Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 79


Arin memandang sendu Abraham, Arin takut Abraham tak menerima kehadiran bayi nya.


Arin sempat berfikir, dulu Abraham terpaksa menikah dengan nya karena adanya si kembar, Arin berfikir saat melihat ada kekecewaan di wajah si kembar.


'Apakah dia tidak suka dengan kehamilan ku saat ini, kenapa wajah nya tak begitu bahagia,' batin Arin sekali lagi.


Meskipun Abraham sudah bilang kalau dia ingin bayi kembar tetapi Arin berfikir berbeda.


Arin langsung menunjukkan wajah sedihnya. Tanpa di duga air matanya meluncur tanpa Arin sadari.


Abraham menyadari itu, dia dengan cepat mengengam tangan Arin.


"Sayang kenapa kamu sedih?" Tanya Abraham kepada Arin.


Arin tak menjawab pertanyaan Abraham, tiba-tiba Arin begitu kesal melihat wajah sang suami.


Arin mendiamkan Abraham.


Abraham tak menyadari kesalahannya, Abraham tak tahu kalau bumil dalam keadaan sensitif.


"Maaf Tuan, tetapi ibu hamil itu sensitif sifatnya suka berubah-ubah jadi mohon Tuan bisa memahami istri anda," kata dokter Esta menjelaskan.


"Oh ya Bu Arin bisa lihat semuanya baik-baik saja, ibu juga bisa mendengar kan detak jantungnya," jelas dokter Esta membuat sebuah senyuman terbit di bibir Arin.


Setelah selesai, Arin pun turun dari ranjang.


"Ayo sayang," kata Abraham mengulurkan tangannya untuk membantu Arin. Namun Arin menepis tangan Abraham membuat Abraham melotot tak percaya.


"Sayang...." Lirih Abraham memelas, karena Abraham takut kalau dia marah justru Arin akan semakin mendiamkan dirinya atau bisa lebih dari itu.


"Suster tolong bantu saya," pinta Arin kepada suster yang berdiri di samping dokter Esta.


Arin meminta bantuan oleh suster yang berdiri di sebelah dokter Esta, karena Arin sedang kesal dengan Abraham.


Suster itu menatap dokter Esta seolah meminta pendapat, dokter Esta pun mengangguk agar suster membatu Arin.


Suster dengan cekatan membantu Arin turun dari ranjang dengan hati-hati karena ranjang pasien ini cukup tinggi.


Setelah itu suster pamit karena ijin ke toilet.


'Kenapa dia ngambek, apa aku buat salah,' batin Abraham. Dia mengusap hidungnya sekilas.


Abraham pun duduk di samping Arin yang tengah mendengar kan penjelasan maupun nasehat dari dokter Esta.


"Apa ada keluhan Bu?" tanya dokter Esta ramah.


"Saya sering merasa mual sama pusing di pagi hari," jawab Arin mengingat apa saja yang dia alami.


Abraham terdiam mendengar keduanya berbicara. Abraham yang mendengar itu pun tiba-tiba menjadi sendu.


"Oh itu biasa terjadi Bu Arin, itu wajar di alami kebanyakan wanita hamil. Nanti saya kasih vitamin dan obat buat meredakan mual dan pusing," kata dokter Esta.


"Oh... Padahal kehamilan saya dulu tidak mual maupun pusing dan saya masih beraktivitas seperti biasanya seperti sebelum hamil," kata Arin mengingat kehamilan nya dulu.


Tiba-tiba Abraham teringat kehamilan si kembar dulu, Abraham tak ada di sampingnya. Dulu dirinya lah yang mengalami mual dan pusing di pagi hari.


'Andai aku bisa mengantikan mu sekali lagi pasti aku senang karena aku tak tega melihat mu mual, pusing bahkan tak berselera makan,' batin Abraham.


"Iya Bu, mungkin dulu anak dalam kandungan ibu mengerti kondisi ibu nya, kalau sekarang mungkin ingin lebih di manja atau di perhatikan karena kehamilan berbeda-beda tergantung mood bumil juga," jawab dokter Esta di selingi candaan.


Tiba-tiba Abraham maupun Arin terdiam, kedua hanyut dalam pikirannya masing-masing membuat dokter Esta tidak enak hati.


"Bu Arin sebaiknya jangan banyak beraktivitas berat-berat dulu karena bayi dalam kandungan ada masih rentan," kata dokter Esta mencairkan suasana.


"Ini resep vitamin di minum setiap hari, rutin yang Bu. Jangan lupa susu kehamilan juga, jaga pola makan sehat sering konsumsi buah juga ya Bu," jelas dokter Esta untuk kedua kalinya.


"Oh ya Dok, apa jenis kelamin anak saya?" Tanya Abraham yang sedari tadi penasaran.


Arin menepuk keningnya karena mendengar ucapan Abraham.


'Hadehhh suamiku malu-maluin saja,' guman Arin dengan kesal di dalam hati nya.


Dokter Esta tersenyum mendengar kata ucapan Abraham yang seakan tak sabar. Dokter Esta memaklumi pertanyaan dari Abraham, ya dokter Esta tahu semua tentang Arin dan Abraham dari dokter Rian.


"Nanti Tuan tunggu setelah kehamilan memasuki usia 5 bulan anda bisa melihat jenis kelamin bayi nya," jelas dokter Esta.


Abraham mengangguk mendengar penjelasan dari dokter tadi.


"Ini Bu buku kehamilan nya, jangan lupa ibu kembali lagi bulan depan," kata dokter Esta menyerahkan buku kehamilan Arin.


"Terimakasih dok," kata Arin berdiri hendak menyalami dokter Esta.


Namun Abraham yang baru pertama kali mengantar Arin di buat penasaran ingin bertanya banyak hal tetapi Arin sudah ingin pergi, mau tak mau Abraham juga mengikuti Arin meninggalkan ruangan dokter Esta.


"Sayang ayo kita pulang, biarkan Bimo yang menebus resepnya," ajak Abraham.


Abraham melihat antrian di apotik pun menjadi malas, dia tak ingin mengantri jadi membiarkan Bimo saja yang mengurusnya.


Arin melirik Abraham saja, karena Arin sedikit kesal melihat wajah Abraham tadi.


Arin pun mengikuti Abraham masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil....


Abraham menatap Arin dengan binggung, apa yang membuat istri nya ini tiba-tiba jutek kepadanya.


"Sayang apa aku buat salah?" tanyanya kepada sang istri.


"Pikir saja sendiri," jawab Arin acuh membuat Abraham mendelik tajam.


'Sabar Abraham, inget dia sedang mengandung anak mu jangan sampai membuat bumil ini semakin emosi,' batin Abraham mencoba bersabar.


B E R S A M B U N G....