
Awalnya pak Rendi begitu terkejut karena kedatangan tuan Abraham sosok pengusaha besar dan terkenal dengan kekejaman nya. Pak Rendi juga tahu bagaimana sifat Abraham dari beberapa pengusaha besar yang dia kenal. Pak Rendi sedikit salah tingkah saat berhadapan langsung apalagi Abraham juga orang yang kejam terlebih lagi kepada siapapun yang berani mengusik nya, ya Abraham terkenal juga tak akan mengampuni siapa pun lawannya.
Pak Rendi sempat berfikir kalau dia mempunyai salah dengan tuan Abraham karena tidak ada angin, tidak ada hujan atau undangan dari nya tiba-tiba Pria berkuasa itu datang ke rumah nya.
Pak Rendi sempat mendengar samar-samar mereka membicarakan hal yang aneh menurutnya " tikung", entahlah pak Rendi di buat binggung karena nya.
Pak Rendi melirik semuanya, pak Rendi menyimpulkan semua yang ada di sana adalah keluarga tuan Abraham.
'Kenapa tuan Abraham ke sini? apalagi membawa keluarganya?' batin pak Rendi.
Pak Rendi menghela nafas panjang, menormalkan kegugupannya. Dengan penuh keyakinan akhirnya pak Rendi menyapa Abraham dengan ramah.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana tuan Abraham," kata itu meluncur bebas dari mulut pak Rendi.
Semua yang berada di dalam pun keluar, pak Rangga dan istrinya melotot saat melihat Abraham duduk manis di sana.
'Mau apa tuan Abraham di sini? Kenapa tiba-tiba perasaan ku tak enak,' batin pak Rangga menatap ke arah Abraham.
'Oh itu yang di sampingnya pasti istri tuan Abraham, hmmm... Ternyata begitu cantik dan terlihat masih muda,' guman pak Rangga sedikit melirik Arin yang duduk manis di sebelah Abraham.
Istri pak Rangga mencubit pinggang nya saat melihat tatapan pak Rangga tertuju kepada wanita cantik yang duduk di dekat tuan Abraham.
Pak Rangga pun tersadar, dia menormalkan kembali wajah nya.
Melihat ketegangan yang ada di sana, akhirnya bunda berinisiatif meminta keluarga pak Rangga untuk duduk di sebrang sana.
"Pak Rangga dan keluarga bisa duduk di sini," kata bunda mengajak pasangan suami istri itu untuk duduk di kursi yang tak begitu jauh jaraknya.
Bunda bernafas lega, untung saja ruang tamu mampu menampung semua nya. Ruang tamu cukup besar dengan 2 set sofa di sisi dekat pintu dan satu sisi lagi menghadap ke kolam ikan, semua di desain bunda agar terkesan nyaman dan berada segar seperti di alam.
Abraham sedikit kesal melihat Pak Rangga menatap sang istri.
'Mau apa tua bangka itu menatap istriku, huuu kalau tidak ada urusan di sini dan menjaga wibawa ku sudah ku pastikan dia pulang dengan mata sebelah,' guman Abraham dengan kesal di dalam hati nya.
Arin pun mengengam tangan Abraham dan tersenyum manis, Abraham menoleh dan membalas senyuman sang istri.
Senyum Arin bagaikan air yang menguyur bara di dalam hati Abraham.
Sedangkan Amanda masih berada di dalam....
Mendengar suara berisik dari luar, Amanda pun mengajak Denis keluar, lagian dia juga tak nyaman berada di sana berdua saja.
"Em ayo kita ke luar?" ajak Amanda.
"Ayo," jawab Denis tersenyum manis, senyum yang bisa membuat wanita jatuh hati namun bukan Amanda.
Bukan membalas senyuman itu namun Amanda memasang wajah datar sebagai pertahanan.
'Sabar Denis, sebentar lagi Amanda akan menjadi milik kamu,' batin Denis penuh percaya diri.
