Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 76


Abraham berganti pakaian, dia menggunakan kaos lengan pendek yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya, dengan celana jeans panjang dan tak lupa belati kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Abraham memasang sepatu kesayangan nya dan menyelipkan belati kecil itu di sana untuk berjaga-jaga.


Abraham sengaja mendesain sepatu miliknya itu. Dunia bisnis bukanlah dunia mudah untuk nya, dia harus selalu berhati-hati dengan para pesaingnya


Abraham terlihat begitu memukau.


Mereka semua berkumpul, Doni , Bimo, Bisma, Hendra dan Abraham. Kelimanya sedang membahas strategi yang akan mereka gunakan.


"Doni, kamu lumpuhkan semua akses mereka. Aku takut dia membawa Arin kabur," perintah Abraham kepada Doni.


Doni pun mengangguk setuju.


"Bisma dan Bimo, kalian kepung dari semua penjuru, jangan sampai dia berhasil kabur," titah nya untuk Bimo dan Bisma.


"Hendra ikut aku, kita akan masuk-masuk secara diam-diam dan melumpuhkan mereka,"


"Kalian semua tunggu aba-aba dari ku dan setelah itu kalian semua bisa masuk dan menghabisi mereka sampai tak tersisa. Karena penghianat tetap akan berkhianat meskipun kita memberi mereka kesempatan ke dua," kata Abraham tegas.


Semuanya pun mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Abraham.


Semuanya pun berdiri, mengumpulkan anak buah masing-masing.


Semuanya adalah orang pilihan dalam ahli meretas , bela diri, ada penembak jitu dan lainnya. Abraham sengaja menyembunyikan semuanya agar dunia tahu bahwa Abraham hanya pengusaha biasa.


****


Sedangkan di tempat jauh dari keramaian kota.


Arin menatap makanan di depan nya dengan malas.


"Will, tolong lepaskan aku..." Lirih Arin memohon.


"Sayang apa maksudmu melepaskan, kamu tahu bagaimana sulitnya aku bisa membawamu pergi dari Abraham si*lan itu," kesal William membanting minuman yang ada di tangannya.


Pyarrrr....


Arin terdiam kaget menatap tak percaya kepada William. Sungguh Arin baru mengetahui perilaku William yang berbeda. Dulu William begitu lembut sekarang William terlihat menakutkan di mata nya.


Arin mundur selangkah dari William, dirinya merasa tak nyaman.


"Sayang jangan takut, aku tahu pasti kamu kaget, aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu ataupun menyakitimu," lirih William memandang Arin dengan sendu.


William pun mengambil koper yang tengah dia siapkan.


"Sayang gantilah bajumu, dengan yang ada di dalam koper ini,' perintah William.


Arin menatap William dengan nanar menyiratkan kekecewaan begitu mendalam.


"Hiks hiks hiks hiks hiks lepaskan aku. Aku tidak mau pergi ke mana pun, aku tak ingin berjauhan dengan Aurel dan Abrian," kata Arin dengan terisak.


"Sayang ayo cepat," bentak William kesal karena waktunya tak banyak lagi.


William menatap jam di pergelangan tangan nya dengan gusar.


Melihat Arin yang tak kunjung melakukan perintah nya membuat William geram.


"Cepat kamu ganti baju atau aku akan menculik Abrian," ancam William menyeringai kejam.


Arin menatap William tak percaya, dengan berat hati Arin pun menuruti perintah William. Arin seakan lupa kalau dia memiliki Abraham, yang ada di pikirannya hanya lah si kembar.


"Ba-ik tetapi kamu jangan lakukan apapun kepada mereka," pinta Arin memelas.


"Tentu sayangku asal kamu melakukan perintahku, cepat kamu pakai pakaian yang sudah ku siapkan karena setelah ini kita akan berangkat ke tempat yang jauuuuuuh," jawab William penuh kemenangan.


Sepuluh menit berlalu, Arin sudah siap dengan pakaian santai dan celana panjang. Mata Arin sedikit sembab membuat William menghela nafas panjang.


"Sayang jangan sedih, nanti di sana kita akan memulai kehidupan yang baru dan nanti kita buat anak-anak yang lucu seperti mereka berdua nantinya," kata William meyakinkan Arin, bukannya senang justru Arin semakin takut.


