Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 119


Doni dan Bimo pun ikut pamit pulang, mereka akan datang besok pagi untuk menengok Tio lagi, Doni sudah rindu dengan sang istri apalagi kalau bukan mengelus perut sang istri yang sudah mulai membuncit.


Doni juga setelah sang istri melahirkan anaknya nanti, dia akan menuruti perintah Abraham untuk mengoperasi wajahnya agar pulih seperti dulu lagi, dia tak ingin anaknya takut terlebih lagi mereka akan pindah ke rumah baru nanti setelah anak mereka lahir.


Untuk Bimo saat ini dia harus kembali ke markas, mengusut tuntas semuanya. Dia tak ingin para penyusup dan penghianat itu tertawa karena merasa menang. Bimo akan membuat mereka menderita bahkan untuk hidup pun mereka tersiksa.


Bimo sudah merencanakan semua pembalasan untuk mereka di otaknya liciknya itu, pembalasan yang akan mereka sesali.


****


Di rumah sakit saat ini hanya tinggal Rio sendiri yang menjaga saudara kembarnya itu.


Rio melirik ponsel Tio.


"Eh kepo banget nih aku pingin lihat chat dari Amanda, lihat dong Tio..." Pinta Rio memelas pasalnya dia penasaran bagaimana sahabatnya itu mengirimkan pesan ke saudara kembarnya.


"Ish gak boleh," Tio justru menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


"Dasar saudara pelit," cibir Rio merasa kesal karena tak bisa mengetahui pesan yang dikirimkan Amanda.


"Biarin," jawab Tio cuek tak menghiraukan bibir saudaranya itu yang mencebik kesal.


'Apa hubungan mereka sudah berjalan lancar ya, ah aku jadi semakin penasaran. Besok ku tanya Amanda saja," batin Rio.


Terdengar bunyi panggilan dari ponsel Rio,


Baru saja Rio memikirkan sahabatnya itu, ternyata Amanda menghubungi dirinya.


"Halo..."


Tio memicingkan matanya menatap tajam Rio yang mengangkat telepon. Tio begitu curiga kalau Amanda menghubungi Rio. Tiba-tiba rasa cemburu menjalar di hati Tio, sungguh Tio tak begitu suka melihat Amanda dekat dengan lelaki manapun bahkan dengan saudara nya sendiri.


"Siapa?" Tanya Tio mengamati gerak-gerik wajah Rio.


Rio pun menutup ponselnya dengan tangan agar Amanda tak mengetahui kalau dia sedang bersama Tio.


Rio memandang ke arah Tio dengan senyum liciknya, Rio ingin tahu bagaimana reaksi kembarannya itu.


"Mau tau aja atau mau tau banget," goda Rio menaik turunkan alisnya.


Sungguh Tio semakin kesal di buatnya, wajah Tio semakin masam. Rio sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Tio yang lucu namun dia sengaja menahan karena tak ingin membuat Amanda tahu kalau dia sedang bersama Tio.


"Halo,"


"Halo,"


Sedangkan di seberang sana Amanda menggerutu kesal, karena Rio tak menyahuti ucapannya sedari tadi.


"Nih anak ngapain aja sih, sudah diangkat tetapi diam saja," dengus Amanda kesal.


"Rio..... Kalau kamu tidak bicara, ku tutup telephon nya," kesal Amanda.


Amanda sedari tadi dilanda panik, dia ingin mencari tahu dari Rio bagaimana kabar Tio saat ini namun Amanda malah di acuhkan.


"He he he he he he he maaf ya Amanda sayang, tadi ada tukang cilok gangguin, masa aku gak mau beli cilok di paksa beli," kata Rio berbohong tak lupa melirik kembarannya yang terlihat kesal karena tanpa sengaja Rio mengatainya penjual cilok kepada Amanda.


Rio pun sengaja memanggil Amanda dengan sebutan sayang untuk membuat Tio terbakar cemburu.


Tio melotot mendengar Rio memanggil Amanda sayang, Tio semakin menatap horor Rio seakan-akan dia ingin menguliti saudaranya itu.


