
Abraham berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju area parkir di mana mobilnya berada.
Abraham menghela nafas berat, dia sedang berfikir bagaimana harus memberitahu sang istri. Di sisi lain hatinya berkata dia tak ingin sang istri tahu mengingat kondisi Arin saat ini yang membuat Abraham ragu untuk bercerita, dokter juga sering mengatakan kalau Arin tak boleh banyak pikiran karena akan berpengaruh terhadap asi miliknya, namun di sisi satunya dia harus berkata jujur takutnya nanti sang istri tahu dari orang lain dan berimbas kepada hubungan mereka.
Abraham benar-benar binggung, seakan dia mau maju ataupun mundur tetap sama hasilnya. Pikirannya kosong apalagi akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang datang kepada nya.
Abraham menghela nafas panjang, dia seakan membuang beban yang ada di pikirannya.
Saat sedang dilema, tanpa sadar Abraham menabrak seseorang.
Brakkk....
Tubuh wanita itu terjatuh karena terbentur tubuh tegap milik Abraham.
"Maaf," Abraham yang arogan dan terkenal dingin tiba-tiba meminta maaf, entah dorongan dari mana dia pun mengulurkan tangannya.
Abraham menunduk untuk melihat wanita tua yang terjatuh tadi, detik itu juga bola mata Abraham membulat sempurna menatap wanita itu tanpa berkedip.
Sedangkan wanita itu berdiri mengusap celana kainnya yang sedikit kotor terkena debu.
"Mama...." Bibir Abraham bergetar hebat saat kata itu keluar dari mulut Abraham. Dia terpaku di tempatnya, tubuhnya seakan membeku tak bisa bergerak. Nafasnya terasa sesak, sorot mata yang biasanya tajam terlihat sayu.
"Mama..." Kata itu lolos dari mulut Abraham untuk kedua kalinya.
Deg
Wanita itu menyipitkan matanya, guratan garis di wajahnya itu seakan menandakan bahwa tubuhnya telah menua, ingatannya pun tak setajam dulu.
Abraham yakin wanita itu adalah mama tercintanya yang di kabarkan meninggal karena kecelakaan pesawat beberapa tahun silam. Abraham sudah menyuruh orang untuk mengecek semuanya dan memang yang telah di makamkan itu bukan Mama nya melainkan orang lain.
"Kamu siapa?" Tanya wanita itu menyipitkan matanya, menatap lelaki di hadapannya dengan penuh tanya.
"Aku Abraham ma, anak mama," rasa rindu bergelayut manja membuang semua ego dan rasa sakit yang dia rasakan selama ini.
"Maaf mungkin anda salah orang," jawab wanita tua itu mengelengkan kepalanya tanda dia tak mengenal lelaki matang di depannya.
"Bunda tidak apa-apa," tanya laki-laki muda yang berusia 25 tahunan.
"Bunda tidak apa-apa nak," jawab wanita tua itu lembut kepada anak laki-laki nya.
Deg...
Hati Abraham berdenyut nyeri, meskipun wanita itu memandang penuh kasih sayang kepada orang lain.
"Bunda kenal laki-laki itu?" Tanya pemuda itu kepada bundanya, namun wanita itu mengeleng sebagai jawaban.
Abraham terdiam membisu...
"Maaf tuan kalau bunda saya melakukan kesalahan, permisi kami pamit duluan," pemuda itu berucap sopan, dia takut sang bunda membuat kesalahan.
Keduanya pun meninggalkan Abraham.
"Mama...."
Deg...
Wanita itu menoleh, entah kenapa hatinya seakan ragu untuk meninggalkan tempat itu.
"Ayo bunda," pemuda itu mengandeng tangan sang bunda untuk melanjutkan langkahnya, dia berfikir lelaki itu memanggil orang lain bukan bundanya.
Abraham menangis dalam diam, melihat wanita yang di klaim sebagai Mama nya itu pergi menjauh.