Arin memandang sekeliling, dia tak bisa berbuat apa-apa terlebih anak buah William bertampang seram tidak seperti bodyguard Abraham.


Seketika Arin teringat dengan Abraham.


'Dimana kamu sekarang suamiku? Tolong aku,' batin Arin.


William menarik tangan Arin untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Abraham sudah berada tak jauh dari sana.


"Tuan sepertinya ada pergerakan dari sana," lapor Bimo melalui sambungan telepon.


"Maksud kamu apa?" Bentak Abraham karena Bimo berkata tak jelas.


"Sepertinya William akan meninggalkan tempat itu tuan," lapor Bimo.


Dor dor dor....


Anak buah William berhambur mencari tempat bersembunyi.


Abraham menembak ban mobil William dan beberapa anak buahnya yang hendak menaiki motor.


Mobil William pun berhenti padahal baru berjalan lima 2 meter dari gudang tua itu, sedangkan di dalam mobil Arin ketakutan dia tak mengerti apa yang terjadi.


"Brengsek," umpat William kesal karena rencana melarikan diri gagal.


William mengerang kesal.


"Sayang tenang saja, tak kan ku biarkan Abraham membawamu pergi," William meraih tangan Arin dan menyeretnya meninggalkan mobil menuju ke dalam gudang.


Tanpa di duga Abraham sudah duduk dengan tenang memainkan pistol miliknya, dia menyilang kan kaki nya dengan angkuh.


"A-abraham...." William terkejut.


William pun terpaksa menodongkan pisau lipat yang dia simpan itu ke leher Arin.


"Ha ha ha ha ha ha ha.... Aku tidak akan membiarkan kekasihku kamu rebut, kalau pun aku tak bisa memiliki nya tak kan ku biarkan kau memiliknya,"


"Hiks hiks hiks hiks hiks kau sudah merebut Aruna dan sekarang kau ingin merebut kekasihku lagi,"


Abraham terdiam tak menanggapi ucapan dari William.


William seperti orang depresi, dia tertawa dan menangis dengan cepat.


Arin ketakutan, dia meminta tolong melalui tatapan kepada sang suami.


Bruk....


Doni memukul William dari belakang membuat tubuh William hilang keseimbangan, Arin pun mengambil kesempatan ini untuk melepaskan diri dari William.


Arin berlari menuju Abraham dengan cepat.


Abraham memeluk Arin dengan perasaan lega karena Arin dalam keadaan baik-baik saja.


"Bimo, Doni... Kalian antarkan nyonya kalian pulang, aku ingin bermain-main dengan William sebentar," titah Abraham.


Arin mengelengkan kepalanya menolak permintaan Abraham.


"Sayang, kamu pulang dulu. Aku ingin berbicara dengan William sebentar," bujuk Abraham.


"Tetapi kamu janji kan akan pulang dengan selamat,"


Mendengar ucapan Arin membuat Abraham terkekeh.


"Tenang saja aku pasti pulang," kata Abraham mengusap wajah Arin dengan lembut setelah itu mengecup kening Arin lama.


Arin pun pasrah, dia mengikuti Bimo dan Doni tak lupa di kawal 20 orang di belakang mereka.


Abraham tak ingin istrinya itu kenapa-kenapa.


Buk buk buk buk buk... Brak .... Pyarrrr...


Abraham memukul William membabi buta, membuat William terpental sehingga menabrak lemari kaca itu.


"Ha ha ha ha bangun kamu, mana kesombongan mu," ejek Abraham.


"Brengsek,"


Dengan sempoyongan William mencoba membalas memukul Abraham tetapi William kalah.


Brukkk... William tersungkur karena tendangan Abraham.


"Cihhh...."


"Kalian semua bereskan semuanya, jangan sampai ada yang terlewat," titah Abraham.


"Bisma kamu urus William, bawa dia ke markas kita dan kamu kasih hukuman yang membuat dia tersiksa dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri," titah Abraham.


"Dan untuk penghianat seperti Tomi, bawa dia ke markas dalam keadaan hidup dan beri tahu dia hukuman yang pantas untuk para penghianat,"


"Siap tuan," jawab semua serempak.


Abraham pun meninggalkan tempat itu dengan tersenyum licik.


B E R S A M B U N G....