
Mobil yang di kemudikan Abraham akhirnya sampai juga di kediaman mewahnya. Hari sudah menunjukkan sore hari.
"Sayang, ingat ya jangan bilang apa-apa ke oma," pinta Abraham untuk kesekian kalinya, Abraham takut anaknya itu keceplosan saat berbicara dengan bunda Arin nantinya.
"Ayaiii kapten," jawab Abrian seraya tangannya diangkat bersikap hormat kepada Abraham.
"Ha ha ha ha ha ha," Abraham tergelak melihat tingkah konyol sang anak yang biasanya suka bersikap sok cool itu.
"Emmmhhh..." Arin bergumam pelan saat mendengar suara bersisik, matanya yang tadi terpejam sedikit terbuka.
"Eh mama sudah bangun," kata Abrian saat menoleh ke arah belakang.
"Iya, maaf ya mama ketiduran," jawab Arin pelan karena dia masih lemas bangun tidur.
"Ya sudah kamu turun dulu, ingat pesan papa," kata Abraham kepada sang anak.
"Iya pa, siap," jawab Abrian dengan patuh.
"Cepat mandi biar gak bau asam," kata Abraham menggoda sang anak.
"Ish mana ada, Brian meskipun gak mandi tetap wangi kok," jawab Abrian memprotes ucapan sang papa tak lupa bibirnya sudah mencebik kesal. Setelah itu dia pun turun dari mobil dengan wajah yang cemberut akibat ulah dari sang Papa.
Abrian meninggalkan mama dan papanya, dia berlari kecil menuju ke dalam mansion.
"Ayo sayang kita turun, atau kamu minta di gendong," ajak Abraham sekaligus tawaran.
"Ish malu sudah tua," tolak Arin karena takut di lihat orang atau yang lebih parahnya lagi sang bunda ataupun Tio dan Rio. Bisa-bisanya Arin akan jadi bahan ledekan mereka selama seminggu meskipun mereka tidak akan berani terang-terangan di depan nya kalau ada Abraham.
"Ish masih muda gini di bilang tua," kata Abraham menolak ucapan dari Arin dan menunjukkan otot-otot tangan nya.
"Dasar tukang pamer, ingat umur sudah mau kepala 4," ledek Arin seraya mengingatkan sang suami.
"Cih selalu saja bahas umur," kesal Abraham.
"Ha ha ha ha ha ha ha, kan itu kenyataan," jawab Arin tertawa lebar melihat wajah masam sang suami.
"Gini-gini masih banyak tuh ABG yang merayu ku," kata Abraham dengan bangga.
"Sana cari saja tuh daun lalapan yang muda, nanti aku juga akan jadi brondong yang lebih manis karena di depan ku sudah sepet," sinis Arin menatap kesal bercampur cemburu kepada sang suami.
"Awas saja kalau kamu berani, ku patahkan kaki mereka," wajah Abraham sudah memerah menahan amarah, mendengar ucapan sang istri, rasa cemburu sudah menguasai hatinya.
"Maka nya jangan mancing-mancing," jawab Arin enteng.
"Kalau sampai kamu bicara seperti itu lagi, ku hukum kamu di dalam kamar 2 hari 2 malam, aku tidak keberatan menambah adik buat Andra. Semakin banyak anak tentu akan semakin rame mansion kita," kata Abraham dengan senang hati tak keberatan, berbeda dengan Abraham justru kata-kata itu seolah ancaman untuk Arin saat ini.
'Ha gawat, jangan sampai itu terjadi bisa-bisa tulang ku remuk semua,' guman Arin di dalam hati nya.
'Aku harus cepat kabur, kalau tidak pak tua mesum ini semakin ngelantur bicaranya,' batin Arin kesekian kalinya.
Arin bergidik negeri membayangkan semuanya itu.
Arin pun dengan cepat kabur dari mobil menuju ke dalam mansion.
"Ha ha ha ha, lucu banget sih kamu," guman Abraham gemas dengan tingkat laku Arin.
Abraham pun menutup pintu mobil, dia dengan cepat melempar kunci di tangannya kepada Bimo yang sudah berdiri dengan hormat tak jauh dari nya.
