Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 88


Abraham pun memakan rujak itu dengan pelan-pelan menahan rasa pedas yang menyeruak di dalam mulutnya.


Untung saja pak nan sigap memberikan minuman dingin dengan rasa manis untuk Abraham.


Abraham bernafas lega setelah semua buah yang ada di piring itu tandas meskipun sambal itu tak bisa Abraham habiskan.


Abraham menyeka bulir-bulir keringat yang ada di dahi nya.


"Wah suamiku ini memang the best," puji Arin kepada Abraham.


"Tentu dong, suami siapa dulu?" Jawab Abraham dengan gaya sombong nya.


"Emm.... Aku lelah mas, aku ingin istirahat di kamar," lirih Arin.


"Mana hadiah ku," pinta Abraham.


"Hadiah apa?" tanya Arin binggung pasalnya dia tak menjanjikan apapun untuk sang suami.


Abraham menunjuk bibirnya kepada Arin.


"Apa sih mas jangan main tebak-tebakan," kata Arin.


Cup.... Abraham mencium bibir Arin membuat Arin malu pasalnya di sana masih ada orang.


"Ishhh mas malu," kata Arin.


Mereka yang berada di sana pura-pura tak melihat setelah mendapat tatapan tajam dari Abraham.


"Aku istirahat dulu ya sayang," pamit Arin, Abraham mengangguk.


Saat Arin hendak berjalan tiba-tiba di kejutkan dengan suara nyaring memanggil dirinya.


"Kak Arin....." Teriak Tio membuat Arin menoleh.


Tio pun berlari memeluk Arin, namun baru saja sampai di depan nya. Abraham menghalangi Tio memeluk sang kakak.


"Dasar posesif," cibir Tio membuat Abraham mendelik tajam.


"Bunda," Arin pun memeluk sang bunda dan mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Selamat ya kak, akhirnya ponakan ku bertambah juga," kata Rio membuat semuanya bahagia.


Sedangkan Tio memilih duduk berjauhan dengan Arin, Tio baru ingat kejadian yang menimpanya saat sang kakak hamil.


"Kak Abrian ada Oma," teriak Aurel dengan lantang supaya sang kakak mendengarnya.


"Ha Oma datang," Abrian pun berlari dari ruang bermain ke arah ruang tamu di mana sang Oma berada.


Si kembar pun begitu senang saat melihat Oma dan pamannya datang.


"Oma...." Teriak Aurel dengan heboh.


"Om Tio gendong aku," teriak Abrian.


Tio pun geleng-geleng mendengar permintaan bocah laki-laki itu.


Keduanya pun langsung bergelayut manja di pangkuan Tio dan Oma nya sedangkan Rio masih sibuk dengan ponsel nya.


"Oma Aurel kangen Oma," kata Aurel memeluk Oma nya.


"Oma juga kangen,"


"Oma gak kangen sama Abrian," tanya Abrian.


"Tentu dong, Oma kangen kedua cucu Oma ini yang cantik dan tampan," kata bunda mencium kening keduanya.


Abrian pun memilih duduk di pangkuan Tio.


"Oma Oma sebentar lagi Aurel punya adik bayi loh," kata Aurel dengan nada senang bergelayut manja memeluk lengan Oma nya dengan berbinar menceritakan tentang adiknya nanti.


"Oh ya, wah cucu Oma nambah lagi," jawab bunda Arin dengan antusias.


"Iya Oma, tetapi yang paling Oma sayang harus Aurel saja ya," pinta anak kecil itu dengan cemberut.


Semua orang di sana tergelak mendengar bibir mungil itu mengerucutkan bibirnya.


Abraham tersenyum mengeleng kan kepalanya mendengar ucapan dari putrinya itu, belum lahir saja Aurel sudah cemburu apalagi kalau nanti adiknya sudah lahir.


"Bunda ayo kita ke kamar, pasti bunda lelah," ajak Arin. Bunda pun mengangguk.


Si kembar pun mengikuti Oma nya itu ke dalam kamar, mereka ingin bermanja-manja dengan sang Oma.


Di ruang tamu....


"Kak Abraham bagaimana enak tidak ngidam nya kak Arin," kata Tio kepada Abraham dengan suara pelan.


