Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 61


SETELAH BACA LIKE YA


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


"Ssst kalau makan dilarang bicara sayang," kata Arin kepada putrinya sambil memasukkan makanan ke dalam mulut kecil itu.


Aurel pun mengangguk mengerti sambil mengunyah makanan.


"Aaaa ma..." Abrian pun meminta di suapi oleh Arin.


Sedangkan Abraham terlihat begitu menikmati pemandangan di depannya. Iya tersenyum, dirinya bersyukur setelah pertemuan dengan Arin kini hidupnya terasa lebih berwarna dan tidak seperti hidupnya terdahulu yang di isi dengan bekerja dan bekerja.


"Sayang...." Kata Abraham membuat ke tiga orang di depannya menoleh ke arah dirinya.


"Ha ha ha ha ha pasti papa minta di suapi mama juga kan," ucap Abrian membuat Arin mendelik.


Abraham mengeleng tersenyum. Abraham mengambil makanan di sendok dan mengarahkan ke Arin.


"Sayang," Abraham mendekat ke Arin.


"Aaaa....." Abraham menatap Arin yang tak kunjung membuka mulutnya.


"Buka mulut kamu, biar aku suapi kamu," pinta Abraham.


Seperti terhipnotis oleh sikap Abraham, Arin pun membuka mulutnya dengan paruh.


Abraham menyuapi Arin sesekali memasukkan makanan ke dalam mulut nya sendiri.


Mereka menikmati makanan dengan lahap.


Lima belas menit kemudian....


"Aaahh kenyang," ucap Abrian mengusap perutnya yang terlihat membuncit karena kekenyangan.


"Kalau sudah selesai bagaimana kalau kita menginap di hotel," ajak Abraham karena jarak rumah terlalu jauh, Abraham kasihan melihat kedua anaknya yang kelelahan.


"Tetapi kita semua tidak bawa baju ganti," protes Arin.


"Gampang nanti kita beli saja di butik terdekat," bujuk Abraham.


Arin pun mengangguk setuju saja.


"Hore ...." Kedua bocah itu bersorak gembira.


Mereka pun meninggalkan restoran menuju hotel terdekat.


Di tempat berbeda.....


" Kapan kita beraksi, aku sudah bosan menunggu," tanya Veli kepada laki-laki tampan di depannya.


"Sabar.... Kita tunggu sampai Abraham lengah," jawab William memandang ke arah jendela.


"Sampai kapan kita menunggu dia lengah, aku sudah tak sabar melihat Arin hancur untuk ke dua kalinya," kata Veli menyeringai jahat.


Brakkk.... Berkas yang ada di tangan William berhamburan di lantai.


Veli melotot melihat William membuang berkas itu dengan kasar penuh dengan emosi.


William menghampiri Veli dan mencengkram rahang Veli dengan kuat.


"Jangan pernah kamu sakiti Arin, kamu hanya ku suruh memisahkan Abraham dengan Arin. Jangan pernah kau sentuh Arin seujung kuku atau berfikir menyakiti dia atau ku buat hidupmu lebih sengsara," ancam Wiliam menghempaskan Veli dengan kuat.


Veli menatap nanar pria tampan di depannya, dia tak menyangka pria di depannya bisa terlihat mengerikan.


"Keluaaaaarrrr....." Teriak William dengan sorot mata penuh emosi.


Veli pun bergegas keluar dari ruangan milik William.


Setelah kepergian Veli, William mengusap wajah nya dengan kasar. Dia begitu tak rela orang lain menyakiti kekasihnya, William mengiming-imingi Veli gaji yang lumayan untuk bekerja sama memisahkan Arin dan Abraham. William juga memasukkan Veli di perusahaan nya sebagai sekertaris untuk mantau gerak-gerik wanita itu.


William pun duduk di meja kerjanya dan menundukkan kepalanya di meja, mengenang pertemuan dirinya dengan Arin.


Sedangkan di luar ruangan....


Veli menatap kesal ke arah pintu, dia tak menyangka William begitu melindungi Arin. Veli begitu kesal karena Arin begitu beruntung di kelilingi banyak lelaki tampan dan kaya, sedangkan dirinya sungguh miris.


"Sialll.... Aku ingin membunuh mu Arin, kenapa aku selalu kalah darimu," umpat Veli karena begitu membenci Arin.


