
"Sayang apa ada yang sakit?" Tanya Abraham membolak-balikkan tubuh Arin mengecek setiap inci tubuh sang istri. Keduanya saat ini sedang berada di kamar.
"Tenang saja mas, tidak apa-apa kok," jawab Arin meyakinkan sang suami kalau dirinya baik-baik saja.
" Sayang, aku cemas mendengar laporan dari salah satu bodyguard kira kalau kamu di culik rasanya duniaku seakan runtuh, aku tak bisa jauh dari mu sayang. Pokoknya mulai hari ini aku akan menempatkan bodyguard bayangan lebih banyak untuk menjaga mu dan anak-anak. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi," kata Abraham sambil memeluk Arin dengan begitu posesif, sungguh Abraham tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sesuatu terjadi dengan istri dan anaknya kemarin.
"Maaf sayang ini bukan salahmu ini semua adalah salahku karena aku begitu ceroboh sehingga tidak atau lebih tepatnya kurang waspada karena mereka begitu meyakinkan kalau mereka adalah orang suruhan mu dan dengan bodohnya aku percaya tak memperhatikan kalau tampilan mereka berbeda dari Bodyguard kita ," ucap Arin dengan nada yang begitu bersalah.
"Tadi saat berada di sana, jujur aku begitu takut terjadi sesuatu pada anak-anak, tetapi aku yakin kalau kamu akan datang untuk menyelamatkanku," sambung Arin memeluk sang suami dengan begitu erat seolah takut kehilangan.
"Ssstttt.... Kamu jangan berbicara macam-macam, semuanya sudah terjadi yang penting kamu dan anak-anak selamat," jawab Abraham mengelus kepala Arin dengan penuh kasih sayang.
Tok tok tok tok tok...
"Maaf Tuhan mengganggu di bawah ada asisten Hendra sedang menunggu anda, katanya ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan," kata salah satu art mengetuk pintu kamar Abraham.
"Suruh dia menunggu sebentar," jawab Abraham dari dalam kamar.
Abraham memeluk Arin dan melayangkan ciuman bertubi-tubi ke arah wajah sang istri saat ini.
"Lepaskan," Arin mencoba memberontak meminta Abraham untuk melepaskan pelukannya.
"Ck..." Abraham berdesak kesal karena kesenangannya diganggu.
"Sudah sana turun ditunggu oleh Hendra, kasihan kalau dia terlalu lama menunggu mungkin ada urusan penting," kata Arin.
"Awas saja kalau yang disampaikan tidak penting akan ku buat perhitungan dengannya," grutu Abraham dengan nada begitu kesal.
Sedangkan Arin hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa mengemaskan nya sang suami saat tengah mengomel tak jelas.
Abraham memasang wajah masanya karena saat dirinya sedang asyik bermesraan dengan sang istri di ganggu dengan kedatangan Hendra di rumahnya sore hari. Menurutnya kedatangan Hendra tidak tepat waktu saat ini.
Tap tap tap tap tap...
Abraham berjalan mendekati Hendra.
"Tuan..." Hendra berdiri dan menyapa tuan nya saat ini.
"Ada perlu apa sampai-sampai kamu datang menganggu kesenanganku," Abraham bertanya di sertai dengan kekesalan, dia masih menatap sinis ke arah Hendra saat ini.
Glekkk...
Hendra merasa tenggorokan nya kering seketika mendengar ucapan dari Abraham.
"Tu-tuan se-sebe-narnya saat ini ada seorang wanita yang telah berlaku kasar ke nona kecil," kata Hendra dengan susah payah.
Brak...
Abraham mengebrak meja dengan tatapan marah.
" Aurel maksud mu? Hah...." Tanya Abraham memastikan dan Hendra menjawab dengan anggukan kepala.
"Bukannya dia sedang membeli es krim bersama dengan Tio," kata Abraham.
"Iya tuan,"
"Coba kamu jelaskan, karena tak mungkin Tio membiarkan Aurel di sakiti siapapun," kata Abraham menggebu-gebu.
"Dari laporan cctv yang sudah saya terima, nona Aurel saat itu sedang asyik memilih es krim sedangkan Tio memilih menunggu di kasir, saat...." Hendra engan melanjutkan ceritanya, dia melirik ke arah Abraham beberapa kali.
