Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 143


Semua pun kembali ke vila untuk mandi dan istirahat.


Malam hari tiba...


Semua berkumpul di taman belakang, di sana sudah tersedia berbagai macam mulai dari ikan, daging ayam, daging sapi dan sosis. Tak lupa tempat duduk yang di susun rapi. Terdapat meja besar yang sudah di penuhi berbagai macam kue tak lupa jus jeruk, air putih, kopi maupun teh hangat untuk menemani acara barbeque malam ini.


Ada Bram yang bertugas sebagai koki malam ini. Abraham sengaja menyuruh dirinya.


"Wah aku mau ayam sama sosis ya," pinta Tio yang sudah berada di sana..


"Maaf mas Tio apa tidak sebaiknya anda tunggu tuan Abraham dulu," pinta Bram takut tuannya akan marah.


Tio mendelik "Kalau menunggu kak Arin dan kak Abraham bisa kemalaman nanti," guman Tio namun masih bisa di dengar oleh Amanda karena Amanda berdiri di samping nya saat ini.


"Memang kenapa mereka?" Tanya Amanda penasaran.


"Ck kamu belum tahu aja kalau kalau kak Abraham sangat posesif apalagi setelah kak Arin melahirkan baby Andra," bisik Tio agar bodyguard di sekitar mereka tidak mendengar ucapan nya itu.


"Kenapa? Apa tuan Abraham tidak memperbolehkan kak Arin keluar untuk berkumpul bersama dan harus di kamar saja menjaga baby Andra," Amanda masih penasaran, dia pun menerka-nerka jawabannya sendiri.


"Ha ha ha ha ha itu sih hampir saja benar sayang," jawab Tio.


"Kak Abraham lebih suka menghabiskan waktu berdua dengan kak Arin dan kamu tahu kalau sifat kak Abraham yang dingin itu bisa berubah menjadi manja hanya dengan kak Arin saja," kata Tio mengungkapkan penilaian nya saat ini.


"He he he he he he, lucu kan," Tio terkekeh sendiri.


"Jangan suka meledek karena kamu juga seperti itu," sindir Amanda kepada Tio.


Tawa Tio berhenti berganti melotot ke arah sang kekasih.


"Sudah jangan berisik," Tiba-tiba terdengar suara asing dari belakang, membuat kedua orang yang sedang berbicara santai itu menoleh.


"Rio...." guman Tio saat melihat saudaranya.


"Hello brother..." kata Rio dengan senyum jahilnya.


"Hai Rio, wah sudah siap nih buat go publik," ledek Amanda saat Rio mengandeng tangan wanita cantik di samping nya itu.


"Wah parah Lo, aku sebagai saudara baru tahu," Tio mendekat ke arah Rio, kedua nya pun berpelukan layaknya saudara yang jarang bertemu untuk melepas kangen.


"Hai kak," Amanda pun tak mau kalau dari dua lelaki itu, dia pun memeluk saudara sepupunya yang tak lain kekasih Rio.


Rio pun melepas pelukannya, dia menarik tangan sang kekasih dan memperkenalkan nya ke Tio.


"Nih kenalin Viola Renata," kata Rio memperkenalkan sang kekasih kepada saudaranya.


"Hai kak nama ku Viola Renata, terserah kakak Tio mau panggil apa. Vio atau Renata pun boleh!" Renata menangkup tangannya di dada sebagai tanda perkenalan.


"Tio," jawab Tio.


'Wah ternyata meskipun kembar mereka punya gaya yang berbeda,' batin Renata baru pertama kali bertemu dengan Tio.


"Amanda, ajak tuh Renata buat milih," tunjuk Tio ke arah berbagai hidangan yang ada di sana dan siap untuk di panggang.


"Ayo...." Amanda menarik tangan Renata.


Setelah kedua wanita cantik itu pergi....


Tio menatap Rio dengan tatapan tajam seolah menyiratkan berbagai macam pertanyaan.


"Pantas kamu di suruh tinggal di tempat kak Abraham selalu menolak, ternyata kamu ingin bebas ketemu tuh cewek," sindir Tio ke saudara nya itu.


