Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 184


"Abrian...."


"Kenapa kamu tidak sopan begitu, papa tidak mengajarkan kamu bersifat kurang sopan di rumah orang apalagi kita sedang bertamu," kata Abraham dengan tegas mendidik anaknya.


Abraham begitu kaget melihat perangai anak laki-laki nya itu.


"Maaf ...." Jawab bocah laki-laki itu tertunduk lesu.


Abraham menghela nafas kasar, mencoba menenangkan hati nya.


"Ada apa boy?" Tanya Abraham dengan hati-hati karena melihat sang anak sedang mengatur nafasnya.


Hos hos hos hos hos hos....


Abrian berjongkok sebentar...


"Om dokter ada di sini? Dari tadi Abrian cariin ke mana-mana?" Kata bocah kecil itu cemberut bercampur kesal.


Sedangkan dokter Rian melotot di buatnya.


'Ha... Ngapain nih bocil nyari aku, kok perasaan ku tiba-tiba tidak enak ya,' guman dokter Rian di dalam hati nya saat ini.


"Abrian sedang mencari om dokter, pa ....! Abrian ingin meminta kejelasan," katanya memberengut kesal.


"Kejelasan," guman dokter Rian dengan kening mengkerut tanda tak mengerti dengan maksud perkataan Abrian saat ini.


"Kejelasan apa?" Abraham sungguh tak mengerti maksud anaknya itu.


Dokter Rian dan Abraham keduanya saling melirik, keduanya saling berkomunikasi melalui tatapan. Dokter Rian mungkin sedang bertanya apa yang terjadi dengan Abrian sedangkan Abraham hanya mendelikkan bahu nya tanda dia juga tak mengerti.


"Kejelasan kalau sudah besar nanti adik Kayla harus jadi pengantinku," kata Abrian berapi-api.


Abraham mengelengkan kepalanya mendengar ucapan dari anaknya laki-laki nya itu sedangkan dokter Rian justru melongo di buatnya.


"Bagaimana om dokter setuju kan?" Kata Abrian dengan percaya diri.


"Tidakkkkk...." Jawab dokter Rian dengan cepat tatapan mata nya melirik ke arah Abraham dan Abrian.


Glekkkk....


'Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kenapa nih anak singa ngebet banget dengan putri ku,' batin dokter Rian.


Tiba-tiba nyalinya ciut saat melihat tatapan tajam dari Abraham.


Abrian melotot namun tak lama dia mendengus menatap kesal ke arah dokter Rian.


"Bagaimana kalau ku suruh papa cabut semua saham yang ada di perusahaan milik om," kata Abrian mengancam dokter Rian jangan lupakan tatapan miring.


Mendengar ucapan dari bocah kecil itu membuat dokter Rian mengeram kesal.


'Bisa-bisanya bocah kecil ini mengancam ku. Ck sungguh menyebalkan bapak sama anak sama saja,' batin dokter Rian mendengus kesal.


Sedangkan Abraham kaget mendengar ucapan sang anak, bagaimana anak sekecil itu paham tentang saham di perusahaan namun sudut bibir Abraham terangkat, dia tak menyangka anaknya bisa berfikir demikian. Maka dari itu Abraham memilih duduk santai melihat pembicaraan keduanya, Abraham ingin melihat bagaimana anaknya menghadapi dokter Rian.


Dokter Rian kesal saat melirik Abraham sekilas, ternyata Abraham hanya diam menyimak saja.


Berkali-kali dokter Rian melirik Abraham seolah meminta tolong namun Abraham nampak cuek.


"Bagaimana om, cepat kata kan keputusan om. Tenang saja kalau adik Kayla nanti menikah dengan ku bisa dipastikan dia tidak akan kekurangan uang secara papa punya banyak perusahaan," kata Abrian justru membuat Abraham tersenyum bangga.


'Ternyata anak ini begitu pintar, iya pintar mengancam. Benar-benar keturunan Abraham,' batin dokter Rian.


'He he he he he he he, aku ingin lihat bagaimana cara kamu mengatasi anak ku,' guman Abraham di dalam hati nya saat ini.


"Masa anak om harus nikah sama kamu, yang mukanya datar seperti tripleks nanti kasihan anak ku dong," ceplos dokter Rian langsung menutup mulutnya dengan cepat.


Abrian melotot mendengar itu, wajahnya langsung datar tak kesal bercampur sinis.


Bruakkk.....


