
Abraham menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
Abraham menatap sinis ke arah sahabatnya.
Tadi setelah Abraham keluar dari kamar Arin, dia menerima pesan dari asisten Hendra dan mengirim semua data tentang Arin ke ponselnya, dari sanalah dia mengetahui ternyata William dekat dengan Arin beberapa tahun ini. Awalnya Abraham kaget, tetapi Abraham bertekad tidak akan pernah melepaskan Arin untuk siapapun.
"Di mana Ninda?" Bentak William, tatapan marah bercampur tanya mengarah ke Abraham.
Abraham tak menggubris perkataan sahabatnya itu.
"He he he he he....." Abraham justru terkekeh, dia berjalan memasuki ruangan tamu. Dengan santainya dia duduk di sofa, menyalakan ro***k dengan menumpuk kedua kakinya dengan santai.
"Katakan di mana Ninda?" Tanya William untuk ke dua kalinya. Wiliam begitu geram saat Abraham tak kunjung menjawab perkataan nya.
William pun duduk di depan Abraham, menahan emosi.
"Apa urusanmu?" Ketus Abraham sambil menyembulkan asap ro***k ke udara.
"Ada urusan apa sehingga kamu menculik kekasihku?" tanya William.
"Aku katakan kalau dia bukan kekasihmu," sinis Abraham.
"Apa maksudmu?" Teriak William tak terima.
"Akan ku katakan satu hal yang perlu kamu tahu, dia adalah Arin....." Ucapan Abraham membuat William mengerutkan keningnya belum memahami.
"Arin..... wanita yang selama ini aku cari dan dia adalah ibu dari anakku," jelas Abraham dengan sorot mata dingin.
Deg... Deg... Deg
Ucapan Abraham membuat William tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya seketika lemas.
William bimbang. Apa yang akan dia lakukan, tetap mempertahankan Arin atau justru menyatukan keluarga kecil itu.
William berada dalam dilema, tanpa berkata apapun dia keluar dari rumah Abraham dengan lemas, seakan raganya hilang.
Kebenaran yang menyakitkan, sahabat dan orang yang dia sukai ternyata saling berhubungan.
Dengan menahan sesak di dada, William masuk ke dalam mobilnya.
"Aaaaaa.... Bre****k," teriak William penuh emosi.
"Aku tak akan melepaskan Ninda maupun Arin karena dia adalah wanita yang bisa membuatku mengenal cinta untuk kedua kalinya. Maaf Abraham tuk kali ini aku tak akan mengalah kepadamu untuk ke dua kalinya, tak akan ku biarkan kamu memiliki Arininda untuk selamanya," guman William dengan tatapan sulit di artikan.
William melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mansion mewah Abraham.
Setelah kepergian William....
"Tuan apa perlu saya menyuruh anak buah kita mengikuti tuan William," tanya asisten Hendra yang baru muncul dari luar.
"Ha ha ha ha..... Ternyata kamu dari tadi menyaksikan semuanya," kata Abraham tertawa.
'Semoga tuan tidak marah karena kelancangan saya menemui tuan Abraham tanpa pemberitahuan, saya takut terjadi apa-apa dengan Tuan,' batin Hendra.
Meskipun Abraham terkenal dingin nan kejam di dunia bisnis tetapi bagi Hendra, Abraham adalah malaikat untuk dia. Dia yang dulu menyelamatkan Hendra saat remaja, dimana dia ketahuan mencuri sampai babak belur di hajar warga.
Abraham bagi Hendra adalah dewa penolong, Abraham memberikan perkejaan sampai menyuruh Hendra melanjutkan kuliah dan membiayai semuanya tanpa kecuali orang tuanya di kampung. Yang bisa Hendra berikan adalah kesetiaan.
"Maafkan kelancangan saya Tuan, saya segera kesini setelah tahu kalau Tuan William telah melihat rekaman cctv yang berada di minimarket itu tuan. Maafkan keterlambatan saya menghapus semua rekaman di sana," jelas asisten Hendra menunduk.
"Ini semua bukan salahmu, cepat atau lambat dia pasti mengetahuinya. Ternyata wanita itu pintar bersembunyi sampai selama ini, bahkan semua anak buah yang kita kerahkan kecolongan. Ternyata dia berada di dekat kita selama ini sedangkan kita mencari dia di sekitar kampung itu," ucap Abraham mengakui kehebatan Arin dalam bersembunyi.
"Iya tuan, langkah apa yang akan Tuan ambil saat ini? Bagaimana dengan kedua anak tuan," Hendra ingin tahu apa yang akan tuannya lakukan.
"Kamu awasi semua gerak-gerik dia dan jangan pernah kamu lengah," perintah Abraham tegas setelah itu dia mengibaskan tangannya menyuruh asisten Hendra untuk pergi.
"Aruna... Untuk ke dua kalinya aku harus bersaing dengan sahabat ku sendiri. Kenapa kami selalu di takdirkan menyukai wanita yang sama," lirih Abraham mengingat mendiang sang istri yang telah 8 tahun meninggalkan dirinya.
"He he he he.... Aku tidak akan melepaskan Arin, tak kan ku biarkan anak-anak ku memanggil orang lain dengan sebutan papa," kata Abraham menatap ke arah langit yang nampak gelap.
Abraham pun menutup pintu tak lupa mengunci nya. Dia melangkah menuju ke arah tangga menaiki dengan langkah cepat, tubuh dan otak nya terasa lelah.
BERSAMBUNG....
Bonus buat yang kangen...🤭🤭🤭
Budayakan setelah membaca tekan Like ya.
Jangan lupa:
~Like
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.