
"A-manda?" Tio sedikit tergagap dia masih terlihat kaget karena Amanda tepat berada di depan nya dengan wajah terlihat khawatir. Jujur Tio tak menyangka gadis cantik ini mengunjungi dia saat ini.
'Wajahnya begitu mengemaskan kalau dia gugup begitu,' batin Tio mengangumi wajah Amanda.
"Bagaimana, apa masih sakit?" Tanya Amanda, mata nya fokus ke luka perban yang ada di tubuh Tio.
"Eh...." Pertanyaan Amanda membuyarkan lamunan Tio seketika itu. Tio pun menormalkan wajahnya menjadi datar.
Uhhh sungguh menyebalkan di lihat-lihat oleh Amanda.
'Tuh wajah tidak bisa di buat manis begitu ya,' batin Amanda.
"Tidak, ini hanya luka kecil," jawab Tio enteng.
"Kamu anggap ini hanya luka kecil," kata Amanda mengelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ucapan pria tampan itu.
Luka itu terlihat cukup mengerikan bagi Amanda, sungguh apa yang di pikirkan Tio sehingga luka besar itu dianggap kecil.
"Iya luka ini tak seberapa sakit, yang lebih menyakitkan adalah melihat mu dekat-dekat dengan laki-laki lain," lirih Tio melempar gombalan ke pada Amanda.
"Eh...." Amanda menatap Tio dengan heran.
'Ha dia seperti orang sedang cemburu,' batin Amanda menebak isi hati pria pujaannya itu.
'Hah ada apa dengan laki-laki ini, kenapa tiba-tiba dia bisa berbicara seperti itu,' guman Amanda di dalam hati menatap wajah Tio secara jelas untuk menebak apa yang sedang pria tampan itu pikirkan.
"Iya aku cemburu kamu dekat-dekat dengan pria manapun sekalipun itu tukang ojek atau penjual cilok sekalipun," kata Tio mengungkapkan isi hatinya.
"Hah..." Amanda di buat terkejut mendengar kata Tio.
'Apa dia benar-benar cemburu?' batin Amanda menyimpulkan kalau Tio sedang cemburu.
"Ah gak mungkin dia cemburu," ceplos Amanda tak lupa dia mengeleng kepalanya sebagai tanda kalau pria di depannya saat ini tak mungkin di landa rasa cemburu.
"Iya aku cemburu," kata Tio tegas setelah mendengar kalau Amanda mungkin kelepasan berbicara.
Deg deg deg deg deg.... Amanda memegang dadanya dengan sedikit gugup.
Amanda melotot di buatnya, dada nya berdebar kencang. Bolehkah saat ini Amanda di buat melambung mendengar ucapan kalau pria pujaan nya itu tengah dilanda rasa cemburu.
'Eh cemburu kan tandanya cinta, apa Tio benar-benar cinta sama aku,' batin Amanda.
"Iya aku cemburu, apa kamu masih tidak percaya," kata itu terlontar dari mulut Tio seakan dia tahu apa yang di pikirkan wanita cantik itu, Tio tahu dari wajah Amanda kalau saat ini Amanda masih meragukan cinta nya saat ini.
Amanda diam tak tahu harus berbicara apa, dia seakan binggung untuk menjawab apa.
"Sini," pinta Tio ingin Amanda mendekat ke arahnya saat ini.
Deg deg deg deg deg deg...
Sungguh Amanda di buat berdebar oleh semua ucapan-ucapan Tio, laki-laki ini sungguh terlihat manis meskipun wajahnya sungguh menyebalkan dingin dan datar.
"A-ku di sini saja," tolak Amanda dengan gugup, tangannya terasa dingin seketika.
"Cepat sini, jangan banyak protes," perintah Tio seolah ini adalah titah yang tak bisa di lawan.
Mau tak mau Amanda harus menuruti permintaan Tio saat ini, meskipun dia ingin menolak.
'Huu dasar pemaksa, untung cinta kalau tidak sudah remas-remas tuh wajah,' batin Amanda membrengut kesal.
