
"Sudahlah Don biarkan saja mereka. Tuh muka jangan cemberut mulu. Jelek.... Ha ha ha ha ha ha ha ha....." kata Bimo menepuk pundak Doni tak lupa mengelengkan kepalanya karena lucu melihat tingkah Doni sedari tadi.
Doni bukan tersinggung mendengar Bimo mengatakan dirinya jelek, Doni tahu kalau Bimo cuma bercanda.
"Ck mereka membuatku iri saja, pasti mereka sengaja," jawab Doni.
"Mereka bukan sengaja, tetapi mereka itu masih mabuk asmara kayak kamu dulu. Apa kamu lupa dulu siapa yang lebih parah, bahkan tiap menit menghubungi istrinya," sinis Bimo menyindir Doni.
"He he he he he he, dulu kan beda," elak Doni.
"Sama saja," dengus Bimo.
" Melihat mereka berdua sedari tadi buat ku jadi kangen istriku," kata Doni dengan sendu seolah mengungkapkan perasaan nya saat ini.
"Memang si Tina masih di kampung?" Pertanyaan itu pun meluncur bebas dari mulut Bimo.
"Hmmm...." Jawab Doni malas.
Tio pun berjalan melewati Doni dan Bimo.
Dengan sengaja Tio mengandeng tangan sang kekasih melewati Bimo dan Doni.
"He he he he he, maaf ya bang maklum anak muda," ungkap Tio seolah meledek dirinya, dengan cepat berlari mengandeng tangan Amanda.
"Huuu.... Dasar," kesal Doni.
"He he he he he he," Bimo terkekeh melihat keusilan Tio.
"Sabar Don, nanti juga ketemu Minggu depan," kata Bimo supaya Deni lebih bisa menahan kesal nya.
"Ya kamu sih enak berbicara begitu, kamu kan belum merasakan kalau di tunggal istri pulang kampung selama satu bulan," jawab Doni mendengus kesal.
"Ya kan aku belum menikah," kata Bimo meledek Doni.
"Awas kamu, semoga kamu merasakan juga nanti. Bagaimana rasanya di tinggal istri selama satu bulan," Doni menggerutu tak jelas.
Bimo pun berlari meninggalkan Doni yang masih menggerutu kesal.
"Tidak akan," jawab Bimo sedikit berteriak.
"Ku do'akan semoga kamu lebih bucin dari ku," jawab Doni berteriak.
"Dasar lebay," guman Bimo menatap Doni dari kejauhan.
*****
Semua sudah masuk ke dalam vila, bunda , Tio dan Amanda masih duduk bersantai di ruang tamu.
Vila milik Abraham terlihat bersih dan terawat karena Abraham mempekerjakan 2 orang. Mereka pasangan suami istri, yang di tugaskan untuk menjaga dan merawat vila ini. Yang satu sebagai tukang kebun dan satu nya lagi sebagai art bertugas untuk membersihkan vila, art itu juga harus memasak kalau Abraham beserta keluarganya datang ke sana.
"Amanda kamu istirahat saja kalau lelah," kata bunda kasihan melihat wajah Amanda yang sepertinya lelah.
"Tidak Bun, tadi aku sudah tidur di mobil kok," jawab Amanda menolak.
"Bunda, Tio dan Amanda kalau kalian lelah istirahat saja, kita ke pantai sore saja karena aku tidak mau Aurel kelelahan," kata Abraham berlalu menuju ke dalam kamar nya dan Arin.
Bimo dan Doni sudah masuk ke dalam kamar nya masing-masing, Doni memilih tidur dan Bimo memilih membaik ponselnya untuk mengirim pesan kepada kekasihnya yang tak lain adalah dokter Esta. Untung vila ini cukup besar nyaman dan mempunyai kamar yang banyak sehingga mereka semua tak akan binggung kalau membawa banyak orang.
Abraham menyuruh beberapa bodyguard untuk membeli beberapa bahan untuk acara nanti malam. Abraham ingin mengadakan barbeque nanti malam di halaman belakang vila.
****
Ceklek...