"He he he he he he he, tahu saja," jawab Rio cengengesan.


Tio mendelik, tangannya dengan cepat memukul pundak sang kembaran "Dasar...."


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Tak berselang lama muncullah Abraham dan Arin, sedangkan untuk baby Andra sudah tidur di dalam kamar si kembar bersama pengasuhnya.


"Eh kak Abraham," jawab Tio cengengesan.


"Bunda mana kak?" Tanya Rio yang tak melihat sang bunda di dekat mereka.


"Bunda di kamar lagi nemenin Aurel sama Abrian," jawab Arin.


Setelah itu Arin dan Abraham pun duduk di kursi yang di sediakan.


"Eh kapan kamu datang?" Tanya Arin menatap sang adik penuh selidik.


"He he he he baru saja kak," jawab Rio menutupi rasa gugupnya karena dia lupa meminta ijin kepada Arin untuk datang bersama kekasihnya.


"Kak, tuh Rio datang sama pacarnya jadi dia nyari bunda buat di kenalin," celetuk Tio mulutnya tanpa di rem.


"Ha benar tuh Rio? Mana-mana?" Tanya Arin dengan semangat ingin melihat bagaimana rupa gadis yang sudah membuat adiknya jarang di rumah nya.


"Tuh lagi di sana," tunjuk Tio ke arah dua wanita yang sedang memilih apa yang akan di bakar nanti.


Di meja besar itu semua sudah tersedia, tinggal memilih dan menyerahkan nya ke koki yang sudah Abraham pekerjakan.


"Ck kamu tuh harusnya suruh dia menghadap kakak dulu, kakak kan juga ingin dekat dengan calon adik ipar juga," sinis Arin menatap kesal kepada sang adik.


"He he he he he he, maaf ya kak. Renata sibuk ngurus skripsi nya jadi dari kemarin ku ajak ke sini selalu menolak," jelas Rio memberi alasan.


"Iya kakak ngerti kok, jadi kapan kamu mau melamar dia, atau kalian bertunangan dulu seperti Tio dan Amanda?" Tanya Arin kepada Rio.


"Masih lama kak, nanti saja karena kami berdua ingin berkarir dulu," jelas Rio.


Arin pun mengangguk, mengerti keinginan sang adik.


Sedangkan kedua wanita cantik tadi masih memilih mana yang akan mereka makan.


"Em ini terlihat lezat," kata Amanda mengambil cumi, sosis , ayam untuk di taruh di piring nya.


Sedangkan Renata memindai vila itu dengan rasa kagum. Beberapa bodyguard mengelilingi mereka, Doni dan Bimo pun duduk tak jauh dari sana memantau.


'Sekaya apa ya keluarga mereka,' batin nya kagum apalagi melihat banyaknya bodyguard yang berjaga di sini.


"Eh ayo kamu pilih, kasihan mereka lama menunggu," kata Amanda membuyarkan lamunan Renata.


"Eh iya," Renata pun memilih ayam dan sosis.


"Lho cuma itu saja?" Tanya Amanda melihat ke arah piring Renata.


"Hmm..." Renata mengangguk.


"Terus Rio bagaimana?" Tanya Amanda lagi.


"Eh iya ya, lupa," jawab Renata.


Setelah itu Renata mengambil makanan sesuai selera Rio.


Setelah itu mereka menuju ke arah meja Tio dan Rio berada.


"Maaf ya lama karena binggung milih," kata Amanda menghampiri mereka.


"Eh ada kak Arin," sapa Amanda menunduk.


Setelah itu Amanda menarik Renata duduk di antara mereka.


"Kak ini kenalkan ini Renata," Rio memperkenalkan sang kekasih kepada kakak perempuan nya itu.


"Arin dan ini suami ku," jawab Arin tersenyum manis.


Renata ikut tersenyum lega, melihat keluarga Rio begitu hangat tindak menatap nya dengan aneh. Renata berfikir keluarga kaya seperti mereka takutnya pemilih dalam mencari jodoh, harus lihat dari bibit, bebet, dan bobot nya segala.


B E R S A M B U N G....