
Dokter Rian menerawang jauh kejadian kemarin. Meskipun mereka bertiga bersahabat tetapi dokter Rian juga geram atas kelakuan dari sahabatnya itu.
Dokter Rian di beritahu oleh Abraham mengenai penculikan serta misi penyelamatan itu melalui sambungan telepon, dokter Rian pun menyusul ke sana tetapi dia tak bertemu dengan Abraham karena Abraham keburu pergi meninggalkan gudang tua itu untuk menemani Arin di mansion. Abraham takut Arin masih tertekan atau ketakutan atas kejadian itu.
Abraham cuma memerintahkan dokter Rian untuk membawa William ke tempat mami Sarah, Abraham juga meminta sahabatnya itu untuk menyuntikkan obat yang membuat William tak menyukai perempuan, tetapi saat hendak membawa William ke tempat mami Sarah. William memilih kabur melompat dari mobil yang sedang melaju kencang.
Dan yang lebih mengenaskan adalah William meninggal di tempat, karena saat melompat tiba-tiba muncul truk bermuatan pasir melintas dan menabrak William yang bergulir di aspal.
Dokter Rian pun menghela nafas panjang, mengingat kejadian itu. Dia menyayangkan sahabatnya yang baik itu telah di buta kan oleh obsesinya.
"Semoga kamu bahagia di sana," lirih dokter Rian.
Setelah itu dokter Rian pergi menuju ruang rawat untuk memeriksa kondisi pasien perempuan yang kecelakaan kemarin.
Dokter Rian terkenal dengan sebutan dokter dingin yang jenius, membuat dirinya banyak digandrungi wanita-wanita cantik namun sikap cueknya membuat wanita itu engan mendekatinya.
Tap tap tap tap tap...
Ceklek....
Dokter Rian menghampiri salah satu ruangan di mana pasiennya tengah menanti kunjungan rutin yang di lakukan.
"Halo nona, bagaimana kabar anda. Apa ada keluhan?" Tanyanya dengan datar.
"Eh Pak dokter ganteng, kirain perawat gendut tadi, upssss keceplosan.... He he he he he he," kata wanita menutup mulutnya yang ember itu saat tahu dokter Rian yang datang memeriksa nya.
Dokter Rian melotot, melihat kelakuan gadis bar-bar di depannya.
"Aduh Dok, " kata wanita itu pura-pura memegang dadanya seolah-olah menahan kesakitan.
"Hei kamu kenapa?" Tanya dokter Rian panik.
Dokter Rian mendelik sebal melihat kelakuan aneh wanita di depannya.
"Saragmnida opa," ucap Ayunda memberikan kedua tangan nya membentuk hati.
Bukannya tersenyum cerah saat mendapatkan kata itu dari wanita cantik di depan nya, reaksi berbeda justru dokter Rian tunjukkan. Dokter Rian menghela nafas kasar, dia langsung pergi meninggalkan ruangan gadis aneh itu. Dia tak ingin berurusan dengan wanita seperti itu.
"Dasar gadis aneh, semoga dia secepatnya pulang," guman dokter Rian kesal.
"Dokter Rian aku tidak akan berhenti berjuang," teriak Ayunda saat dokter Rian meninggalkan ruangannya.
"Dasar cewek aneh," guman dokter Rian geleng-geleng kepala tetapi dalam hati terdapat perasaan yang hangat, entahlah dokter Rian tidak bisa ungkapkan.
****
Sedangkan Abraham tengah berbahagia, dia sedang berada di ruangan bercat putih sambil menatap layar kecil dengan senyum mengembang.
"Tuan.... Anda bisa lihat di sini ada satu kantong bayi, tetapi ukurannya masih kecil seperti kacang," kata dokter Esta kepada Abraham.
Arin berkaca-kaca, sedangkan Abraham terlihat senang meskipun tak begitu antusias. Ya Abraham pikir dia akan di karuniai anak kembar lagi.
"Kenapa tuan apa ada yang salah?" Tanya dokter Esta saat tahu Abraham tidak semangat seperti tadi.
'Apa ada yang salah? kenapa dia tidak begitu senang dengan kehamilan ku,' batin Arin binggung.
"Tidak dok, hanya saja saya kira bayi kita kembar lagi," lirih Abraham.
"Sayang..." Arin menatap Abraham dengan tanda tanya.
B E R S A M B U N G....