
Arin melebarkan matanya saat mendengar ucapan dari putri kesayangannya.
Arin kesal apalagi tawa Abraham begitu menjengkelkan di matanya.
'Awas saja, tunggu pembalasan ku,' batin Arin membuat beberapa rencana untuk membalas Abraham.
Tidak mungkin Arin mengatakan kejadian sebenarnya, Arin pun memutar otaknya mencari ide.
Arin pun melirik ke arah sprei yang di pasang Abraham, meskipun tak bergambar animasi kartun tetapi Arin bernafas lega melihat warna dan corak sprei itu.
"Bukan sayang, itu sprei papa ganti dengan warna merah, kan kesukaan bunga mawar sama warna merah kesukaan Aurel," jelas Arin membuat Aurel mengangguk.
"Maaf ya ma tadi Aurel kira mama ngompol, he he he he he...." Kata Aurel tertawa menutupi kesalahannya.
"Ayo kita bobok, sudah malam," ajak Arin.
Sedangkan Abraham langsung memilih tempat di samping Arin.
"Eh tunggu.... Mana kak Abrian??" Tanya Arin karena tak melihat anak laki-lakinya.
"Sudah bobok ma dari tadi," jawab Aurel.
"Hoaaammm...." Aurel menguap lebar, matanya terasa berat.
"Ayo kita tidur," ajak Abraham kembali mengendong Aurel naik ke kasur milik Abraham.
"Tunggu ma?" Tolak Aurel.
"Ada apa sayang," tanya Arin karena anaknya fokus memandang ke arahnya.
"Itu ma?"Tunjuk Aurel ke arah leher Arin.
Arin memegang serta meraba lehernya, Arin belum menyadari sesuatu.
Sedangkan Abraham melotot kaget.
'Punya anak perempuan aktif nya minta ampun, besok-besok aku harus berhati-hati,' guman Abraham dalam hati nya sambil menepuk dahinya.
"Itu," tunjuk Abraham dengan isyarat kepada Arin.
"Apa?" Tanya Arin yang masih belum paham dengan maksud Abraham.
"Mama sakit ya?" Tanya Aurel dengan polosnya.
"Mama baik-baik saja nak," jawab Arin.
"Kenapa leher mama merah-merah, mama sakit?" Bocah kecil itu masih di buat penasaran.
Deg...
'Aku harus bilang apa? ini semua gara-gara pak tua mesum,' grutu Arin dalam hati.
Arin melotot ke arah Abraham, sedangkan Abraham meringis tak berani menatap Arin.
"Oh ini di gigit semut," jawab Arin sambil menghela nafas lega.
"Semut nya nakal ya ma, sampai gigit mama. Apa semut nya gede ma sampai merah-merah nya besar banget," bibir polos itu tak henti-hentinya bertanya membuat Arin pusing bukan main.
"Iya semut nya nakal," jawab Arin.
"Ayo kita tidur sayang, besok kita basmi tuh semut biar tidak gigit mama seenaknya," kata Arin melotot ke arah Abraham.
"Hmmm..." Jawab Aurel yang sudah mulai mengantuk.
Arin pun tidur di sisi kiri sedangkan Abraham tidur di sisi kanan dan Aurel tidur di tengah-tengah.
Arin pun merapikan selimut untuk menutupi tubuh mungil itu.
Tok tok tok tok tok tok tok...
Arin mengehentikan aktifitasnya, dia melirik ke arah Abraham.
"Ma...." Kata Abrian sedang mengetuk pintu kamar Abraham dan Arin.
"Itu suara Abrian kan?" Tanya Abraham memastikan.
Arin pun mengangguk, setelah itu dia turun dari ranjang menuju ke arah pintu.
Tap tap tap tap tap... Ceklek....
"Lho sayang kenapa?" Tanya Arin melihat anaknya dalam keadaan mengantuk sedari tadi mengucek matanya, namun berdiri di depan pintu kamar nya.
"Aurel mana ma?" Tanya Abrian.
"Aurel tuh, tadi dia nangis minta bobok sama mama, apa Abrian mau ikut juga?" Kata Arin.
Abrian mengeleng kecil.
"Mbak Tina tidur saja biar anak-anak saya yang urus," perintah Arin karena kasihan kepada mbak Tina yang terlihat menahan kantuk.
"Lho kenapa Abrian? Tanya Abraham kepada Arin, Arin cuma mendelikkan bahunya karena dia juga tak tahu.