Merasa tak aman, Rio pun hendak beranjak dari kursinya. Dia ingin menjauh dari Tio dan tak ingin Amanda tahu dia bersama dengan Tio.


Rio berdiri melangkahkan kakinya menjauhi ranjang Tio namun baru 3 langkah Tio memberi dia ancaman.


"Berani kamu melangkahkan lagi menjauh dari ku, ku pastikan botol minuman ini melayang ke kamu. Kembali duduk di sini karena aku ingin mendengar kamu berbicara!! Tio mengancam Rio, bukan ancaman tepatnya namun perintah untuk kembali ke tempat duduknya semula.


"Fyuuu...." Rio menatap jengkel ke arah Tio.


'Padahal masih sakit, masih saja suka mengancam,' batin Rio kesal.


'Aku kerjain ah biar kejang-kejang tuh hati,' batin Rio terkekeh membayangkan saudaranya itu di bakar rasa cemburu.


Dia tak pernah menang melawan saudaranya itu, namun Tio dan Rio tak pernah bermusuhan. Rio suka menjahili saudaranya itu seperti saat ini.


"Iya... Iya, jangan melotot nanti tuh bola mata copot," cibir Rio yang kesal. Rio pun kembali duduk di dekat ranjang.


Jangan tanyakan lagi wajah Rio yang seakan tersenyum, namun senyum memanas-manasi.


"Sayang... Sayang, sekali lagi bilang begitu aku tidak mau bantu kamu ngerjain tugas lagi," ancam Amanda kesal.


"Eittttssss jangan begitu, iya iya maaf," jawab Rio meminta maaf, dia tak ingin sahabatnya itu ngambek dan bisa fatal buat tugasnya nanti.


"Eh tadi kamu bicara dengan siapa? Seperti nya aku kenal dengan suara itu?" Tanya Amanda karena tadi sempat mendengar suara namun tak begitu jelas.


"He he he he he he he he, biasa nih tukang cilok ngotot banget suruh aku beli. Apalagi mukanya nyebelin maksa begitu," jawab Rio tak lupa melirik sinis ke arah Tio.


Tio melotot karena lagi-lagi dia di samakan dengan penjual cilok.


'Untung saudara, kalau bukan sudah ku paketkan ke rumah nek Ijah di kampung,' batin Tio. Dia selalu ingat kalau Rio selalu berdebat dengan nek Ijah.


'Ah apa kabar nek Ijah sekarang,'


"Apa kamu tahu di mana Tio saat ini? Aku sedari tadi kepikiran dia, entahlah tiba-tiba perasaan ku mengatakan kalau terjadi sesuatu dengan Tio saat ini," jelas Amanda panjang lebar.


'Segitunya cinta nya ya Amanda sampai Tio sakit pun kamu merasakannya,' batin Rio.


Rio melirik ke Tio, membuat Tio mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" Tanya Tio penasaran.


'Apa aku harus kasih tahu keadaan Tio saat ini atau tidak ya?' batin Rio berperang dengan dirinya.


'Ah ku tanyakan saja sama Tio, bagaimana bagus nya,' batin Rio.


Rio mengelengkan kepalanya, dia bimbang.


"Kamu mau bicara apa, katakan saja," kata Tio.


Di sebrang sana Amanda membulatkan matanya, saat mendengar suara pria seperti suara Tio.


"Itu Tio ya?" Tanya Amanda.


Rio masih diam, sedangkan Amanda sudah menuntut jawaban di sebrang sana begitupun dengan Tio saat ini.


"Nih Amanda mencari mu, mungkin kangen," kata Rio asal, dia pun menyodorkan ponselnya kepada Tio.


Wajah Tio yang tadi datar, horor dan dingin itu berubah bersemu merah.


"He he he he he he he he...."


Rio terkekeh melihat wajah saudara itu. Rio pun beranjak meninggalkan Tio di sana, dia tak ingin membuat Tio canggung.


B E R S A M B U N G....