"Iya kak bagaimana, cerita dong," pinta Rio yang ikut penasaran.


"Pasti seru ya," tanya Tio menaik turunkan alisnya.


Abraham memicingkan matanya saat mendengar perkataan kedua saudara Arin itu kepada nya.


'Apa jangan-jangan mereka berdua tahu apa yang ku alami kemarin ya,' batin Abraham.


Abraham memicingkan matanya ke arah keduanya, Abraham curiga mereka berdua di beritahu oleh Bimo dan Doni hanya mereka berdua saja yang tahu mengenai hal itu


"Ha ha ha ha ha jangan salah paham kak, aku tidak tahu apa yang terjadi kepada kak Abraham tetapi dulu kita juga mengalami hal aneh saat kak Arin ngidam," jelas Tio seakan tahu isi pikiran Abraham.


Rio terdiam mengingat semuanya.


"Hmm.... Tidak aneh sih cuma kakak di suruh habisin rujak sama jus buatannya," jelas Abraham.


Mendengar itu Tio dan Rio pun mual bersamaan.


"Hueek...." jawab keduanya bersamaan.


"Hei kenapa ekspresi kalian begitu?" Tanyanya.


"Iyuuuuh aku tidak mau bayangin rasa jus itu pasti aneh, karena kita dulu pernah ngerasain," jelas Rio diangguki oleh Tio.


Abraham pun mengerti alasan kedua nya bertanya seperti itu.


"Itu sih mending kak," sela Tio.


"Iya kita pernah ngalamin yang lebih parah," jelas Rio.


"Ho'oh...." Rio membenarkan ucapan Tio.


Abraham semakin di buat penasaran, karena dulu saat hamil si kembar, dia tak ada di sisi Arin untuk membantunya.


"Hei kamu tidak ingat Tio, wajahku pernah di dandani kak Arin seperti badut terus aku di suruh keliling komplek," jelas Rio.


"Ha ha ha ha ha ha, aku ingat itu. Untung saat itu aku lagi demam jadi aku berpura-pura tidur," kata Tio mengingat kelakuan Arin.


"Ha ...." Abraham kaget mendengar cerita keduanya.


'Apakah nasibku akan sama dengan mereka nanti,' batin Abraham cemas.


"Iya tetapi aku beruntung karena kompleks perumahan itu masih dalam tahap pembangunan masih sepi, jadi aku tidak seberapa malu," kata Rio.


"Aku masih mending kak, tuh Tio pernah di buat malu sampai mogok keluar rumah 3 hari," kata Rio.


Abraham menoleh ke arah Tio meminta Tio menceritakan semua nya.


Tio menghela napas kesal.


"Ish kamu masih saja ingat yang itu, sudah jangan bahas lagi buat aku malu saja," protes Tio.


"He he he he he he he," Rio cengengesan.


"Cepat ceritakan jangan buat aku penasaran," kata Abraham.


Dengan wajah kesal Tio pun menceritakan kepada kakak iparnya itu.


"Kak Arin pernah suruh aku dandan jadi cewek terus pakai baju cewek juga....." Belum selesai Tio berbicara di potong Abraham.


"Apa yang malu, kan cuma pakai baju di rumah," tanya Abraham.


"Kak jangan potong dulu ucapan ku," kesal Tio.


"He he he he maaf," Abraham pun minta maaf.


"Lanjutkan," pintanya.


"Masih mending kalau di rumah, nah ini aku di ajak jalan-jalan ke mal, untung saja aku bisa pakai kaca mata dan masker jadi tidak ada yang mengenali," jawab Tio kesal.


Glek....


'Masa sampai segitunya,' batin Abraham.


Abraham pun membayangkan semua itu terjadi kepada nya. Abraham bergidik ngeri membayangkan itu.


"Pasti kak Abraham bayangin yang aneh-aneh ya," kata Rio penuh selidik saat melihat wajah Abraham yang aneh.


"Tidak," elak Abraham.


"Ya sudah cepat kalian istirahat, pasti kalian lelah," kata Abraham setelah itu dia meninggalkan keduanya.


B E R S A M B U N G....