Langkah Amanda terhenti, detak jantung nya pun berdegup kencang melihat sosok yang duduk manis di ruang tamu nya.
Amanda yang baru muncul pun di buat kaget, dia menutup mulutnya terkejut. Namun sudut bibirnya tersenyum bahagia melihat orang yang di cintanya ada di sana.
Amanda masih terpaku dia menatap pujaan hatinya itu dengan senyum mengembang, mata itu masih nyaman memperhatikan Tio sedari tadi, dia masih berdiri mematung membuat sang papa heran.
"Sayang, ayo duduk di sini," pinta pak Rendi menepuk tempat duduk kosong di sebelah nya.
Amanda pun tersadar saat mendengar ucapan dari pak rendi. Namun Amanda masih terdiam, bimbang. Dia tak mungkin duduk berhadapan dengan Denis saat ini, ya meskipun jarak lumayan jauh.
"Sayang sini duduk dengan bunda," perkataan bunda tiba-tiba membuat senyum Amanda mengembang.
Bunda sedang duduk di dekat Arin, dan berhadapan langsung dengan pujaan hati nya.
'Emang bunda the best lah,' batin Amanda sumringah.
Dengan senang hati, Amanda duduk di samping bunda dengan aman.
Sedangkan Denis terlihat begitu kesal melihat kedatangan Tio apalagi Amanda tersenyum manis untuk Tio, tanpa semua orang tahu Denis mengepal kuat tangan nya kuat-kuat seakan ingin meremas musuhnya.
'Si*l kenapa Tio berada di sini, padahal baru saja aku mau menyatakan suka dengan Amanda, aaahhhh,' batin Denis mengeram kesal.
"Saya tak menyangka, tuan Abraham bisa datang ke tempat saya. Ada perlu apa yang membuat anda datang ke rumah kami?" Tanya pak Rendi untuk ke dua kalinya.
"Kami datang ke sini untuk melamar putri anda?" Jawab Abraham tanpa basa-basi.
Amanda di buat kaget mendengar itu semua, sedangkan sang bunda bersyukur dalam hati. Namun setelah itu justru Amanda tersipu malu.
Pak Rangga dan keluarganya yang ada di sana di buat kaget, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Abraham.
"Ma-ksud nya bagaimana tuan?" Ulang pak Rendi sekali lagi, dia masih belum percaya apa yang di dengarnya.
"Anda tidak salah dengar," bukan nya menjawab justru Abraham membenarkan pendengaran tuan Rendi.
Tuan Rendi melotot, mata nya melirik ke arah sang putri yang tersipu malu.
'Sejak kapan putriku menjalin hubungan dengan tuan Abraham. Aduh jangan,,,,jangan sampai anak ku jadi istri ke dua,' guman pak Rendi dalam hati membayangkan sang anak jadi istri ke dua.
'Padahal istrinya tuan Abraham begitu cantik, kenapa dia masih cari istri ke dua. Memang sulit di mengerti,' batin pak Rendi.
Tiba-tiba pak Rendi bergidik ngeri membayangkan nya yang terlintas di otaknya tadi.
"Ehemmm....." Abraham berdehem melihat papa Amanda itu seolah menatap dirinya terus.
"Saya ingin melamar putri anda untuk adik saya, ini orangnya," jelas Abraham menunjuk ke arah Tio.
'Ternyata dugaan ku salah,' batin pak Rendi merasa lega.
"Tidak bisa, keluarga kita sudah sepakat untuk menjodohkan kita Amanda," teriak pak Rangga dengan lantang.
"Pak Rendi bagaimana ini, anda harus ambil keputusan karena kita sudah merencanakan perjodohan ini beberapa Minggu lalu," protes pak Rangga yang tak terima.
"Pa... Amanda ini sudah lama menjalin hubungan dengan Tio," bunda memberitahu pak Rendi agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
B E R S A M B U N G....