'Ah bibir itu ingin sekali ku kecup, bagaimana ya rasanya,' batin Tio tiba-tiba giliran kotor hinggap di kepalanya.
Tio mengeleng menyadarkan dirinya seolah itu pikiran yang salah.
Tio tersenyum begitu manis melihat Amanda berjalan melangkah ke arah nya.
Amanda pun mendekati ranjang Tio, namun dia terdiam sesaat dia terpanah melihat senyum manis Tio.
'Aaahhh rasanya aku ingin meleleh di buatnya,' batin Amanda terpesona oleh senyum manis Tio.
Tio meraih tangan Amanda dan menaruhnya di dada. Tio ingin Amanda benar-benar percaya kepadanya, Tio ingin Amanda tahu kalau dia tulus bukan di buat-buat atau karena tampilan Amanda yang tidak cupu seperti dulu.
"Dengarkan suara ini, itu menandakan hanya saat bersamaan dengan mu dadaku berdebar kencang. Dulu sempat ku tepis rasa ini namun, aku tak percaya aku bisa jatuh cinta dengan gadis cupu seperti mu namun saat ini aku sadar, bukan karena kamu berubah lebih cantik tetapi aku sakit melihat kamu berbicara dengan Rio seperti itu, sempat aku berfikir kamu cuma memperalat ku dan Rio, ya kupikir dulu kamu mempermainkan ku. Kamu menjerat kita berdua dalam cintamu namun ternyata semua pikiran itu tak benar. Jujur.... Amanda aku jatuh cinta kepada mu dari dulu," jelas Tio panjang lebar mengungkapkan perasaan nya.
Amanda menutup mulutnya, dia tak bisa berkata apapun saat ini, jujur dia terharu mendengar Tio mencintainya.
"Aku bukan pria yang romantis mungkin terkesan kaku dan pemaksa tetapi inilah aku jadi jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku lagi," lirih Tio.
Amanda mengangguk, Tio pun membawa gadis cantik itu dalam pelukannya.
"Eh pacar ku tidak boleh menangis nanti jelek," ledek Tio supaya Amanda berhenti menangis.
"Ish apaan sih," Amanda memukul pelan pundak Tio.
"Aduh..." Tio berpura-pura mengaduh kesakitan.
"Maaf maaf," Amanda pun melihat ke arah bekas luka Tio yang di perban takutnya ada yang berdarah.
"Tidak apa-apa," Tio pun menarik Amanda lagi kedalam pelukan nya.
****
Sedangkan di luar pintu Abraham mengelengkan kepalanya melihat dua orang, ya kakak beradik itu tengah menguping dan mengintip pembicaraan interaksi keduanya di dalam sana.
"Hei kenapa mereka berdua terlihat bukan seperti sepasang kekasih?" Tanya Arin berbisik.
"Tuh adik kakak saja yang telat mengungkapkan perasaan, dasar es batu," jawab Rio tak lupa mengatai saudaranya itu.
"Hei itu kembaran mu," kesal Arin menjitak kepala sang adik.
"Aduh kak sakit," Rio mengaduh kesakitan.
"Suka banget sih menjitak kepalaku, nanti kena undang-undang kekerasan dalam rumah tangga loh," grutu Rio mengusap kepalanya yang sedikit sakit akibat jitakan sang kakak.
"Kak Abraham, amankan istri mu yang bar-bar ini," protes Rio melirik ke arah kakak iparnya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
Abraham hanya melirik sekilas, dia langsung fokus lagi ke ponselnya.
"Sudah jangan berisik atau ku jewer lagi tuh telinga," ancam Arin. Dia tak ingin aksinya itu di ketahui Tio bisa-bisa dia akan malu di buatnya.
"Iya iya," jawab Rio malas.
Mereka berdua pun melanjutkan aksinya menguping lagi.
Abraham melotot saat ada beberapa dokter maupun suster yang lewat di sana, semua di buat menunduk tak berani menegur atau bahkan melirik ke arah Arin dan Rio.
B E R S A M B U N G.....