Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 64


Mbak Tina diam temanggung di tempatnya. Veli tersenyum dan memasukkan botol obat berukuran kecil itu ke dalam saku baju nya.


Veli dengan cepat keluar menuju ke arah William bersembunyi.


"Bagaimana?" Tanya William saat Veli sudah tersenyum lebar di samping nya.


"Ha ha ha ha ha beres, tenang saja," kata Veli tertawa jumawa, keduanya tidak tahu ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua sedari tadi.


Cekrek.... Orang itu membidik sasaran dengan bagus. Setelah itu dia menyimpan ponsel itu ke dalam saku celananya.


"Ha ha ha ha ha... Kalian boleh saja tertawa sekarang," guman orang itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Dia berjalan menyusuri trotoar dengan mata memanas.


"Mungkin hanya ini yang bisa menebus semua kesalahanku," lirihnya.


Dia mengusap wajahnya kasar. Berhenti di salah satu kursi yang berjejer di samping trotoar. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi besi itu.


Dia mendongak ke atas menatap langit yang tiba-tiba mendung.


"Ha ha ha ha ha.... Begitu menyedihkan nya nasibku bahkan langit pun ikut meratapi nasibku, semoga dengan ini aku bisa menebus rasa bersalahku. Maafkan aku, aku sudah mendapatkan karma atas perbuatan ku yang dulu, semoga kamu selalu tersenyum bahagia," lirihnya mengusap sudut matanya yang berair.


Dia merogoh saku celananya, mengetik pesan sesuatu kepada seseorang, tak lupa dia mengirimkan foto tadi yang telah dia bidik dengan sangat rapi.


Setelah itu dia pun berdiri, meneruskan berjalan dengan gontai menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Sesekali dia mengusap sudut mata nya yang berair.


"Semoga kamu bahagia sayangku, aku akan selalu mencintai mu," lirihnya.


"Veli akan ku pastikan kamu pergi jauh dari hidupku, cukup selama ini aku mencoba berbaik hati dengan mu dan tak menyakiti mu," geram Jo melihat Veli yang selalu menganggu Arin.


Ya dia sudah merenungi nasibnya, bahkan dia setiap hari di hantui rasa bersalah setelah mengetahui kalau selama ini Arin hidup menderita karena ulahnya. Dia sadar Arin tak di takdirkan untuknya, dia hanya ingin melihat orang yang dia cintai bahagia meskipun kebahagiannya bukan dirinya.


Ya dialah Jo.... Yang sadar, akan semua kesalahannya. Dia ingin menebus semua nya dan memulai hidup yang lebih baik lagi.


Setelah ini dia memutuskan akan berpisah dengan Veli dan membawa anak mereka bersama nya untuk memulai kehidupan yang baru, di tempat yang jauh tanpa ada yang mengetahui siapa dirinya. Jo ingin membuka usaha kecil untuk menghidupi anaknya.


Sedangkan di tempat berbeda...


Abraham tengah memimpin jalannya rapat para pegang saham.


Drrttttttt....


Ponsel Abraham bergetar, namun Abraham masih fokus kepada berkas yang ada di tangan nya, tanpa memperdulikan ponselnya bergetar dari tadi.


Drrrtttt....


Ponsel bergetar untuk kedua kalinya, beberapa pasang mata mengalihkan perhatian nya ke ponsel mahal milik Abraham. Ponsel yang masih bergetar di atas meja.


Abraham menghela nafas panjang....


'Apa Arin yang menghubunginya,' batin Abraham bertanya-tanya.


"Maaf kita akhiri rapat kita sampai di sini, kalau ada yang belum di pahami anda semua bisa menanyakan langsung kepada saya. Terima kasih atas kehadiran anda semua. Selamat siang, " kata Hendra mengakhiri semuanya.


Abraham meraih ponselnya dan berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu kepergian yang lainnya.


Karena penasaran, Abraham pun membuka ponselnya. Dia mengerutkan keningnya melihat nomor yang tak dia kenal mengirimkan pesan foto maupun tertulis kepada nya.


Brukkk.... Tempat sampah di depannya tak luput dari amukannya.


Beberapa karyawan yang melihat itu, memilih pergi menjauh secepat mungkin. Hendra yang melihat itu pun tak berani menegur atasannya itu.


'Apa yang membuat tuan begitu marah,' batin Abraham.


"Hei kamu salah mencari lawan," guman Abraham tersenyum mengerikan.


"Cari tahu apa yang di lakukan William hari ini, sepertinya dia telah lupa siapa aku sebenarnya," perintah Abraham kepada Hendra yang mematung di belakang.


"Si-siap tuan," jawab Hendra.


Setelah itu Abraham pun berjalan dengan langkah lebar menuju ruangannya.


***


Dengan wajah masih binggung, mbak Tina meninggalkan minimarket tak lupa membawa kantong belanjaannya.


Sreekkkk....


Mbak Tina masuk ke dalam mobil, dia memberikan botol minuman kepada kedua bocah kembar itu.


"Mbak Tina kenapa?" Tanya Abrian penasaran karena wajah mbak Tina nampak binggung.


"Tidak apa-apa," jawab nya santai.


Setelah itu hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil.


Pak supir melirik dengan heran. Dia mengambil ponsel di saku baju nya, mengetikkan sesuatu kepada Abraham.


Di kantor Abraham sedang duduk di kursi kebesarannya dengan berbagai macam pemikiran.


Trink.... Satu pesan masuk, membuat Abraham menghela nafas kasar.


'Belum selesai satu masalah, muncul lagi,' batin Abraham kesal.


"Aku harus cepat membereskan mereka, setelah itu aku akan mengajak Arin dan kedua anakku untuk liburan," guman Abraham.


Abraham pun tersenyum sendiri membayangkan bergandengan tangan, menyusuri indahnya pantai.


Abraham pun mengetikkan sesuatu kepada orang kepercayaan lainnya selain Hendra, meminta untuk meretas cctv yang ada di minimarket itu.


Tak lama....


Tring... Satu pesan masuk.


Abraham memutar kiriman video itu.


"Jangan salahkan aku kalau dirimu ku hancurkan, salahkan dirimu yang berani mengusik kehidupanku," guman Abraham menyeringai.


B E R S A M B U N G....


Maaf kalau ceritanya tak menarik, kalian bisa kasih masukan ke aku melalui komen-komen kalian.