Glek...
Tatapan Abraham membuat Hendra ketakutan, dia ragu-ragu memberitahu kalau nona kecil nya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Cepat katakan, jangan membuat ku menunggu," Abraham membentak Hendra karena sedari tadi Hendra terdiam engan meneruskan ceritanya.
Glekkk...
"Nona Aurel tanpa sengaja menabrak seorang wanita," jawab Hendra.
"Terus apa masalahnya?" Abraham memutar bola matanya malas karena melihat Hendra cerita Hendra yang berputar-putar tak jelas.
"Be-begini tuan," Hendra tercekat seakan tenggorokannya kering kesulitan untuk berbicara.
Glek...
Hendra gemetar ketakutan.
'Ah sebaiknya aku serahkan saja video yang diambil dari cctv itu daripada aku binggung harus mulai cerita dari mana. Untung saja Tio segera bilang padaku kalau tidak aku tidak akan bisa menyuruh salah satu bodyguard tadi memeriksa cctv di sana,' batin Hendra bernafas lega karena muncul ide yang bagus.
Hendra pun menyerahkan ponselnya.
"Apa maksud semua ini?" Tanya Abraham binggung pasalnya Hendra menyerahkan ponselnya saja.
"Ya agar tuan bisa melihatnya," jawab Hendra.
Brakk....
Abraham mengebrak meja dengan kesal.
"Kamu mau mengerjai saya?" Kata Abraham melotot.
"Masa tuan gak bisa lihat tuh video," jawab Hendra menyeka keringat di dahi nya.
Abraham melotot menunjukkan ponsel Hendra karena binggung.
Hendra yang melihat itupun menepuk keningnya karena lupa.
"He he he he he he he, maaf tuan lupa," jawabnya cengengesan membuat Abraham kesal di buatnya.
Hendra pun mengotak-atik ponselnya setelah itu menyerahkan nya kepada Abraham.
"Ini tuan, seseorang telah membuat nona Aurel menangis, tuan bisa lihat sendiri," kata Hendra dengan hati-hati.
Abraham mengertakan giginya, rahangnya mengeras dengan tangan terkepal erat. Sorot matanya memerah tajam membuat siapapun yang melihatnya saat ini pasti akan ketakutan.
Hendra merinding di buatnya, dia dalam sehari melihat tuannya begitu marah.
Brak....
Untuk kedua kalinya Abraham mengebrak meja, beberapa art yang lewat memilih berjalan cepat memilih kabur dari hadapan Abraham saat ini agar mereka tidak terlena amukan sang majikan nya itu.
Sedangkan bunda yang kamarnya tak jauh dari sana mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Pasti urusan pekerjaan," guman bunda memilih keluar menemui sang cucu karena dia tahu Cucu kesayangan sudah pulang.
"Cepat kita ke sana, aku tidak terima dia menghina anakku. Memang dia pikir dia siapa?"
"Akan ku buat dia menyesal,"
"Cepat siapkan mobil, aku akan menemui istriku sebentar,"
Setelah berbicara seperti itu Abraham berjalan cepat menuju ke arah kamar.
Sedangkan Hendra keluar dari ruang tamu mengatur agar Abraham tiba di sana tepat waktu. Hendra pun menghubungi beberapa bodyguard yang di tempatkan di sana atau lebih tepatnya bodyguard yang mengikuti Tio tadi. Hendra meminta mereka untuk mengulur waktu.
Ceklek...
Mendengar suara pintu terbuka Arin melirik ke arah sang suami.
"Sayang, aku harus pergi. Ada sesuatu yang penting harus ku urus," kata Abraham mencium kening Arin.
"Iya hati-hati, jangan pulang terlalu malam," kata Arin.
"Hmm..."
Setelah itu Abraham mengambil ponsel, dompetnya yang ada di atas meja, dia pun bergegas keluar. Abraham berusaha menahan emosi agar sang istri tidak curiga kepada nya.
Tap tap tap tap tap tap tap....
"Ayo," ajak Abraham setelah sampai di depan.
Hendra berjingkat kaget melihat Abraham yang sudah berada di belakang nya. Dengan sigap Hendra membuka pintu mobil.
B E R S A M B U N G....