
Sampailah mobil yang di kendarai Abraham di mansion mewah miliknya.
Hendra membuka pintu untuk Abraham.
"Ayo turun," ajak Abraham.
"Tidak.... Aku tidak mau," kata Arin bersikukuh tidak mau keluar.
'Orang ini terlihat seperti sudah berkeluarga, atau jangan-jangan dia sudah menikah dan aku di suruh menyerahkan kedua anak ku untuk dia, tidak ..... Ini tidak boleh terjadi, aku harus segera kabur dari sini,' batin Arin.
'Apa itu sebabnya dia tidak mencari ku atau sekedar melihat anak di dalam kandunganku, ya mungkin saja buktinya setelah bertahun-tahun dia baru muncul.... Apa karena istrinya melarangnya?? Ah kenapa aku terlalu percaya diri kalau dia akan bertanggung jawab sedangkan malam itu dia menganggap ku wanita bayaran, sungguh miris kan,' batin Arin tersenyum kecut.
Arin hanyut dalam pikirannya sendiri.
Arin menoleh kesana-kemari mencari cela untuk kabur.
"Jangan pernah berfikir untuk kabur dari sini," kata Abraham tegas.
'Ck ... Dari mana dia tahu aku berniat kabur,' batin Arin.
Pletak..... Abraham menyentil kening Arin.
"Ish sakit om....." Arin mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Apa kamu bilang om? Apa aku ini terlihat begitu tua di mata kamu, enak saja bilang om memang aku om kamu. Panggil aku hubby," kata Abraham menggoda Arin.
Mata Arin melotot mendengar perintah pria di depannya.
"Tidak, hubby itu panggilan untuk sepasang orang yang saling mencintai sedangkan kita baru saja bertemu," protes Arin tak terima.
"Jangan banyak bicara, cepat turun atau akun akan melu**t habis bibir kamu," ancam Abraham.
Arin bergidik ngeri membayangkan nya.
Dengan terpaksa Arin memilih untuk mengikuti pria yang ada di depannya, Arin turun mengikuti Abraham dari belakang seperti anak itik yang mengekori induknya.
"Selamat datang tuan," sapa para pelayan yang berjajar membungkuk di hadapannya.
Arin berdecak kagum melihat kemewahan di depannya, ini seperti istana. Itulah yang Arin pikirkan apalagi begitu banyak pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
'Wah ini rumah apa istana, baru pertama kali aku melihat ini secara nyata. Seberapa kaya orang ini?' batin Arin begitu takjub.
"Hapus air liur kamu," ejek Abraham.
Arin refleks mengelap bibirnya ternyata tidak ada apa-apa. Arin di buat kesal, ingin rasanya Arin memukul orang di depannya.
"Mana ada," protes Arin.
'Dasar pak tua, selalu saja menipuku,' batin Arin kesal.
Sedangkan Abraham mengulum senyum karena berhasil mengerjai wanita di depannya. Seakan Arin adalah mainan baru yang dia miliki.
Andai Abraham bisa menemukan wanita ini sebelumnya.
"Hei jangan mengumpat ku di dalam hatimu," kata Abraham dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Duduk....." Perintah Abraham menyuruh Arin duduk di depannya.
"Kalian semua pergi ke paviliun belakang, kalian semua jangan ada yang ke sini sebelum menunggu pesan dariku. Aku tidak ingin kalian menguping pembicaraanku atau nasib kalian semua akan berakhir hari ini," perintah Abraham kepada para pelayan.
Mereka semua menunduk hormat.
"Baik Tuan ....."
Setelah itu mereka semua berjalan cepat menuju paviliun, mereka senang karena di paviliun mereka bisa istirahat dan bersantai.
"Mana KTP mu," pinta Abraham menyodorkan tangannya.
"Ha buat apa?" Tanya Arin penasaran.
"Jangan banyak tanya, cepat katakan," titah Abraham.
Dengan terpaksa Arin mengambil dompetnya yang ada di saku celananya.
"Nih...." Antara rela dan tak rela menyerahkan KTP itu.
