
SETELAH MEMBACA TINGGALKAN JEJAK 👍 LIKE.
Wedding day......
Arin sudah selesai di make up, wajahnya terlihat cantik dengan kebaya putih.
Meskipun dengan polesan yang terlihat natural agar tak mengurangi kecantikan Arin.
Hari ini hari yang di tunggu-tunggu Abraham. Tetapi tidak dengan Arin, wajah cantik itu tampak murung.
Berkali-kali bunda menghela nafas panjang, perkataannya seakan tak di hiraukan oleh sang anak.
"Nak tersenyumlah, semua ini sudah sesuai dengan keinginan mu. Apa kurang nya tuan Abraham??" Kesal bunda.
"Arin.... " Lidahnya terasa keluh untuk berbicara.
"Arin, dengarkan bunda, kesempatan itu tidak datang dua kali. Tuan Abraham selama ini bersikap baik dan sangat menyayangi mu dan si kembar, bahkan kamu ingin pernikahan sederhana pun tuan Abraham turuti," kata bunda meyakinkan sang anak.
"Tetapi Bun....." Arin ingin protes tetapi belum selesai berbicara, bunda sudah terlebih dahulu menyela ucapan nya.
"Nak lihatlah Abrian, dia selama ini jarang akrab dengan orang lain tetapi baru beberapa detik bertemu dengan tuan Abraham, dia sudah akrab dan lengket sedangkan dengan nak William sudah mencoba mendekatinya selama ini tetapi apa? Abrian menutup hatinya. Dengarkan bunda baik-baik, anak kecil lebih peka dari yang kita bayangkan. Dia tahu mana yang tulus dan mana yang mencari keuntungan. Bunda juga suka dengan nak William tetapi bunda ingin cucu bunda bahagia dan kebahagian mereka adalah dengan ayah kandung nya. Pikirkan baik-baik sebelum semua terlambat," kata bunda mencoba membuka mata hati dan pikiran sang putri.
"Yang terlihat bagus belum tentu yang terbaik untuk kita," setelah mengucapkan kata itu bunda pergi meninggalkan Arin di ruang rias.
Bunda ingin menyadarkan anaknya kalau yang terlambat.
Sesampai nya di luar pintu kamar Arin. Bunda tertunduk lemas di kursi yang ada di meja makan.
Bunda menghela nafas panjang, andai bunda tak mengetahui semuanya pasti juga bunda akan di landa kebimbangan seperti sang anak.
#Flashback on #
Bunda menyungging senyum ramahnya hendak menyapa William.
Wiliam sedang mencoba mengajak Abrian bermain, namun berkali-kali Abrian menolak dan memilih pergi berlari meninggalkan William sendiri di halaman belakang.
"Kalau bukan karena Arin, aku tidak akan pernah mengemis dengan anak kecil," kesal William.
Deg....
Bunda kaget mendengar kata dari mulut William, pun merasakan kecewa. Bunda pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri William dan membalikkan badannya pergi secepatnya, bunda tak ingin William tahu keberadaan nya yang tak sengaja mendengar ucapan William.
William ingin pergi menuju toko kue untuk mencari keberadaan Arin, sebelum itu tak lupa William bersikap sopan dengan berpamitan kepada sang bunda.
Bunda masih bersikap seperti biasa saja untuk menutupi semuanya.
# Flashback End#
Bunda mendesah kasar setelah mengigat semua itu, berharap sang anak mengerti perasaan sang Bunda.
'Andai kamu tahu nak, bunda takut kamu menyesal ,' guman bunda di dalam hatinya.
'Kadang orang itu berbuat baik karena ada maunya, seperti William dia berusaha dekat dengan anak-anak untuk mencari simpati mu nak, andai kamu tahu itu,' batin bunda.
Sedangkan di dalam kamar, Arin masih memandang dirinya dengan riasan itu.
"Akhirnya aku menikah," lirih Arin saat memandang wajahnya di cermin.
