Abrian biar Amanda lebih dekat dengan keluargaku," guman Tio membayangkan wajah Amanda yang ketus namun mengemaskan.


"Ah aku baru tahu kalau dia begitu mengemaskan,"


Setelah itu Tio menyelesaikan mandinya, karena banyak tugas kantor yang harus dia periksa.


Tio membuka ponselnya, namun tak ada satu pesan pun dari Amanda.


"Halo sayang, aku kangen," Tio menulis pesan untuk Amanda.


Setelah menunggu beberapa saat, tak ada balasan membuat Tio mendesah kecewa.


"Aku harus berusaha lebih keras untuk meluluhkan hati mu," guman Tio sendu.


Tio pun menghela nafas panjang, dia segera mengambil laptop dan memeriksa keuangan milik perusahaan, Tio tak bisa percaya dengan orang lain karena dia sudah di tugaskan Abraham untuk memantau semuanya.


Tio mulai giat belajar sambil bekerja dengan bantuan Hendra.


Abraham ingin Tio nanti bisa memimpin perusahaan miliknya yang bada di luar negeri. Untuk itu Abraham mulai melatih Tio untuk bekerja keras.


Trink...


Tio menoleh saat melihat ponselnya berdering sebentar menandakan pesan masuk.


Dengan semangat dia mengambil ponselnya.


"Akhirnya dia membalas pesanku," kata Tio mengira itu pesan dari Amanda.


Namun Tio begitu kecewa kala pesan itu dari salah satu anak buahnya, bukan pesan dari Amanda.


Mata nya melotot kala melihat isi pesan itu.


Bruuuaaaakk....


Tio tanpa sadar mengebrak meja milik nya, untung saja laptop itu tak sampai jatuh.


"Aaahh sial, beraninya mereka menyerang markas," Tio begitu marah kala mendengar markas yang mereka gunakan untuk menyekap para penghianat itu di serang.


"Aku harus menghubungi bang Bimo dan bang Doni," guman Tio, dia bergegas mengambil jaket miliknya.


Tio tak ingin memberitahukan kepada kakak iparnya, karena Tio tahu kalau kakak iparnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Bersambung....