"Ma ...! Apa mama lupa dengan putra kecil mu," lirih Abraham mengusap kasar air matanya, setelah itu dia berjalan cepat meninggalkan tempat itu dan membawa kesedihan yang dia rasakan.
****
Sedangkan di ruang rawat VIP.....
Tio menormalkan detak jantung nya, begitupun Amanda.
"Halo sayang," sapa Tio menyeringai.
'Dasar Rio, tidak ada permisi. Dia seenaknya saja memberikan ponselnya kepada Tio, jadinya kan aku malu ketahuan sedang mencarinya,' guman Amanda dalam hati, dia begitu kesal kepada sahabatnya itu.
"Kenapa kamu tergagap begitu, aku tahu pasti kamu deg-degan kan mendengar suara merdu ku," goda Tio.
Amanda di buat mati kutu saat berbicara dengan pemuda tampan itu.
"Si-siapa yang deg-degan, ngaco aja kamu," elak Amanda.
"Ha ha ha ha ha ha ngaku saja, tuh kedengaran sampai sini detak jantung mu," Tio semakin senang menggoda Amanda.
'Pasti wajah nya tersipu malu, pasti dia terlihat begitu mengemaskan,' batin Tio membayangkan wajah Amanda bersemu merah.
"Kalau kamu bicara sembarangan, ku tutup nih telepon nya," ancam Amanda yang sudah kesal sedari tadi Tio terus menggoda dirinya.
"Eittsss jangan marah, awas kalau kamu berani menutup telephon ini, ku pastikan besok aku sudah ada di sana bersama keluargaku untuk melamar mu," ancam Tio membuat nyali Amanda menciut.
'Ish nih orang suka nya ngancam,' batin Amanda mencebik kesal.
"Dasar suka memaksa," kesal Amanda di sebrang sana tak lupa menghentakkan kakinya berkali-kali karena kesal.
Tok tok tok tok...
Tio menatap ke arah pintu, dengan ponsel masih setia menempel di telinganya. Tio mengerutkan keningnya.
'Tumben tuh anak sopan, pakai ketuk pintu segala biasanya juga main nyelonong saja,' guman Tio dalam hati.
Tio mengira orang yang mengetuk pintu adalah Rio saudaranya, hal itu membuat dia menyergit heran.
"Masuk," jawab Tio karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, dia mengira orang itu adalah Rio.
"Bagaimana kondisi kamu Tio?" Tanya dokter Rian.
Klik... Panggilan terputus sepihak.
Ya itu adalah ulah tio. Dengan cepat Tio mematikan ponselnya, dia tak ingin Amanda tahu kondisi nya saat ini.
Di sebrang sana Amanda heran karena dia sempat mendengar orang menanyakan kabar Tio.
"Kenapa Tio memutus sambungan telepon ini? Dan tadi aku dengar ada orang yang bertanggung kondisi Tio, apa sesuatu telah terjadi dengan Tio?" Amanda bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
"Ah aku harus cari tahu,emm.... Tetapi aku harus bertanya kepada siapa ya?"
Amanda berfikir siapa orang yang harus di tanyai.
Tut
Tut
Tut
Berkali-kali Amanda mencoba menghubungi ponsel milik Rio namun tak ada jawaban dari sana.
Amanda mendengus kesal, dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
Dokter Rian menatap Tio dengan senyum lega, dia tak menyangka Tio sudah duduk dengan tegap seolah-olah dia tidak sakit.
"Baik," jawab Tio singkat.
"Ada keluhan yang mungkin kamu rasakan saat ini?" Dokter Rian memastikan kondisi adik ipar Abraham ini sudah baik-baik saja mengingat baru beberapa jam lalu Tio berada di ruang operasi.
"Tenang saja jangan terlalu khawatir, aku baik-baik saja," jawab Tio seakan tahu dokter Rian masih khawatir kepadanya.
"Kamu hebat bisa selamat," kata dokter Rian membuat Tio mendelik.
"Ha ha ha ha ha ha aku bercanda, jangan melotot begitu," dokter Rian terkekeh melihat tingkah Tio saat ini.
B E R S A M B U N G....