
"Sayang kenapa kamu belain dia terus," protes Abraham yang tak terima kalau istri tercinta nya itu membela Doni.
"Aku tidak belain dia kok, cuma menjelaskan kedatangan Doni kesini, kan tadi kita sebelum masuk kamar bilang ke bang Doni minta di antar ke pantai jam 3 dan ini sudah jam 3 lebih," jelas Arin panjang lebar, dia tak ingin sang suami merajuk manja seperti putrinya.
"Apa benar? Aku kira kamu suka sama dia," tunjuk Abraham ke arah Doni.
'Untung untung tuanku kalau tidak udah aku ketok tuh kepala,' Batin Doni menahan kesal.
"He he he he, ada-ada saja sayang. Mana mungkin aku melirik pria lain kalau ada lelaki tampan yang selalu setia di sisi ku," kata Arin mengerling genit ke arah sang suami.
'Aduh dari tadi dengar orang menggombal dan lihat orang bucin buat ku eneg,' guman Doni menahan rasa kesal bercampur jenuh.
"Benar?" Tanya Abraham menyakinkan ucapan sang istri.
Cup...
Arin kaget saat Pipi nya mendapat serangan dadakan.
Arin melotot, dia memberi kode agar Abraham tahu kalau di sana masih ada Doni.
"Doni, kamu mau jadi nyamuk? Cepat pergi dari sini nanti ku hubungi ponsel mu saja," kata Abraham melirik sinis ke arah Doni.
Doni mendelik sebal, karena tuannya mengatakan dia nyamuk.
'Huu .... Untung dia tuan ku, majikan yang mengajiku. Apa dia tadi bilang? Aku nyamuk? Fyuuu..... Sabar sabar.....! Kalau tidak sudah ku taruh di laut biar di bawa ubur-ubur pergi dari sini,' grutu Doni di dalam hati.
"Cepat pergi Don, kamu mau jadi nyamuk benar ya?" Usir Abraham namun Doni masih terdiam.
'Sabar sabar...." guman nya menguatkan dirinya untuk bersabar meskipun rasa kesal hinggap di dalam dada.
"Iya tuan," jawab Doni patuh.
"Nanti kami akan ke bawah. Tunggu di sana saja!" Arin berucap penuh ketegasan bisa kepada Doni.
Setelah kepergian Doni, membuat Abraham tersenyum penuh kemenangan.
Cup....
Abraham melancarkan aksinya kembali namun berbeda kali ini Abraham mencium seluruh wajah sang istri gemas.
Tak lupa Abraham menghapus lipsti yang ada di bibir sang istri.
"Lho kenapa di hapus?" protes Arin saat melihat Abraham telah menghapus pewarna bibir nya.
"Buat apa pakai lipstik, apa biar mereka melirik ke kamu," Abraham melirik sinis ke Arin karena berfikir kalau Arin tak terima lipstik di bibirnya sudah hilang.
'Huu... Sabar Arin, ingat kamu lagi bersama dengan tuan arogan dan kamu juga pasti ingat kalau semua tingkah ajaibnya,' sungut Arin di dalam hati.
'Ayo Arin buat suami posesifmu ini mengerti dan tidak marah. Bisa-bisanya kita tidak akan jadi menyusul yang lain ke pantai,' guman Arin di dalam hati nya.
"He he he he he he he, aku cuma ingin tampil cantik di depan mu. Tetapi kalau kamu tidak suka ya sudah," jawab Arin tak lupa menampakkan wajah begitu sedih agar sang suami tak berfikir aneh-aneh.
"Maaf ya sayang, aku kira kamu ingin memikat brondong ataupun pria mapan lainnya. Ya.... Meskipun akan jarang melihat melihat orang tampan dan sukses sepertiku," jawab Abraham penuh percaya diri membuat Arin memutar bola matanya malas.
"Benar di sini tidak ada yang lebih tampan selain kamu," rayuan mau Arin pun sudah beraksi membuat Abraham menyunggingkan senyum nya.
"Ayo kita tutup pintunya, kita ehem... Ehemm... Yuk," ajak Abraham membuat Arin melotot.
"Sayang ini sudah jam setengah 4 kalau kita ehem dulu bisa-bisa nanti kita tidak jadi ke sana," bujuk Arin.
"Hemm..." Jawab Abraham lesu.
Setelah itu Arin pun mengandeng tangan nya untuk turun.
B E R S A M B U N G.....