"Abrian mau apa? Diajak tidur di sini sama Aurel tidak mau, Kenapa?" Tanya Arin kepada bocah tampan itu.
"Abrian juga ingin tidur sama Papa dan Mama tetapi Oma bilang kita tidak boleh tidur bareng mama dan papa, katanya biar Abrian cepat punya adik," kata Abrian dengan polosnya.
"Abrian mau adik?" Tanya Abraham
Abrian mengangguk berbinar.
"Mau berapa?" Tanya Abraham matanya melirik Arin dengan tatapan menggoda.
Abrian menunjukkan 5 jari nya membuat Abraham terkekeh lucu.
Arin membulatkan matanya melihat tangan Abrian, Arin memijit kepalanya karena pusing kelakuan dia anaknya.
Abraham tersenyum semakin cerah mendengar permintaan sang anak.
Sedangkan Aurel sudah tertidur lelap dalam mimpinya.
"Mmmm... Abrian tidur di sini saja," ajak Arin kepada Abrian.
Abrian masih kekeh mengeleng.
Arin memberi kode kepada Abraham dengan tatapan memohon untuk membujuk Abrian.
"Boleh saja, asal besok pagi jatahku jangan lupa," bisik Abraham di telinga Arin membuat Arin melotot tetapi pipinya bersemu merah.
"Abrian tidur di sini saja, mama sama papa sudah buat adik tadi," kata Abraham.
Arin mendelik ke arah Abraham.
'Punya suami mesum begini,' batin Arin.
"Wah Abrian boleh lihat kan pa?" Tanya bocah kecil itu dengan antusias.
Sedangkan Abraham di buat binggung.
"Emmm.... Tidak boleh sayang, yang bisa buat cuma papa sama Mama. Sekarang Abrian tidur dulu ya," jawab Abraham sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Abrian pun naik ke atas ranjang.
"Ma lehernya kenapa?" Tanya Abrian.
'Hiks hiks hiks hiks hiks hiks..... Tadi Aurel sekarang Abrian, nasib punya anak aktif bertanya,' batin Arin ingin menangis.
"Di gigit semut, ayo tidur jangan bicara terus. Sudah malam," kata Arin meminta anaknya tidur karena dia sudah lelah.
"Hoaaaamm...." Arin berpura-pura menguap.
"Ayo tidur," ajak Abraham.
Ke empat orang itu sudah berada di balik selimut tebal.
Abraham melirik Arin yang sedang memeluk Aurel sedang Abrian memeluk Abraham. Pemandangan yang begitu mengharukan untuk dirinya.
'Aku akan menjaga kalian dan menyayangi kalian sepenuh hati ku, tak kan ku biarkan orang lain mengusik kehidupan rumah tangga kita,' batin Abraham.
Abraham bertekad kuat menjaga mereka, terutama Arin dari sosok William yang begitu membencinya. Ya Abraham masih memantau gerak-gerik William maupun Jo dan Veli semua nya.
Abraham tak ingin Arin kenapa-kenapa, apalagi tatapan mata yang di tunjukkan Veli dulu saat bertemu Arin terlihat begitu penuh dengan kebencian.
Trink.... Bunyi ponsel di samping Abraham berbunyi.
Abraham melirik Arin dan kedua anaknya yang sudah tertidur pulas.
Abraham meraih ponsel yang berada di samping nya.
Abraham terlihat khawatir melihat isi pesan dari Hendra.
"Tuan maaf saya menganggu tidur anda, saya cuma ingin memberitahu kalau pak William sudah kembali ke sini, dia baru saja mendarat di bandara. Tetapi yang harus kita khawatirkan adalah pak William sekarang memperkejakan nona Veli sebagai sekertaris nya saat ini," itulah isi pesan dari Hendra.
"Kamu selidiki secepatnya, tambah anak buah untuk menjaga Arin dan anak-anak dari jauh," perintah Abraham melalui pesan.
Abraham menaruh ponselnya kembali. Dia menghela nafas panjang.
"Tak kan ku biarkan kalian tersenyum, sekali lagi kalian mencampuri rumah tangga ku atau mengusik istri dan anakku. Siap-siap saja kalian hancur tak tersisa," lirih Abraham dengan suara kecil sambil mengepalkan tangannya.
B E R S A M B U N G.....
LIKE, KOMENTAR, FAVORIT, GIFT/VOTE
Terimakasih atas dukungan kalian ๐