"Aku ingin istirahat, kamu ke markas dan urus semuanya. Kalau ada hal yang tidak penting ku urus saja sendiri kalau penting kamu bisa menghubungi ku," perintah Abraham kepada Bimo.
"Siap tuan.." jawab Bimo menunduk patuh.
Setelah itu Bimo pergi sesuai dengan perintah tuan nya tadi.
****
Aurel sedang memilih es krim yang dia inginkan.
"Emm... Semuanya enak-enak, aku mau ambil semua saja deh," kata Aurel yang sedang memandangi deretan es krim yang terlihat begitu menggoda.
Dengan kedua tangannya, dia mengambil 8 buah es krim yang dia sukai.
Aurel yang kesusahan membawa es krim itu berjalan dengan pelan dan berhati-hati agar es krim nya tidak terjatuh di lantai.
Bruk...
Gadis kecil itu tanpa sengaja menabrak wanita yang sedang memilih-milih barang-barang yang ada di rak.
Es krim itu berjatuhan di lantai namun sebelum jatuh salah satu es krim itu tumpah mengenai baju wanita itu, membuat wanita itu melebarkan matanya karena kesal.
Wanita itu melotot, menatap tajam Aurel sedangkan Aurel hanya menunduk merasa bersalah.
"Maaf Tante," lirih Aurel ketakutan apalagi tatapan mata dari wanita itu cukup membuat Aurel takut.
"Ha apa kamu bilang," bentak wanita itu.
Tatapan mata wanita itu mengamati Aurel dari atas ke bawah.
'Ck pasti dia anak orang miskin, lihat saja pakaian miliknya begitu kusut,' sinis wanita muda itu di dalam hati.
Keributan itu di lihat beberapa pengunjung namun mereka terdiam tak ada yang berani mendekati.
"Maaf Tante, saya tidak sengaja," ulang Aurel meminta maaf untuk kedua kalinya.
Orang-orang yang melihat hanya berbisik, mereka kasihan melihat Aurel di bentak namun masih saja tidak ada yang menolongnya.
"Dasar miskin, apa kamu bilang dengan maaf baju saya bisa bersih. Kamu tahu harga baju ini mahal, kamu ngerti gak sih," wanita itu masih membentak Aurel dengan keras tak lupa jari telunjuknya mendorong bahu Aurel karena kesal.
Brukk.... Aurel pun terjatuh.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, huaaa om tiooooo...." Aurel menangis kencang memanggil nama Tio karena dia sudah sangat ketakutan.
Tio yang sedang asyik berbalas chat dan menunggu di dekat meja kasir langsung terperanjat kaget mendengar tangisan kecil, tangisan yang begitu familiar di telinga nya.
"Ha Aurel...."
Tio pun berlari menuju ke sumber suara itu.
Wanita itu masih berkacak pinggang menatap sengit Aurel.
"Kamu panggil tuh orang tua kamu, biar mereka tahu kelakuan anaknya yang nakal sudah mengotori baju mahal ku ini," tantang wanita itu dengan gaya sombongnya.
"Heiii jaga mulut kamu..." Tio melotot menatap tajam wanita cantik itu.
Wanita itu menoleh saat mendengar ada suara laki-laki di belakang nya saat ini.
'Ha siapa tuh cowok? Keren banget sih mana cakep lagi, apalagi pakaian, jam dan sepatunya terlihat mahal. Hi hi hi hi hi hi, aku harus bisa gaet nih cowok,' batin wanita itu sambil menatap Tio tak berkedip.
"Hai ganteng, ngapain kamu bela gadis kecil ini. Dia sudah mengotori baju ku," kata wanita dengan gaya manja, wanita itu juga menunjukkan bajunya yang terkena noda es krim tadi.
Tio diam tak menanggapi, dia hanya memutar bola matanya malas.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, om Tio," Aurel langsung berdiri dan berlari menuju ke arah Tio.
"Ha.... Om Tio?" Wanita itu kaget mendengar ucapan Aurel yang mengatakan om kepada pria tampan di depan nya.
B E R S A M B U N G...