
Setelah urusan nya selesai, Tio bergegas keluar namun saat berada di perkiraan mobil, dia tak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan muda.
Brukk ....
Perempuan itu pun terjatuh namun tersangka justru merasa tak bersalah.
Tio berjalan cuek tanpa memperhatikan wanita itu jatuh ataupun tidak, dia terus melangkahkan kakinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hei punya mata tidak sih," kesal wanita cantik itu sambil mengambil beberapa barang dari tas nya yang tercecer di lantai.
Tio menoleh dan melirik wanita itu sekilas setelah itu dia pergi meninggalkan wanita itu tanpa meminta maaf. Tio tetap berjalan menuju ke arah mobilnya dan Tio langsung masuk ke dalam mobil.
"Dasar pria tak punya hati," grutu wanita itu mencoba berdiri. Wanita itu kesal karena Tio tak berniat menolong dirinya ataupun sekedar meminta maaf pun tidak.
Wanita memandang benci ke arah Tio setelah itu dia pun melanjutkan jalannya. Berkali-kali wanita itu hanya bisa mengumpat di dalam hatinya.
Di dalam mobil...
Tio mengerutkan keningnya kala membuka ponselnya dan ternyata di sana ada beberapa panggilan dari sang bunda.
Tio pun menghubungi nomor sang bunda.
Tut....
Tut....
Tut....
Tut....
Setelah 4 kali akhirnya panggilan itu terhubung.
"Assalamualaikum, ada apa Bun?" Tanya Tio.
"Waalaikumsalam wr wb. Bisakah nanti kamu ajak Amanda mampir ke sini sebentar?" Tanya bunda dari sebrang telephon.
"Nanti Tio coba tanya Amanda ya Bun, takutnya dia ada acara atau kesibukan yang lain," jawab Tio karena dia masih belum bertemu dengan Amanda.
"Ya sudah, kalau begitu nanti bunda tunggu kabar dari kamu,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Setelah itu percakapan antara kedua nya pun terputus.
Tio melirik jam tangannya, memastikan Amanda masih di kampus atau sudah pulang.
Tio mengirim pesan ke pada supir yang di tugaskan mengantar Amanda pulang nanti, Tio tersenyum kala mendapatkan balasan kalau Amanda masih di kampus.
Tio pun melajukan mobilnya menuju ke kampus dengan kecepatan sedang karena siang hari banyak mobil ataupun pengendara roda dua yang sibuk mengantarkan makan siang.
Sesampainya di kampus..
Tio menemui supir yang dia tugaskan tadi, setelah itu Tio menyuruhnya pulang.
Tio dengan santai berjalan menuju kantin karena perutnya sedikit lapar. Tak lupa Tio mengirim pesan kepada sang kekasih kalau dia sudah berada di sini.
Tak lama muncullah Amanda dengan wajah yang sedikit lelah.
"Hai sayang maaf ya tadi aku lama," kata Amanda terlihat tak enak hati.
"Iya tidak apa-apa, aku baru saja sampai kok," jawab Tio tersenyum manis.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu lelah?" Tanya Tio membelai lembut pipi milik Amanda.
"Fyuuuh....." Amanda menghela nafas panjang.
"Pak Budi memberiku tugas begitu banyak," wajah cantik itu cemberut kala mengigat begitu banyak tugas yang menunggu untuk di kerjakan.
"Ya sudah nanti aku bantu sedikit, ayo duduk dulu," bujuk Tio dengan begitu manis.
"Benar," tanya Amanda memastikan.
"Hmm..." Tio pun menarik tangan Amanda untuk duduk di dekatnya karena wanita itu sedari tadi masih setia berdiri.
"Bunda meminta kamu untuk datang ke rumah," kata Tio menyodorkan minuman yang ada di depannya kepada Amanda, minuman itu belum di sentuh oleh Tio.
Amanda menerima minuman itu dan meminumnya.
"Iya aku bisa kok," jawab Amanda pasti.
Amanda mengambil garpu dan menusuk bakso itu memasukkan ke mulutnya.
"Emmmm enak,"
"Kalau kamu mau, aku bisa pesan 1 lagi," kata Tio.
Amanda mengeleng, "He he he he, aku ingin mencicipi saja," balas Amanda cengengesan.