Bocah kecil itu langsung berjalan keluar tanpa sepatah kata dan menutup pintu dengan begitu keras.


"Eh kenapa tuh anak? Apa aku salah bicara?" Tanya dokter Rian binggung.


"Biar nanti aku yang bicara?" Kata Abraham singkat.


Namun tersirat rasa cemas di hatinya saat ini.


Sedangkan di bawah, tepatnya di ruang tamu.


"Oh ya mana Abrian?" Kata Arin saat tak melihat anak laki-laki nya.


"Eh...." Istri dokter Rian ikut melihat sekeliling ruang tamu takutnya bocah kecil itu bersembunyi di belakang sofa.


"Kak Abrian tadi bilang ke Aurel kalau dia mau pergi ke toilet," kata Aurel.


Aurel begitu gemas sedari tadi dia tak berhenti mencium gemas bayi cantik itu yang menggeliat karena tidurnya terusik.


"Oh syukurlah, mama kira tuh anak keluar," kata Arin terdengar lega.


Tap tap tap tap tap tap tap tap tap.....


Dengan cepat Abrian berjalan menuju ke arah mama dan adiknya berada saat ini.


"Ayo ma, pulang?" Ajak Abrian tanpa basa-basi.


"Lho kenapa sayang, kok kamu cepat minta pulang," tanya Arin saat melihat raut wajah sang anak yang sulit di artikan.


Abrian memilih diam, dia dengan cepat mencium tangan istri dari dokter Rian itu untuk berpamitan.


...----------...


Sedangkan di ruang kerja....


Abraham menatap tajam ke arah dokter Rian.


"Eitsss tunggu jangan tatap aku seperti itu," kata dokter Rian kepada Abraham.


"Haruskan aku tersenyum manis ha ......! Kenapa kamu bicara begitu kepada anakku , harusnya kamu jawab iya. Dengan begitu anak ku tidak akan kesal seperti tadi," ketus Abraham dengan suara yang sudah naik.


"Ya Itukan hak ku, mau anakku nanti menikah dengan siapa pun kan hak ku. Aku takut nanti kalau Kayla sudah besar terus dia suka dengan laki-laki lain, bagaimana? Kan kasihan Kayla pasti sedih tidak bisa memilih pendamping hidup nya sendiri," balas dokter Rian berfikir sebagai ayah yang baik untuk Putri nya nanti.


"Ck tetap saja...." Abraham di buat kesal.


'Apa aku keterlaluan ya,' batin dokter Rian saat ini sedikit merasa bersalah, apalagi melihat tatapan kecewa di wajah bocah kecil tadi.


Drrrrrtttt.... Drrrrrtttt....


Drrrrrtttt..... Drrrrrtttt....


Ponsel Abraham bergetar berkali-kali.


"Ya halo, kenapa sayang?" Tanya Abraham saat tahu yang menghubunginya adalah sang istri.


"Ayo pulang," ajak Arin.


"Pulang? kok cepat sayang, kenapa?" Tanya Abraham mengerutkan keningnya.


Sedangkan dokter Rian hanya terdiam menyimak saja, entahlah dari wajahnya terlihat kalau dia tengah memikirkan sesuatu.


"Entahlah sayang, tiba-tiba Abrian meminta pulang dengan cepat apalagi dari yang ku lihat sepertinya anak itu sedang marah, entahlah apa yang terjadi tadi karena setahu ku tadi Abrian cuma ijin ke toilet sama Aurel dan saat kembali wajahnya begitu kesal," kata Arin menjelaskan dari sudut pandang nya saat ini.


Glekkkk...


'Ha gawat kalau Arin sampai tahu kejadian sebenarnya. Secara anak kesayangan di tolak sama dokter Rian, apalagi Arin begitu menyayangi Abrian,' batin Abraham di landa kebimbangan binggung mau menjelaskan atau tidak kepada sang istri.


"Baiklah aku akan segera turun," jawab Abraham.


Tut.....


Setelah itu panggilan terputus....


Abraham pun berdiri, dia segera berjalan menuju pintu.


"Mau kemana?" Tanya dokter Rian.


Abraham tak menjawab hanya melirik saja, dia terus melanjutkan langkahnya untuk keluar dan menghampiri sang istri yang berada di ruang tamu.


Dokter Rian menggaruk kepalanya binggung saat tak mendapat jawaban dari Abraham.


B E R S A M B U N G.....