"Arin aku begitu membencimu, kamu selalu saja beruntung dari ku apalagi banyak pria tampan yang mencintaimu Jo, Abraham dan Wiliam sedangkan aku.....! Aku tak akan menyerah, nikmatilah kebahagiaan mu karena sebentar lagi kamu akan kehilangan semuanya. Tunggu permainanku baru di mulai, ku pastikan kamu akan menderita dan menangis darah," sambung Veli lagi.


Veli tersenyum jahat membayangkan Arin menderita.


Tut.... Tut.... Tut... Tut...


Berkali-kali William mencoba menghubungi seseorang tetapi selalu gagal.


"**** .... Kemana dia kenapa tidak bisa di hubungi?" Kesal William bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut.....


"Halo..." Sapa seseorang dari sebrang telephon.


"Hei kemana saja kamu," bentak William karena kesal.


"Sabar bos, tadi aku sedang berada di dekat mereka jadi aku tidak bisa menjawab panggilan panggilan dari bos," jawab orang itu.


"Apa yang kamu dapat hari ini, kapan kalian bisa membawa kekasihku itu ke hadapan ku?" Tanya William menunggu kepastian dari anak buahnya.


"Maaf bos, nona Arin di jaga ketat oleh para bodyguard. Sebaiknya bos susun rencana kedua sambil menunggu para bodyguard itu lengah," saran dari anak buahnya.


William mengangguk, membenarkan usul dari anak buahnya, tidak mungkin menunggu Abraham lengah karena William tahu bagaimana sifat dari Abraham.


"Kalian ikuti kemanapun Arin pergi, akan ku cari cara yang membuat Arin meninggalkan Abraham dengan sendirinya, sehingga kita bebas menculiknya," perintah William.


"Siap bos..." Jawab orang itu dengan patuh.


Tut ..... Setelah itu William menutup sambungan telepon itu secara sepihak.


William terdiam berfikir, tiba-tiba terlintas ide yang sangat bagus untuk membuat Arin berpaling kepada nya dan membenci Abraham.


"Ha ha ha ha ha ha.... Tunggu aku datang menjemput mu sayang," kata William dengan tawa jahatnya.


***


Di sebuah hotel mewah, Abraham memesan kamar yang begitu besar dengan tambahan tempat tidur untuk kedua anaknya.


Di dalam kamar....


"Hoaaam...." Aurel menguap untuk kesekian kalinya.


"Kalian mandi dulu atau mau berenang di sana," tunjuk Abraham ke arah keluar terdapat kolam renang berukuran kecil.


Kedua mata bocah itu berbinar senang.


"Boleh pa?" Tanya Abrian.


Abraham pun mengangguk tersenyum, Abraham memperbolehkan kedua anaknya untuk bermain air.


"Horeeee...." teriak kedua bocah berjingkrak-jingkrak sambil tertawa senang.


"Biar nanti mama yang temani kalian, papa telepon om Hendra dulu untuk mengantarkan baju ganti kita semua," kata Abraham.


Sepanjang perjalanan tadi mereka tak menemukan butik maupun toko pakaian yang sesuai dengan keinginan Abraham.


Arin dan kedua bocah itu pun bermain air, Arin duduk sambil mengawasi kedua bocah itu berenang.


Abraham merogoh kantong celana nya, menghubungi Hendra.


Tut.... Sambung telepon pun terhubung.


"Halo tuan....! Ada apa tuan sehingga menghubungi saya," kata Hendra terus terang.


"Kamu hubungi butik G pesankan pakaian buat ku, Arin dan kedua anakku," perintah Abraham kepada Hendra.


"Siap tuan, pakaian apa saja yang anda butuhkan?" Tanya Hendra karena dia tak tahu ukuran Arin dan kedua anaknya.


"Nanti ku kirim ukuran mereka ke ponselmu," jawab Abraham.


"Model nya seperti apa tuan," kata Hendra lagi.


Abraham menghela nafas panjang.


"Nanti kamu kirim semua model baju di butik itu ke email ku biar nanti istriku yang memilihnya," jelas Abraham.


"Baik tuan," jawab Hendra.


Tut.... Panggilan pun terputus.


B E R S A M B U N G...