"Ayo kita pulang," ajak Amanda saat melihat mangkuk Tio sudah kosong tak tersisa.
****
Sedangkan di lain tempat....
"Sial..." Pria itu mengumpat kesal karena lagi-lagi rencana yang dia susun rapi semua gagal.
"Kenapa kamu tidak becus mengerjakan semua ini, kamu harus nya bisa mencari orang bisa di andalkan," grutu pria itu.
"Sabar bro, kita susun rencana lagi bagaimana?" Ajak temannya.
"Kamu tahu kan, aku sudah mengeluarkan uang banyak tetapi semua gagal," pria itu mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Sabar Denis, bagaimana kalau kita culik terus kita jual anak tuan Lee sebagai ganti kerugian kita," usul salah satu temannya.
"Hmmm.... Bagus juga, meskipun anak tuan Lee masih berumur 15 tahun tetapi lumayan cantik juga," salah satu temannya ikut menyahuti.
"Ahh terserah kalian saja," jawab Denis setelah itu dia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Denis melajukan mobil miliknya, Denis memilih pulang karena mood nya hari ini tidak begitu bagus.
Sesampainya di rumah Denis pun heran melihat mama dan papa nya tertunduk lesu di ruang tamu.
"Kenapa pa?" Tanya Denis.
"Hancur.... Semuanya hancur, aaaahhhh," pak Rangga berteriak frustasi.
Brakkk....
Vas bunga itu sudah tergeletak pecah di lantai.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks," sedangkan bu Rita hanya tertunduk sedih melihat sang suami mengamuk.
"Apa maksud papa?" Tanya Denis dengan kening mengkerut melihat papa nya melakukan itu semua.
"Kita hancur, perusahaan yang papa bangun diambang kehancuran. Pasti semua itu ulah Abraham sialaaaaan itu," pak Rangga begitu murka kepada Abraham.
"Kenapa bisa begitu? Perusahaan kita tidak tergantung sama mereka," Denis masih binggung.
"Mereka sudah meminta semua investor untuk menarik saham nya dan apa kamu tahu kalau ternyata pemilik 25 persen saham di perusahaan kita adalah Tio pemuda tengik itu, dia telah mengecoh kita," pak Rangga menjelaskan kepada anaknya semua yang baru dia ketahui dari asistennya.
"Dia mempunyai perusahaan juga, dia juga meminta teman nya dan relasinya untuk menarik semua saham di perusahaan kita,"
Pak Rangga menjelaskan semuanya, secara detail. Dia begitu frustasi di buatnya, pak Rangga tak menjelaskan kalau alasan Abraham melakukan semua ini mungkin karena dia telah berani menganggu istrinya.
Pak Rangga tak ingin istrinya marah terlebih lagi semua kekayaan miliknya sebenarnya punya Bu Rita.
Denis mendengar itupun tertunduk di sofa, dia linglung tak percaya perusahaan milik keluarganya diambang kebangkrutan.
'Apa Tio balas dendam kepada ku, aaahh..... Sial bagaimana ini,' batin Denis frustasi.
Denis tak mengira semua ini terjadi, dia tertunduk lemas di sofa meratapi semuanya.
'Andai aku tak menganggu Amanda,'
'Andai aku tak menganggu perusahaan nya melalui tuan Lee,'
'Andai aku tak mencari gara-gara dengan nya,'
Denis hanya bisa berandai-andai meratapi masih buruk yang menghampiri keluarganya. Denis mengacak rambutnya frustasi bagaimana semuanya bisa hancur dalam sekejap.
Denis sungguh tak menyangka kalau Tio mampu melakukan semua ini.
"Hiks hiks hiks hiks, apa salah kita? Apa karena kita dulu melamar Amanda, kenapa mereka melakukan semua itu padahal kita tidak melakukan apa-apa," Bu Rita frustasi.
Denis dan pak Rangga hanya bisa terdiam kaku tak berani mengungkapkan alasan sesungguhnya.
Berbeda dengan pak Rangga dan Denis, Bu Rita masih belum percaya perusahaan keluarganya bisa hancur, ya Bu Rita tak tahu kalau semua ini akibat ulah anak dan suaminya.
B E R S A M B U N G.....