
"Ha ha ha ha ha," Tio tertawa namun tawa itu begitu mengerikan.
Sreekkk....
Seseorang menarik kursi kayu untuk Tio duduki saat ini, Tio pun menatap tajam ke arah tuan Lee yang masih kebingungan.
Tio duduk menyilangkan kakinya, tangan nya dengan lincah memutar-mutar pisau kecil yang dia keluarkan dari saku celananya tadi. Wajahnya menyeringai lebar merencanakan hal licik untuk membuat tuan Lee membuka mulutnya, senyum Tio itu terlihat begitu mengerikan bagi tuan Lee.
Gleek
Tenggorokan tuan Lee langsung kering di buatnya. Nyali tuan Lee langsung menciut di buatnya. Bulir-bulir keringat dingin memenuhi keningnya. Tuan Lee yang berusaha mundur menjauh dari Tio karena ketakutan.
"Aaaa..." Tuan Lee menjerit saat kakinya di paksa di tarik 2 orang.
"Mau apa kaliaaaan,"
"Lepaskan aku...."
Tuan Lee meraung, meronta bahkan berteriak seperti orang gila.
Tiba-tiba seseorang memukul tengkuknya yang cepat membuat tuan Lee langsung pingsan.
"Hei kenapa kamu buat dia pingsan?" Tanya Tio menatap blue dengan tajam.
"Maaf bos Tio, telingaku sakit mendengar dia berteriak kencang," jawab nyeleneh dari blue membuat Tio mengelengkan kepalanya.
"Kan tidak seru kalau tidak perlawanan," dengus black menatap kesal ke arah blue.
"Sudah jangan ribut, cepat kalian urusi dia ," perintah Tio menunjuk ke arah tuan Lee yang sudah pingsan.
"Aku haus, kalian urus dulu," Tio beranjak dari tempat duduknya.
"Siap bos," semuanya menunduk hormat.
Setelah itu Tio melangkahkan kakinya menjauh dari sana.
"Ck kebiasaan bos," kata Gre.
"Sudah jangan bawel," Blo menatap Gre dengan tajam.
Diantara semuanya Blo paling irit bicara namun dia adalah petarung yang hebat dan kejam, tak ada yang berani menyinggung nya. Blo juga termasuk orang kepercayaan Tio.
Gre langsung terdiam.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Joe justru tertawa melihat Gre dan black yang sudah tak sabar.
"Ayo cepat kita ikat dia di rantai, jangan lupa kalian bawa pisau buat menakut-nakuti pak tua itu. Ha ha ha ha ha ha ha.... Pasti wajahnya langsung pucat melihat aksi kita nanti," Blue tertawa senang membayangkan wajah pucat dari tuan Lee nanti.
"Iya pasti dia akan kencing di celana, iuuuuhhhh membayangkannya saja membuat ku jijik," sahut black bergidik ngeri sendiri.
Kini tuan Lee sudah tergantung di sana dengan rantai tadi yang di bawa Tio, namun kaki nya di atas sedangkan kepalanya berada di bawah.
Joe menggoyang-goyangkan tubuh tuan Lee terombang-ambing. Dia seperti melihat mainan ayunan.
"Ck dasar masa kecil kurang bahagia," cibir black menatap ke arah Joe namun Joe justru cuek tak menanggapi ucapan dari black itu.
*****
Sedangkan di kantor Abraham.
Wanita cantik dengan senyum begitu menawan membuat siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati di buatnya. Wanita itu sudah berada di depan ruangan milik Abraham, tanpa mengetuk pintu wanita itu langsung mendorong pintu ruangan dengan keras.
Abraham mendengar pintu terbuka pun mendongak menatap siapa yang berani menganggu dirinya bekerja.
"Siapa yang...." Perkataan Abraham terhenti kala melihat wanita cantik itu.
"Sayang kenapa kamu tidak memberitahukan kalau mau ke sini?" Tanya Abraham, dia langsung berdiri menyambut kedatangan istri tercintanya.
"Aku hanya mampir karena aku kangen dengan suami tampan ku ini," jawab Arin langsung mendaratkan kecupan di pipi Abraham.
Abraham langsung merengkuh tubuh Arin ke dalam pelukannya.
"Anak-anak mana?" Tanya Abraham yang tak melihat anaknya maupun pengasuhnya.
"Aurel dan Abrian kan sedang sekolah, sedangkan Andra sering rewel kalau diajak ke toko. Tuh anak lagi aktif nya merangkak jadi lebih suka di rumah," jelas Arin.