Abraham tersenyum saat melihat Arin yang sedang bermain dengan baby Andra. Sedangkan Aurel dan Abrian sudah terlelap dalam mimpinya karena kelelahan.
"Sayang..." Abraham memanggil Arin.
"Ayo sini," Arin menepuk tempat tidur di samping kanan seolah meminta sang suami intuk ikut bergabung dengan mereka.
"Ada apa hmmm?" Tanya Abraham.
"Lihatlah dia begitu senang sepertinya saat kita mengajak nya jalan-jalan," kata Arin menunjukkan betapa senangnya baby Andra.
Abraham menoleh ke arah sang istri cantik nya itu.
"Apa kamu juga senang sayang?" Tanya Abraham mengusap lembut pipi sang istri.
"Hmm ..... Terimakasih sayang," jawab Arin tersenyum.
"Aku senang melihat bunda, Tio dan si kembar yang tertawa lepas, kira bisa menghabiskan waktu seharian bersama. Terkadang untuk bertemu saja kita tidak bisa setiap hari. Apa lagi sebentar lagi Tio akan lulus dan menikah," jelas Arin membuat Abraham mengangguk.
Memang benar yang di katakan oleh istrinya.
"Istirahat lah aku tak ingin kamu kelelahan, nanti sore kita ke pantai," pinta Abraham.
"Bagaimana dengan baby Andra, dia bahkan tidak ada tanda-tanda mengantuk," kata Arin melirik sang anak yang tertawa dan mengoceh tak jelas.
"Biar si mbak yang mengurusnya," jawab Abraham.
Melihat sang istri yang engan menjawab, Abraham pasti tahu kalau Arin tak ingin membawa sang anak ke pengasuhnya.
"Ya sudah kamu tidurlah, pasti dia juga ikut tidur," kata Abraham.
Arin pun mengangguk setuju, dia pun memberikan susu dan menepuk-nepuk bayi gembul itu.
Abraham pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang anak.
Sore pun tiba....
"Sayang bangun...." Berkali-kali Abraham mengusap lembut pipi sang istri.
"Emmm...." Arin mengeluh, matanya perlahan terbuka.
"Ayo mandi, sudah jam 3 sore waktunya kita ke pantai," ajak Abraham.
Arin menerjab matanya, menatap sekeliling ternyata sudah sepi tidak ada anak-anak.
"Kemana anak-anak?" Tanya Arin.
"Oh mereka sudah di bawah, nanti baby Andra biar di sini saja," kata Abraham.
"Iya,"
"Cepat mandi, mereka menunggu kita,"
"Kenapa dadakan bangunin nya, aku masih mengantuk," jelas Arin beberapa kali menguap.
"Ya sudah ku suruh Bimo antar mereka dulu, kita bisa menyusul saja," putus Abraham.
Arin pun bergegas ke kamar mandi.
Sedangkan Abraham menghubungi Bimo meminta untuk mengantar, bunda, Tio, si kembar dan Amanda terlebih dahulu.
Sepuluh menit Arin pun keluar dari kamar mandi, dia melilitkan handuk di tubuhnya seraya membuka lemari mencari baju yang cocok untuk dia kenakan saat ini.
Akhirnya pilihan Arin jatuh pada, baju berwarna putih dengan motif bunga kecil.
Arin berdandan senatural mungkin.
Ceklek...
Abraham terpesona melihat sang istri yang begitu cantik seperti remaja saja. Tiba-tiba Abraham tak ingin membawa sang istri ke pantai. Abraham takut istri cantik nya itu di lirik pria-pria.
"Sayang kenapa kamu cantik sekali, aku tidak rela melihat mu di lirik siapapun," Abraham tiba-tiba memeluk sang istri.
"Aku cuma berdandan seperti biasa," jawab Arin mengerutkan keningnya.
"Aku cemburu," Abraham cemberut menatap bayangan sang istri di cermin.
"Ha ha ha ha ha, ada-ada saja sih sayang. Ayo jangan aneh-aneh. Lagian siapa coba yang mau melirik ibu 3 anak secara di sana pasti banyak wanita cantik," jawab Arin menarik Abraham ke luar kamar.
B E R S A M B U N G.....