"Abraham memandang KTP Arin dengan teliti, dia melotot saat tahu status Arin adalah janda," tangannya terkepal kuat.
Entah mengapa dia begitu marah.
"Kau sudah memalsukan statusmu, bagus.... Bagus..." Kata Abraham bertepuk tangan.
Prok prok prok prok prok....
Tepukan tangan itu begitu menakutkan untuk Arin.
"Itu bukan urusanmu," ketus Arin.
"Oh kamu melakukan itu untuk menjerat pria hah ......" Tuduh Abraham dengan sinis.
Deg....
Rasanya Arin begitu sakit hati mendengar tuduhan dari Abraham.
"Ya aku adalah wanita bayaran seperti ucapan mu malam itu, jadi aku harus mencari laki-laki sebanyak mungkin itulah pikiranmu. Hiks hiks hiks hiks hiks...... Apa kamu pernah merasakan berada di posisi ku hah.... Aku harus di usir karena hamil di luar karena ulah mu, aku harus berpindah-pindah tempat dan mengaku kalau aku sudah menikah, setelah kelahiran si kembar aku Menganti statusku menjadi janda untuk melindungi kedua anakku supaya tidak di katakan anak haram. Di mana kamu?? Sedangkan aku sendirian mendapat hujatan dari berbagai pihak," Arin meluapkan semua kekesalannya selama ini, tak henti-hentinya dia menunjuk wajah Abraham karena begitu emosi.
Sedangkan Hendra menunduk tak tahu harus berbuat apa, semua bermula dari dia.
"Maafkan aku," hanya itu yang mampu keluar dari bibir Abraham, bibirnya terasa keluh untuk mengucapkan semuanya.
"Ayo kita mulai semua dari awal, ayo kita jemput anak-anak," ajak Abraham.
Deg.... Arin begitu kaget.
Apa laki-laki di depannya itu berkata tulus.
Hening beberapa saat.....
Abraham masih terdiam menunggu jawaban Arin.
Arin seketika teringat dengan William, laki-laki yang hadir di hidupnya, menemaninya dalam waktu tiga tahun terakhir ini.
"Maaf aku tak bisa ....." Jawab Arin menunduk. Tangan Abraham terkepal kuat menahan emosi.
Brakkkk.....
Meja kaca itupun hancur berkeping-keping, sedangkan Arin begitu kaget.
"Cepat cari semua informasi tentang dia, siapa saja yang dekat dengannya," titah Abraham menyerahkan KTP Arin kepada Hendra.
Arin seketika merasa takut....
"Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah bisa di miliki orang lain," kata Abraham penuh penekanan.
Abraham mengibaskan tangannya kepada Hendra. Hendra pun menunduk mengerti, dia pamit bergegas menjalankan tugas nya.
Sedangkan Arin menatap Hendra yang sudah pergi menjauh, Arin pun berdiri dia ingin segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Mau kemana kamu," tanya Abraham dengan nada dingin.
"Pu-lang....." Jawab Arin terbata seketika rasa takut menjalar di sekujur tubuhnya.
"Jadi kamu menolak kesepakatan yang aku berikan?" Tanya Abraham sekali lagi dengan senyum miring.
"A-ku ti-tidak bisa," jawab Arin terbata.
Abraham tersenyum mengerikan.
"Aaaaa......." Teriak Arin saat Abraham mengendong dia dengan paksa menuju ke lantai atas.
"Lepaskan aku ....." pinta Arin.
Buk buk buk buk.... Berkali-kali tangannya memukul punggung Abraham.
Abraham tak menggubris Arin, yang di pikirkan nya hanya supaya Arin tetap menjadi miliknya, dia tak rela kedua anaknya memanggil pria lain sebagai Papa.
Abraham tak akan biarkan itu terjadi, apalagi Arin yang hanya mampu membangkitkan nafsunya itu di miliki orang lain.
BERSAMBUNG....
Hay pagi-pagi update 1 bab dulu ya, satunya nyusul.
Budayakan like ya gaes setelah membaca biar author semangat lajut bab nya.
Seperti biasa ya say goyang jempol nya.
Tekan:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.