"Harusnya ini hari bahagia ku kenapa aku tak merasakan kebahagiaan itu..... Aku dulu sempat berfikir mengira kalau orang yang menikah akan gugup, dan senyum selalu mengembang di wajahnya tetapi tidak dengan ku saat ini," guman Arin.
Tetapi bayangan kebimbangan itu hilang saat canda tawa kedua anaknya berlarian di pikirannya. "Ha ha ha ha ha ha ha ha.... " tawa Abrian berlarian mengejar Abraham dan Aurel yang tertawa di gendongan Abraham.
"Pikirkan baik-baik sebelum semua terlambat," Kata-kata bunda terngiang di telinga Arin.
"Bismillah.... Semua ini demi anak-anak, maafkan aku William, semoga kamu memukan wanita yang baik jauh di bandingkan aku yang tak sempurna ini, wanita yang masih gadis tidak seperti aku," lirih Arin menguatkan hati nya.
"Semoga ini adalah jalan terbaik yang ku pilih," harapan Arin di pernikahan ini.
Arin memantapkan tekadnya untuk memulai menerima Abraham, berharap semoga ini adalah pilihan terbaik nya.
Sedangkan di luar kamar Arin.
Bunda masih berdoa, berharap Arin memilih menikah dengan Abraham demi anak-anak mereka, meskipun bunda belum sepenuhnya percaya dengan Abraham tetapi bunda berdoa semoga Abraham adalah yang terbaik untuk putrinya.
Tap tap tap tap tap....
"Lho bunda sedang apa di luar, mana kak Arin?" tanya Rio penasaran melihat bundanya berdiri di luar.
"Kakak kamu ada di dalam, bagaimana apa acaranya akan segera di mulai?" tanya bunda di jawab anggukan sang putra.
Sedangkan di luar tepatnya di taman belakang yang sudah di sulap menjadi tempat pernikahan Arin dan Abraham, di hiasi dekorasi cantik nan megah. Meskipun Arin meminta di acara sederhana hanya akad nikah saja, tetapi Abraham menyulap tempat ini begitu mewah. Abraham mengundang beberapa teman akrab saja.
Abraham duduk dengan tegang.
"Ha ha ha ha ha baru pertama kali kali, aku lihat wajahmu sejelek ini bro," ledek dokter Rian dengan suara kecil, dokter Rian suka sekali meledek Abraham yang tak lain adalah sahabatnya.
"Dulu saat kamu menikah dengan Aruna kamu tidak gugup seperti ini," bisik dokter Rian membuat Abraham melotot tajam ke arah dokter Rian seperti mencabik-cabik tubuh dokter Rian.
Glekkkk..... Tatapan mata itu membuat dokter Rian takut seketika.
"Diam atau mulutmu ku jahit," ancaman itu mampu membuat dokter Rian terdiam.
'Aduh mulutku ini lemes banget, aku harus mengunci mulutku rapat-rapat sebelum Abraham menjahitnya,' guman dokter Rian dalam hati.
Dokter Rian melirik Hendra untuk meminta tolong tetapi Hendra cuek berpura-pura tak melihatnya.
'Si*l asisten sama bos sama-sama kejam,' batin dokter Rian mengumpat ke duanya.
"Ehemmm....." Deheman pak penghulu mengalihkan ke duanya.
"Bisa kita mulai pak?" tanya penghulu melirik ke arah jam yang ada pergelangan tangan nya.
Abraham duduk di samping kanan kiri ada dokter Rian dan Hendra sebagai saksi pernikahan Abraham.
"Baik kalau begitu silahkan jabat tangan pak Tio," perintah pak penghulu yang langsung di ikuti oleh Abraham.
B E R S A M B U N G.....
TEKAN LIKE YA SETELAH MEMBACA.
bab yang dobel masih tahap revisi lagi ya. Ini juga nanti ku panjangkan ceritanya mau mikir lagi.
Semua seperti biasa LIKE ya, Senin nih ada vote gratis gak ya buat ku🤭
Terimakasih atas dukungan kalian semua.