"Kenapa hari ini kamu cantik sekali," protes Abraham yang tak terima melihat istrinya begitu cantik dan masih terlihat muda.
"Istri tuan Abraham kan harus terlihat cantik kapanpun dimanapun," jawab Arin membelai lembut wajah sang suami.
"Ck tetapi aku tidak suka, apalagi kalau kita jalan berdua pasti ada yang bilang kalau kita kakak beradik, atau lebih parah lagi mereka sebut aku Sugar Daddy kamu," jelas Abraham menumpahkan rasa kesalnya mengingat beberapa orang kasak-kusuk membicarakan dirinya di belakang.
"Ha ha ha ha ha ha, punya uang banyak jangan kerja terus sekali-kali gunakan untuk merawat wajah biar tidak kelihatan tua," cibir Arin karena sang suami adalah orang yang gila kerja.
"Ha, kamu bilang aku tua," Abraham melotot ke arah Arin.
"Mana ada tua, aku ini Hot Daddy," protes Abraham yang tak mau di katakan tua oleh istrinya.
****
Kembali ke markas di mana Tio berada.
Tio memasukkan ponselnya setelah dia mengirim pesan kepada sang kekasih, Tio sudah meminta salah satu supir kepercayaan nya untuk mengantar sang kekasih nanti pulang.
Tio meminta maaf karena dia harus pergi karena ada urusan penting dan tidak bisa di wakilkan. Itu hanya alasan Tio karena tak mungkin Tio memberitahu yang sebenarnya kepada sang kekasih, bisa-bisa Amanda di buat kaget dengan dunia Tio saat ini, atau yang paling buruk justru Amanda akan menghindari dia karena ketakutan.
Namun sebisa mungkin Tio harus berhati-hati agar tidak ada yang tahu termasuk keluarganya, dia harus bermain cantik seperti Abraham sang kakak ipar.
"It's time to play around," kata Tio menyeringai lebar.
Tap tap tap tap tap....
Langkah kaki menggema di seluruh lorong.
Ceklek....
Tio menatap lurus ke arah tuan Lee.
Menyadari Tio sudah kembali, tuan Lee yang sudah sadar pun meraung meminta di lepaskan.
"Tolong lepaskan aku," tuan Lee begitu putus asa.
Namun bukannya iba, justru Tio mengeluarkan pisau lipat yang sedari tadi ada di kantong celananya.
"Let's go," perintah Tio.
Tuan Lee semakin ketakutan.
Mendengar ucapan yang tak lain perintah dari bos mereka. Blue, Blo pun bergerak cepat, keduanya memutar tubuh tuan Lee dengan cepat membuat tuan Lee pusing dan tubuhnya terasa mual.
Tio mendekatkan pisau itu ke pipi tuan Lee.
"Bagaimana kalau benda ini melukis wajahmu?" Tanya Tio seolah menantang.
"To-long le-paskan aku," tuan Lee mengiba ketakutan.
"Ha ha ha ha ha ha, kenapa kamu ketakutan? Harusnya kamu senang karena aku telah berbaik hati membuat wajah mu semakin tampan," Tio tersenyum miring.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, tolong lepaskan aku," tuan Lee sudah gemetar ketakutan.
"Tidak semudah itu," kata Tio memutari tubuh tuan Lee.
"Gre ambilkan pisau yang lebih tajam dan lebih besar, aku sudah tak sabar untuk mencincang tubuhnya dan memberikannya kepada Lea," perintah Tio.
"Siap Lea?" tuan Lee masih sempat-sempatnya bertanya.
"Ha ha ha ha ha ha, ternyata kamu sudah tak sabar bertemu dengan Lea! Hmm... Ok kamu kamu penasaran," Tio menertawakan kebodohan lelaki di depan nya.
"Blue nyalakan tv itu biar pak tua ini melihat kesayangan ku," perintah Tio.
Blue dengan senang hati menyalakan layar lebar itu yang terhubung dengan kamar milik Lea.
Pak Lee melotot, ternyata yang di maksud Lea adalah seekor harimau yang sedang mondar-mandir di dalam kandang nya.
"Iya aku akan mengatakan siapa yang menyuruhku menawarkan kerjasama palsu," akhirnya pria itu buka suara meskipun harus dengan cara ini.
"Cepat katakan," bentak Tio yang sudah tak sabar.
B E R S A M B U N G....